Hey, Tiger!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Paradise on Jakarta’s doorstep.

Nama lengkapnya Pulau Macan Village and Eco Resort. Tapi lebih familiar disapa Pulau Macan. Ada juga yang menyebutnya Tiger Island. Pulau tak berpenduduk, masih dalam lingkup Jakarta, tepatnya berada di jajaran Kepulauan Seribu. Dekat saja bagi penghuni ibukota yang ingin lari dari kenyataan dan menikmati hidup dengan leyeh-leyeh di pulau eksotis.

A Glance of Pulau Macan

Pulau Macan adalah pulau tersendiri yang tak begitu luas wilayahnya, jalan kaki kurang dari 10 menit sudah selesai mengitari pulaunya. Namun bukan ukuran yang menjadi takarannya, tapi suasananya, resornya, dan orang-orang di dalamnya yang membuatnya begitu nyaman untuk ditinggali. Jika ingin mengunjungi Pulau Macan, ada speed boat yang berangkat setiap hari dari Dermaga Marina, Ancol. Setiap jam 8 pagi Anda akan diantar menuju pulau cantik ini. Karena speed boat-nya merupakan public boat, jadi tidak hanya akan berhenti di Pulau Macan saja. Waktu itu boat yang saya tumpangi berhenti di Pulau Kelapa, Pulau Putri, dan beberapa pulau sekitar. Kalau untuk harga tiket, sekitar Rp200.000 untuk one way. Tapi tiket ini bisa sekalian dibayar jika kamu mengambil paket lengkap dari resor.

Dengan tagline “Paradise’s on Jakarta doorstep“, tentunya menekankan bahwa Pulau Macan hanya sejengkal saja dari Kota Jakarta tercinta. Tak lebih dari dua jam perjalanan yang menurut saya menyenangkan, para tamu bisa tiba di pulau ini. Speed boat-nya sendiri nyaman kok, dan ber-AC pula. Untuk fasilitas keselamatan seperti life jacket tersedia. Setelah mengantarkan beberapa penumpang kapal di pulau berlainan, akhirnya menjejakkan kaki di Pulau Macan. Hey, Tiger!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pemandangan Pulau Macan tampak depan.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gerbang masuk Pulau Macan.

Penampakan dari luar sih biasa saja. Jetty-nya pun tak begitu besar. Pohon-pohon rindang di sisi pulau tanpa menunjukkan pulau dengan hamparan pasir yang biasanya kita lihat pertama kali ketika menghampiri sebuah pulau. Sambil memanggul ransel biru, saya kemudian berkenalan dengan Florence, warga Malaysia yang berkunjung day trip ke sini.

Oh ya, saya belum jelaskan kalau ada beberapa cara untuk menikmati Pulau Macan. Kamu bisa melakukan day trip seperti Florence. Datang pagi, island hopping dan menikmati fasilitas water activities, termasuk sarapan dan makan siang. Atau bisa juga seperti saya yang menghabiskan satu malam di Zen Hut milik mereka. Berhubung saya dan Florence sama-sama datang sendiri saat itu, jadilah kami memutuskan untuk menikmati Pulau Macan bersama-sama.

Jalan Kaki ke Macan Gundul

Kami dan setiap tamu dihantarkan menuju Clubhouse untuk menikmati sarapan. Clubhouse itu area terbuka tanpa dinding pembatas dengan atap daun berumbai. Untuk sarapannya sendiri tersedia ala Western dan Asia. Sehabis itu kami siap untuk mengitari pulau. Berhubung saya belum bisa check-in, terpaksa titip tas di front desk. Kemudian ganti baju renang karena rencananya mau jalan kaki ke Pulau Macan Gundul. Haa! Jalan kaki?!? Iya, jalan kaki.

Pulau Macan Gundul adalah salah satu atraksi wisata dari resor ini. Letaknya persis di depan Pulau Macan. Dekat saja jaraknya. Pulau tak berpenghuni ini bisa dijangkau para tamu dengan beberapa cara. Bisa jalan kaki, berenang, kayaking, atau pun naik perahu. Pagi itu saya memiilih untuk jalan kaki. Penasaran lebih tepatnya. Karena saya tak melihat gundukan pasir yang bisa digunakan sebagai jalur untuk jalan menuju Macan Gundul.

Ternyata memang jalan kaki di dalam air. Dengan ketinggian air sepinggang kemudian sedada, setiap tamu cukup aman dan nyaman untuk menyeberangi lautan. Kami diberi instruksi untuk berjalan di areal yang berpasir, jangan di dekat karang. Perhatikan langkah, jangan sampai terinjak buluh babi. Eh, jangan langsung mundur! Jika ingin aman, bisa minta dipinjamkan life jacket dan boots yang tersedia gratis selama Anda di kawasan pulau. Kalau masih ragu, bisa juga kok meminta staf resor untuk menemani Anda menyeberang. Seperti Florence yang awalnya takut untuk menyeberang, akhirnya ia minta didampingi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pulau Macan Gundul
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Suasana di Pulau Macan Gundul.

Untuk perjalanannya sendiri tak lebih dari 15 menit berjalan kaki. Sensasinya cukup menyenangkan. Ombaknya pun masih aman. Tak ada juga binatang laut yang membahayakan sepanjang perjalanan. Saya tiba dengan selamat di Pulau Macan Gundul. Pulau berpasir cukup putih yang minim karang tajam. Area pasirnya tak begitu luas, namun landai. Gradasinya warnanya terlihat cukup cemerlang. Tak ada ombak menghantam deras. Tenang. Damai. Hanya tiupan angin dan tawa beberapa tamu yang asyik menikmati suasana.

Saya cuma potret-potret sebentar, kemudian sisanya hanya sibuk memandang langit tanpa batas, pulau-pulau sekitar yang tidak terlihat kehidupan di dalamnya. It’s true, I found paradise just a doorstep from my hometown. Mungkin kekurangan pulau mungil adalah tak ada bar atau drinks booth untuk kami memesan minuman segar sehabis jalan kaki. Saya cukup kehausan saat itu. Kalau ingin mengelilingi Pulau Macan Gundul, bisa saja kok. Cuma memang tidak banyak yang bisa dilihat. Di sisi yang berlainan ada jajaran pohon bakau, tapi tak terlalu banyak. Sepertinya masih dalam pengembangbiakan. Mendekati jam makan siang, kami pun kembali berjalan kaki menuju Clubhouse. Oh ya, Pulau Macan Gundul merupakan titik terbaik untuk melihat sunrise. Sayangnya saat ke sana saya nggak kebagian sunrise karena sedikit mendung di pagi itu.

Zen Hut

Perut kenyang, kantuk pun tiba. As always. Untungnya saya sudah boleh check-in. Diantar salah satu staf untuk menuju Zen Hut. Penasaran seperti apa rupa pondok inap yang ramah lingkungan itu. Melewati jalan setapak yang di kiri-kanannya ditumbuhi pohon rindang membuat suasana begitu asri. Yang menyenangkan, suasananya hening, tanpa keramaian ala resor pada lazimnya. Memang ini yang digiatkan pihak resor yang sengaja membatasi kuota tamu tak lebih dari 40 orang. Semuanya demi memberi ketenangan bagi para tamunya.

Zen Hut yang akan menjadi rumah semalam saya dari luar hanya dilindungi tirai bambu yang tentu saja sedikit menerawang dari luar. Begitu disingkap, ah, saya girang tapi mencoba bersikap kalem di depan staf yang menemani. Tapi kalau dia sadar, mata saya sudah berbinar-binar melihat pemandangan sebuah pondok dengan Double Bed dan Twin Bed di dua sisi, termasuk balkon pribadi dengan pemandangan laut di depannya. Dan yang menarik, setengah dari bangunan pondok terbuka luas, tanpa sekat apapun. Nice! Tapi kalau ingin terlindungi dari angin dan panas, bisa diturunkan tirai bambu yang juga dilapisi terpal yang cukup tebal dan aman.

Staf tersebut kemudian menunjukkan area kamar mandi yang berada tepat di samping hut. Cuma berpintu kayu yang tak nampak gagah, tapi bisa untuk ditutup. Atapnya sebagian terbuka, sebagian ditudungi atap. Ada pancuran dengan saluran air yang dilapisi batang pohon. Closet duduk dengan pernak-pernik kerang, juga wastafel yang dibuat dari material daur ulang. Lantainya sendiri setengah area ditutupi pasir, sisanya berupa kayu. Ah, lucu sekali!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Hut sweet hut.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Semi open-air bathroom.

Setelah ditinggal sendiri, saya mencoba beradaptasi dengan Zen Hut. Cukup panas siang itu. Ditambah karena sepanjang pagi hingga malam hari tak ada listrik yang mengalir, makanya tak bisa menyalakan kipas angin. Oh ya, jangan berharap pondok-pondok inap di Pulau Macan ber-AC yak. Karena merupakan eco resort, setiap tempat inap hanya diberi kipas angin sebagai pendingin ruangan.

Salah satu bagian paling menyenangkan dari pondok saya ya balkon dengan sea views. Ada tangga juga sehingga saya bisa langsung turun ke air. Cuma karena surut, tinggi air tidaklah seberapa. Ada dua kursi dan satu meja kayu di balkon, jadi pas sekali kalau ingin duduk-duduk santai sambil melihat sunset. Yes, Zen Hut merupakan salah satu pondok yang bisa membuat para tamunya leluasa menikmati sunset secara langsung. Tapi paling sempurna sih kalau kalian menginap di Sunset Hut. Serasa matahari terbenam milik sendiri.

Water Activities

Kalau Anda berpikir biaya yang dibutuhkan untuk menikmati dua hari-satu malam menginap di Pulau Macan terlalu berlebihan, menurut saya hal ini dibarengi dengan fasilitas water activities tanpa batas yang bisa kalian gunakan sepanjang waktu menginap. Seperti tiap tamu bisa menikmati layanan snorkeling tour yang diadakan setiap hari. Bagi siapa pun yang berminat ikut, bisa daftar dan berkumpul dekat jetty jam 15:00. Biasanya area untuk snorkeling sekitaran Pulau Bintang atau Pulau Melintang Kecil. Snorkeling tour biasanya sekitar 90 menitan, sudah termasuk waktu di perjalanan. Tapi kalau nggak puas, bisa sewa sendiri kapalnya. Biayanya dimulai dari Rp300.000. Tur ini juga termasuk disediakan snorkel gear.

Kalau kemarin saya diajak ke sekitaran Pulau Bintang. Sedikit kaget juga sih lihat panorama bawah lautnya. Masih cukup terjaga keasriannya. Banyak Table Coral. School of fish juga seliweran sana-sini. Jadinya ramai di bawah sana. Cuma ada sedikit distraksi dari stingray yang ternyata lagi musimnya. Memang kecil-kecil sih ukurannya, cuma ya ngeri aja kalau sampai kena. Tapi masih bisa sih berenang dan menikmati biota laut tanpa gangguan berarti. Dalam hati berharap bawah laut di sini bisa terus terjaga. Karena miris sekali lihat bawah laut di Kepulauan Seribu. Sudah banyak yang rusak. Banyak yang tidak dijaga. Lama-lama Jakarta akan kehilangan wisata bahari dalam hitungan beberapa tahun.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
On our way to snorkeling tour.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Floating deck.

Kalau malas island hopping, di depan jetty kalian juga bisa menjelajah bawah lautnya. Ada spot snorkeling dengan ikan-ikan kecil di situ. Selain snorkeling, para tamu di resor ini bisa juga menggunakan fasilitas perahu untuk mengitari pulau utama atau mengunjungi Pulau Macan Gundul. Ada juga paddle board. Namun karena jumlahnya terbatas, kalian mesti menunggu giliran. Kalau tidak ingin berbasah-basahan, resor ini menyediakan meja pingpong, bilyard, bulu tangkis, atau bisa juga duduk-duduk santai sambil ngebir di Bamboo Bar &Sundeck. Atau bisa leyeh-leyeh di Floating Deck.

Warmest Feelings & Green Awareness

Selama hampir 48 jam di Pulau Macan, ada perasaan yang membuat saya kerasan. Bukan karena pemandangan bahari yang ditawarkan, tapi karena perasaan nyaman diterima bukan sebagai tamu, tapi sebagai orang dekat. Para staf yang ramah membuat saya begitu menikmati setiap jam di sini. Dengan sesama tamu pun kami juga merasakan hal demikian. Dengan mudah berinteraksi dan berbagi cerita satu sama lain. Kebetulan saat itu semua tamu berasal dari mancanegara, cuma saya yang dari Indonesia. Alhasill bisa ditebak kan wisatawan asing jauh lebih ramah dan gampang membuka diri ketimbang turis dari negeri sendiri.

Momen menyenangkan adalah saat makan malam. Di meja kayu yang besar dan panjang, yang sengaja ditata persis di pinggir pantai, kami makan bersama di satu meja walaupun tak saling kenal. Serasa sedang makan bersama keluarga. Malam itu turis-turis asing heboh cerita melihat biawak yang berada di pulau. Memang ada beberapa biawak di pulau. Tapi aman kok, mereka jarang menunjukkan diri dan tidak menggigit. Malahan mereka agak takut jika terlihat oleh manusia. Makanannya hanya ikan-ikan saja. Kembali lagi dengan seorang turis wanita yang berlebihan mengatakan ia serasa bertemu super giant lizard. Seperti di Jurassic Park, katanya. Ya ampun, berlebihan sekali bulebule itu. Dengan jumawa dia menunjukkan foto biawaknya ke saya, tapi saya membantahnya dan mengatakan kalau ukuran biawaknya termasuk normal di Indonesia…hehehe.  

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Bamboo Bar & Sundeck.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Thinking of you.

Di samping itu saya juga terkesan dengan “program hijau” yang digiatkan resor ini. Pihak operasional mengharapkan para tamunya untuk hemat dalam penggunaan listrik juga air. Hal ini bisa dilihat pada papan petunjukan dekat Clubhouse. Tamu pun dihimbau untuk bersikap bijak ketika melakukan aktivitas air, seperti jangan menginjak karang laut atapun membuang sampah sembarangan. Penggunaan solar panels, menampung air hujan hingga menyediakan makanan sehat dari bahan organik menjadi sederet kelebihan Pulau Macan.

See you when I see you, Tiger!

Pulau Macan Village & Eco Resort

Reservations & Info
Email  : info@zevillages.com
Stevie : +62 81291642914
Oche : +62 87882341314
Sylvi : +62 81297531395

Advertisements

One thought on “Hey, Tiger!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s