Sunrise di Balekambang

p5080131.jpg
Menyambut hari baru di Pantai Balekambang.

Malang tak sebatas jalur persinggahan bagi mereka yang ingin menyapa Bromo. Malang tak hanya mengenai kuliner yang mengenyangkan perut. Malang juga memiliki sederet pantai eksotis yang sekilas mengingatkan saya akan Lombok Timur dengan akses jalanan yang tak memadai, namun memiliki pantai berkarang seperti di daratan Gunung Kidul.

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Kota Malang sewaktu berseragam putih-merah. Ingatan saya akan kota yang cukup berhawa dingin dengan jajaran apel hijau tersebar di mana-mana. Sudah, itu saja yang saya ingat mengenai Malang. Sampai akhirnya saya mampir lagi di kota ini sehabis bertualang di Bromo. Tapi saat itu hanya untuk perjalanan kuliner saja. Setahun kemudian barulah saya menikmati Malang dari sudut pandang yang berbeda.

Mungkin tak banyak yang menyadari bahwa kota ini memiliki potensi alam yang tidak lama dari sekarang akan berkembang. Tepatnya di kawasan Malang Selatan. Sederet pantai-pantai cantik dengan karang-karang tajam dan ombak besar menjadi sajian utamanya. Saya kira hanya beberapa nama yang bisa pasang aksi memamerkan karya cipta ilahi yang fantastis. Ternyata, sejumlah objek yang tersembunyi dan minim didengar khalayak malah tak kalah pesonanya. Rasa-rasanya butuh 2-3 hari untuk menyusuri satu demi satu, karena memang akses jalan yang masih terbatas. Beberapa rusak parah tanpa dipermanis aspal. Mungkin hanya Pantai Balekambang saja yang masih bisa dinikmati dengan santai tanpa kesusahan berarti.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jalan setapak dari Pantai Regency menuju Balekambang.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Ombak besar kerap mendatangi pantai-pantai di Malang Selatan.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pantai Regency.

Berbicara mengenai Pantai Balekambang, ini adalah titik awal petualangan saya selama mengitari destinasi di Malang Selatan. Siang hari mendarat di Malang, langsung melaju menuju pantai yang bisa ditempuh kurang lebih tiga jam. Memang jalanannya tidak mulus 100%, ada yang bolong-bolong, tapi masih bisa dimaklumi. Untuk mencapai Pantai Balekambang bisa melalui Kecamatan Gondanglegi dan Kecamatan Bantur, dilanjutkan ke Desa Srigono atau melalui Kecamatan Kepanjen yang semua bisa diakses menggunakan kendaraan pribadi, baik motor ataupun mobil.

Pantai Balekambang bisa dikatakan menjadi sarana wisata alam yang paling disebut di dunia maya karena memang yang paling memadai dalam fasilitasnya. Walaupun kualitasnya belum memenuhi standar kebersihan ya, tapi lumayanlah. Sekitar pukul lima sore sampailah saya, Febri dan Mas Irwan di Balekambang. Kami sempat mengira pantai ini untuk melihat sunset, ternyata untuk sunrise. Nah lho. Berhubung kunjungan ini bagian dari liputan, kami mesti mengatur betul waktu, supaya tidak terbuang percuma. Mulailah mengkalkukasi waktu, kira-kira kalau besok subuh dari Malang ke sini tentu saja akan terlalu jauh. Sepertinya ide itu nggak realistis ya. Kami pun sepakat untuk mencari penginapan dekat pantai.

Malam yang semakin dekat membuat kami pasrah untuk menerima tempat inap yang berupa pondok yang berdiri sendiri di depan kerumunan pepohonan yang nampak seram di malam hari. Sengaja berbagi pondokan demi keamanan bersama. Pondoknya sendiri cuma Rp250.000 per malam (2014). Ada teras di bagian depan, kamar dengan dua kasur tipis yang saya ragukan kebersihan seprei dan sarung bantal (untung bawa sarung andalan), terdapat televisi dan dvd player, kipas angin, kemudian kamar mandi yang, ah sudahlah, tak usah saya berujar banyak. Lihat saja fotonya. Sebenarnya ada kamar-kamar inap layaknya hotel-hotel melati pada umumnya. Namun kalau dilihat rasanya kurang sreg ya. Entahlah, terkadang mesti ikuti kata hati kalau lagi jalan. Walaupun rupanya terlihat lebih bersih dari pondokan, namun entah kenapa kami bertiga nggak sepakat untuk menginap di situ.

rps20160607_182031.jpg
Penginapan ala kadarnya dekat Balekambang.
rps20160607_182313.jpg
Begitu pun dengan kamar mandinya.
rps20160607_182411.jpg
Penampakan warung makan yang tersedia dekat pantai.

Kalau ingin mencari makan di malam hari, jalan aja ke arah pantai. Ada beberapa warung makan. Tapi saat itu cuma satu yang buka. Menu yang ditawarkan seperti rawon (cuma Rp8.000 saja), bakso, nasi goreng, mie instan, dll. Rasanya standar sih. Kembali ke pondok inap, kami berusaha tidur walau diteror nyamuk dan hawa panas.

Akhirnya pagi tiba. Rasanya ingin cepat-cepat beranjak. Saya dan Febri bangun subuh, sebelum pukul 5, lantas kami jalan kaki ke arah pantai. Saat itu masih sepi. Kami segera mengambil langkah menuju Pura Amerta Jati atau yang biasa disebut Pulau Ismoyo, simbol ikonik yang membuat Balekambang nampak unik jika dipotret. Untuk ke pura kami mesti melewati jembatan. Dari situ bisa leluasa memotret matahari bersinar pertama kali.

Lantas kami bergeser dan mencari titik lain. Berjalan mundur menuju Wahana Wisata Jembatang Panjang, di mana dari tepiannya bisa memandang siluet Ismoyo dengan puranya yang dibiasi cahaya jingga. Ah, cantik betul kalau dari sini. Apalagi ada satu batu karang yang kalau dilihat teliti, rupanya seperti badak bercula. Sempat mengira hanya kami penghuni pantai, ternyata sudah ada beberapa orang yang duduk dan menyambut pagi di hari itu. Nggak tahu kapan orang-orang itu tiba di pantai. Rasa-rasanya dari tadi cuma kami berdua saja yang ada di situ. Tapi tetap, serasa pantai milik pribadi, jika dilihat dari minimnya pengunjung.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pagi di Balekambang.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pura Amerta Jati.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pinkish morning.

Areal pantai di Wahana Wisata Jembatan Panjang sendiri merupakan pantai landai namun diisi beberapa bebatuan cokelat. Datar saja sih batuannya, tidak setajam karang-karang pada umumnya. Kawasan pantainya cukup panjang. Di ujung sana terdapat jembatan panjang yang sudah bobrok. Ada beberapa bagian yang patah dan rusak. Dipastikan tidak dapat dinaiki. Namun kalau dijadikan siluet untuk motret sepertinya bisa nampak menarik.

Kami akhirnya kembali ke kawasan utama pantai. Sudah mulai terlihat aktivitas penduduk sekitar. Saya melihat ada toko suvenir yang menjual baju, celana, dan kain pantai. Dengan warna-warna ceria, toko suvenir ini menawarkan harga yang masih masuk akal. Saya sempat membeli celana pendek berhubung celana saya robek aja di hari sebelumnya. Nggak sampai Rp50.000 sih harganya. Oh ya, kalau sudah di Pantai Balekambang, sekalian saja mampir di Pantai Regency. Lokasinya lebih dekat dengan pintu masuk kawasan pantai. Jadi kalau datang, tentu saja akan bertemu dengan Regency terlebih dulu.

Selepas Balekambang, masih terdapat sederet pantai-pantai istimewa dan tersembunyi di Malang Selatan. Nantikan kisahnya ya!

-PJLP- 

Advertisements

One thought on “Sunrise di Balekambang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s