24 Hours in Hoi An | Japanese Covered Bridge

image
Welcome to Hoi An.

Kalau ditanya kota atau tempat mana yang bikin kangen, jawabannya pasti banyak. Saya tuh suka kangen sama Bromo. That magical sunrise is hard to forget. Tana Toraja juga. Naik ojek keliling Rantepao dan sekitarnya, masuk-keluar kuburan. It was fun! Weird ha, ke kuburan bisa menyenangkan..hahaha. Baliiiii..!! Oh darling, we’re gonna always miss Bali. Siem Reap dan Tokyo pastinya. Sama satu lagi, Hoi An. Kota lampion yang romantis di malam hari jadi satu penyesalan terbesar saya. Kenapa? Karena saya cuma mengitarinya selama 24 jam saja. Durasi yang tak akan pernah cukup untuk menikmati Hoi An.

Hoi An memang hanya si kecil dari Vietnam. Posisinya di tengah, sehingga mudah dijangkau, baik dari Ho Chi Minh City (HCMC) maupun Hanoi. Tak ada bandara di kota ini. Jadi kamu mesti mendarat di Kota Da Nang, untuk kemudian naik mobil selama 30-40 menit ke Hoi An. Bisa juga naik bus, tentu lokasi pemberhentiannya tidak begitu jauh dari kota, namun bisa ditebak akan memakan waktu tempuh yang lama dari kota tujuan.

Perjalanan ke Hoi An sempat menjadi dilema. Dalam trip keliling Vietnam, saya dan Eka bingung, mau pilih ke Hue atau Hoi An. Dua-duanya sama menariknya. Setelah menimbang-nimbang, pilihan tertuju pada Hoi An. Jadi dari HCMC kami naik pesawat menuju Da Nang setelah melewati adegan thriller karena kami nyaris ketinggalan pesawat gara-gara jalanan Saigon yang menggila di sore hari, akhirnya tiba di Da Nang malam hari, kemudian sewa mobil untuk diantar ke Hoi An.

Sejak memasuki kota ini saja sudah ada kesan positif. Dalam temaram, Hoi An menyambut kami penuh ramah. Jalan-jalan di malam pertama bikin saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Sungguh! Jajaran lampion bercahaya warna-warni. Melihat sungai dengan perahu-perahu cantik. Ada yang dijadikan restoran apung. Di seberang sungai ada bangunan-bangunan klasik yang dalam gelap tetap mencitra kecantikan. Seketika menyesal kurang lama di sini.

image
Photo by Eka Eldina.
image
The Japanese Covered Bridge.
image
Made by wood.

Karena hanya punya waktu sehari untuk putar-putar Kota Tua-nya, saya dan Eka memaksimalkan betul tiap waktu. Walaupun saat itu mesti hujan-hujanan sambil naik sepeda buat eksplor. Ngomong-ngomong soal sepeda, cara terbaik untuk sight-seeing adalah dengan menyewa sepeda. Murah kok sewanya, cuma $1 per hari (November 2014). Sepeda bisa disewa di hotel yang diinapi. Kalau malas genjot sepeda atau memang nggak bisa gowes, sewa aja becak. Kalau mau lebih murah, jalan kaki aja. Masih enak kok untuk dilakoni. Tapi perlu diketahui bahwa jarak dari satu tempat ke tempat lain sangat dekat.

Sebelum menjelajah, pastikan untuk membeli tiket masuk kawasan Old Town. Tiket terusan seharga 120.000 Dong (November 2014) tapi hanya bisa memasuki lima tempat yang tersebar di Kota Tua. Bebas mau masuk ke mana aja, yang penting hanya lima area saja. Tempat-tempat tersebut antara lain berupa old houses, assembly hall, museum, juga kuil sembahyang. Walaupun sudah keluar dari area Old Town, Anda masih bisa memasukinya kembali. Perlu dicatat, di tiap tempat wisata tersebut ada petugas yang akan mengecek tiket. Karena cuma boleh masuk ke lima tempat, sebaiknya cek dulu keistimewaan masing-masing tempat. Biar nanti dipilih mana yang paling OK.

Hasil nge-bolang di Old Town berbuah setumpuk kisah dan foto-foto kece. Dan inilah salah satunya. Perhentian pertama kami adalah Japanese Covered Bridge. Sebuah jembatan kayu yang tidak besar, tidak panjang, tapi punya kisah tersendiri. Pertama kali dibangun tahun 1590 oleh komunitas Jepang untuk menghubungkan mereka dengan kawasan yang dihuni komunitas Chinese. Konstruksinya sendiri termasuk kuat, karena mampu bertahan walau diterpa gempa bumi sekalipun.

Di bagian pintu masuk, terdapat patung monyet dan anjing pada kedua sisi. Menurut cerita, hal ini bertalian dengan banyaknya tentara Jepang yang lahir di tahun anjing dan monyet. Ada pula yang berujar, konon konstruki jembatan mulai dibangun pada tahun monyet dan selesai di tahun anjing.

image
Girl talk.
image
Little temple inside the bridge.
image
Praying table.

Untuk melewati Japanese Covered Bridge tidak dikenakan biaya. Sepeda pun bisa lewat. Cuma waktu itu ketika melintas menggunakan sepeda, kami mesti mendorongnya. Suasana di jembatan yang memiliki atap ini cukup ramai. Oh ya, ada kuil kecil di dalam jembatan. Biasa aja sih, sayangnya untuk memasuki kuil, kamu mesti menunjukkan tiket terusan. Agak sayang sih untuk menyerahkan satu jatah tempat hanya untuk melihat kuil ini. Karena masih banyak objek wisata yang lebih menarik ketimbang ini. Saran saya, lihat dan foto saja dari luar pintu masuknya.

Perhentian berikutnya, Cantonese Assembly Hall. Hanya 50 meter dari Japanese Covered Bridge. Shall we…

More info about Hoi An Tourism:

http://hoian-tourism.com/

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s