The Last Sunset

image
This is my last sunset.

Posting-an kali ini sebenarnya masih bertalian dengan kisah sebelumnya. Berhubung kemarin saya cerita soal keseruan di Hutan Pinus Mangunan yang berada di Bantul, sekalian aja deh bagi-bagi pengalaman seputar destinasi di daerah tersebut.

Kalau berbicara Bantul, yang terpikir adalah Pantai Parangtritis. Kemudian ada tetangganya Pantai Parangkusumo juga Pantai Depok. Tapi nama-nama tersebut bisa dikatakan sebagai objek favorit sekaligus lazim untuk dikunjungi. Jadi waktu trip tahun baru kemarin, saya menawarkan dua pantai ke dalam itinerary perjalanan gerombolan si berat.

Sebenarnya dua pantai ini nggak baru-baru banget sih. Cuma makin diperhatikan ketika. kawanan pejalan mulai mempertunjukkan kecantikannya di media sosial. Keduanya adalah Pantai Goa Cemara dan Pantai Pandansari. Di postingan ini saya akan mengurai mengenai Pantai Pandansari.

Sesungguhnya pantai ini sebenarnya bukanlah target utama untuk dituju. Tapi karena letaknya dekat sekali dengan Goa Cemara, ya sudahlah, dibablas saja. Kalau dari Kota Yogyakarta, mungkin butuh sekitar 90 menit perjalanan. Tapi dari kawasan Hutan Pinus Mangunan, nggak lebih dari 30 menit berkendara.

Perjalanan menuju Pandansari begitu santai. Kiri-kanan jalan dihuni pematang sawah yang belum menguning. Jalanan hanya terdiri dari dua jalur dan sudah mulus ditutupi aspal. Mendekati lokasi, ada gerbang masuk dengan petugas penjaga yang berdiri di tengah. Ini adalah gerbang untuk memasuki kawasan pantai yang ada di sekitaran sini. Bayarnya per orang dikenai beban biaya Rp5.000. Ini tiket terusan. Nanti di masing-masing pantai hanya dikenakan biaya parkir kendaraan saja.

image
I see you, baby!
image
Bright color of sandal and nail polish.

Begitu keluar dari gerbang sekaligus loket masuk, ada perempatan. Mobil yang kami sewa melaju lurus, tujuannya Pandansari. Dari jalan yang agak kecil itu, nampak mercusuar bercat putih berdiri di sebelah kanan jalan. Dialah alasan saya ingin ke situ. Karena selama ini nggak pernah menaiki mercusuar, makanya berniat ke sini.

Dari mercusuar ke arah pantai cuma 100 m saja. Mobil diparkir, jalan sedikit sudah masuk pantai. Memang bukan yang tercantik di Jogja. Pasir hitam menghiasi dari ujung ke ujung. Keadaan pantai tak begitu ramai, tapi pengunjung yang ada sibuk foto-foto atau cuma duduk memadu kasih disertai cahaya jingga yang mulai berpendar di langit biru.

Sebentar lagi mau sunset, saya, Inne dan Evan meragu buat naik ke mercusuar. Kami mengejar waktu untuk menyeruput sunset di Goa Cemara. Trus ditambah fakta kami mesti manjat-manjat untuk mencapai puncak mercusuar, ya sudahlah, kami sepakat langsung menuju Goa Cemara. Tapi sebelumnya kami mampir sebentar untuk foto-foto mercusuar dari bawah. Terus ketemu satu spot dekat situ yang berupa jalan setapak. Yang bikin dramatis, kiri-kanan jalan diisi pohon-pohon dengan ranting kering saja.

image
Feels like in movie set.
image
Somewhere near Pandansari Beach.

Beralih ke Goa Cemara, dari Pandansari cuma lima menit saja. Asyik kan! Masuknya nggak perlu bayar lagi. Keberadaan Pantai Goa Cemara saya ketahui dari grup WA Jalan Ke Mana Lagi. Info dari teman-teman ini bikin saya mencari tahu lebih lanjut mengenai Goa Cemara. Tentu saja paman Google mengerjakan tugasnya dengan baik dan mempertunjukkan foto-foto pantai yang memukau dengan jajaran pohon cemara. Itulah mengapa namanya demikian.

Begitu tiba di pelataran parkir, suasana cukup sepi. Cahaya mulai meredup. Matahari semakin menurunkan posisinya. Kami semakin cepat berjalan. Jarak dari tempat parkir menuju areal pantai ya nggak jauh tapi nggak dekat-dekat juga. Palingan 250 m. Dekat tempat parkir sih banyak terdapat warung-warung makan sederhana. Ada saung-saung yang bisa dipakai untuk duduk-duduk santai. Toilet pun tersedia, tapi seperti biasa, tidak bisa diharapkan kebersihannya.

Kemudian jalanan dari konblok pun berganti pasir. Bukan pasir putih, namun cukup halus teksturnya. Lalu ada gundukan pasir di sana dengan latar ranting-ranting pohon. Dan di sela-sela ranting, bias mentari menyusup. Aahh… Serentak saya mempercepat langkah, takut tertinggal momen. Berjalan cepat di pasir halus agak susah ya teman-teman.

Sedikit susah payah mencapai bibir pantai, mata saya tak ingin berkedip. Di batas cakrawala, si bulat mentari tanpa aral turun tahta. Cahaya jingga berpendar dengan hebat. Ikut mewarnai langit. Sekian menit warna langit dan bias cahayanya memunculkan efel warna-warna yang dramatis. Inilah sunset terakhir saya di 2015. Luar biasa indah. Senang bisa meraih sunset yang cemerlang sebagai hadiah akhir tahun.

image
See you another day.
image
Sweet sky.

Motret sebentar, kemudian saya cuma duduk ngample di pasir ditemani Inne. Sedikit obrolan perihal hati kami larut dengan suasana sambil dibisiki angin laut. It was perfect! Absolutely! Cara terbaik untuk menutup tahun ya. Yang bikin saya terkagum-kagum adalah, walaupun Goa Cemara bukanlah pantai yang aman untuk berenang karena deru ombak yang kencang, tapi pemandangan sunset-nya cantik banget! Salah satu yang terindah yang saya lihat sepanjang tahun 2015 kemarin. Pergantian warna langit yang dalam sekejab memberi nuansa yang berbeda, padahal masih berada di lokasi yang sama.

Sayang kami tak bisa berlama-lama di sini. Sebelum terlalu gelap, kami pamitan pada Goa Cemara. Sebagai catatan, kalau yang mau camping di pantai ini, bisa saja kok. Kemarin saya sempat menemukan beberapa orang sedang memasang tenda.

-PJLP-

Advertisements

One thought on “The Last Sunset

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s