Gemuruh Ombak Dari Malang Selatan

image
Selatan Jawa terkenal akan pantai dengan ombak berkekuatan dahsyat.

Perairan di selatan Jawa dikenal sebagai salah satu yang cukup “disegani”. Dalam artian jajaran pantai yang tersebar di sini dikenal karena kekuatan ombak dan gelombang yang dahsyat. Banyak di antaranya yang dipuja karena memiliki kontur bebatuan karang yang menunjukkan keindahan juga keangkuhannya.

Berbicara mengenai Malang Selatan, daerah yang tak banyak diakui karena wisata pantainya, memberi alternatif bagi pemburu pantai dan lautan birunya. Banyak yang menarik untuk ditelusuri di sini. Pengalaman blusukan ke deretan pantai di sini menuai kisah yang tak kalah seru dengan pantai-pantai lainnya di tanah air. Sebelumnya saya sudah berkisah banyak mengenai Pantai Balekambang, Pantai Ngliyep, Pantai Pasir Panjang dan Pantai Teluk Putri. Itu belum seberapa, masih ada banyak nama yang belum terkuak dan ini adalah beberapa di antaranya:

Pantai Gunung Kombang

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gunung Kombang yang berkontur penuh karang.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Hati-hati! Gunung Kombang terkenal akan ombak besar nan dahsyat.

 

Pantai Gunung Kombang sebenarnya lebih dekat jika dilewati dari Pantai Ngliyep. Dari pintu masuk Ngliyep, susuri saja jalan setapak beralas bebatuan. Mobil sewaan saya berjalan pelan menuju Gunung Kombang yang tak nampak eksistensinya. Hanya 300 meter berjalan saya sudah sampai di areal pantai.

Begitu turun dari mobil, oke, saya mulai tertarik dengan pantai ini. Lagi, ini bukan tipikal pantai yang bisa dinikmati untuk berenang juga leyeh-leyeh di pasir yang landai. Banyak karang-karang yang jauh lebih tajam dan berbahaya. Kekuatan ombak yang datang pun begitu hebat, sudah pasti hantamannya ke karang melahirkan bunyi gemuruh yang cukup dahsyat.

Untuk menikmati Gunung Kombang seutuhnya, saya jalan melewati jembatan kayu yang tak terlalu jauh jaraknya. Dari situ belok ke kiri, jika ingin melihat jajaran karang yang dari tadi menarik perhatian. Tulisan ‘Di sini ombak ganas, maut menanti’ menjadi peringatan keras bagi tiap pengunjung. Ya, memang betul adanya. Jangan adu keberanian untuk melaut kalau ke sini. Ombak dan karang di Gunung Kombang tak bisa dilawan.

Kemudian saya beralih ke sisi sebelah kanan. Tangga berundak pendek-pendek menjadi pengantar menuju satu areal yang menunjukkan jajaran batu-batu karang besar di tengah lautan. Saya pun mengkerutkan dahi, akhirnya tersenyum. Nan jauh di sana, di sebuah lekuk, terlihat Teluk Putri yang saya datangi sebelumnya. Oh, pantas, dari tadi saya merasa familiar. Gunung Kombang dan Teluk Putri ternyata saling berhadapan, memancarkan keindahan masing-masing.

Pemandangan jalan setapak berundak batu ini juga memberi pandangan lain. saya melihat beberapa sesajen khas umat Hindu, yang biasa kita lihat kalau bertamu ke Bali. Rasanya kurang lazim melihat di pantai ini dibalut sentuhan Hindu. Ternyata setelah tanya-tanya dengan penduduk di sekitar, Gunung Kombang kerap menjadi areal untuk sembayang juga semedi. Tapi saat itu sedang sepi pengunjung, jadi tak banyak yang bisa disaksikan. Di bagian atas dari tangga berbatu itu sebenarnya menuju pada suatu tempat, tapi karena saya tak menjelajah hingga atas, jadi entah apakah di atas itu benar terdapat pura seperti yang disebutkan orang-orang atau tidak.

Pantai Gunung Kombang

Lokasi                   : Donomulyo

Tiket masuk        : Rp5.000 (masuk dari pintu masuk Pantai Ngliyep)

Kendaraan          : Rp5.000

Fasilitas               : Warung makan sederhana (es kelapa muda/es degan, mi instan), tempat parkir

Catatan             : Pengunjung dilarang berenang atau melipir ke tepian pantai karena ombak kencang dan banyaknya karang. Gunung Kombang kerap dijadikan tempat untuk sembahyang bagi umat Hindu, jangan kaget jika menemukan sesajen di sini.

 

Pantai Kondang Merak

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kondang Merak memiliki akses masuk yang rusak.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Ada beberapa bukit karang yang terhampar di perairan Kondang Merak.

Pantai Kondang Merak berada di daftar selanjutnya. Sesungguhnya letaknya tak begitu jauh dari Balekambang, tapi perjalanannya memakan kurang lebih 45 menit. Mengapa? Karena jalanannya rusak parah. Tanah merah berbatu dan lebar jalan yang terlalu sempit untuk dilalui dua kendaraan sekaligus, menjadi penghambat utama. Kiri-kanan jalanan merupakan pemandangan yang membosankan. Semak-semak tinggi dengan ranting dan rumput tak beraturan. Pohon-pohon yang berdiri tanpa ada kesan menarik untuk dilihat. Saya berharap dalam hati, semoga saja pantainya tak seburuk dengan jalan masuknya.

Dengan perjuangan yang menggoncang perut, akhirnya bisa “mendarat” di Kondang Merak. Saat turun dari kendaraan, terasa teduh karena rimbunnya pepohonan sekitar lahan parkir. Kaki ini melaju, berpijak pada pasir berbutir kasar. Duduk tanpa alas, angin meniup rambut ikal yang saya gerai hari itu. Dari balik kacamata hitam yang saya kenakan, Kondang Merak memiliki hamparan karang dekat bibir pantai. Bukit-bukit karang juga menjadi pemandangan khas. Tak ada yang terlalu istimewa di sini. Too badJadi saya hanya duduk sejenak, sekaligus beristirahat seusai perjalanan tak mulus. 30 Menit kemudian, saya meninggalkan Kondang Merak dengan membawa beberapa foto sebagai kenang-kenangan.

Pantai Kondang Merak

Lokasi                   : Bantur 

Tiket masuk        : Rp5.000

Kendaraan          : Rp5.000

Fasilitas                : Kamar mandi

Catatan                 : Jangan berkunjung ke Kondang Merak jika hujan turun satu dua hari sebelumnya, karena jalanan akan menyulitkan pengemudi. Siapkan bekal makanan dan minuman, bawa juga kain atau tikar sebagai alas duduk di pantai.

Pantai Ngantep

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pantai Ngantep yang nihil pengunjung.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sesungguhnya Pantai Ngantep bisa pas sebagai arena bermain surfing.

Selanjutnya Pantai Bajul Mati. Jaraknya memang terbilang jauh, makanya Mas Irwan, supir sekaligus pemandu saya, menawarkan untuk memotong jalan. Kalau dari Kondang Merak, akan menemui perempatan yang mengarah ke Balekambang. Jika ke kanan akan menuju Balekambang, kami lurus, melewati jalanant dari tanah dan batuan kapur.

Tak jauh dari situ kami menemukan papan petunjuk yang menerangkan jalan masuk ke Pantai Ngantep. Antara ya dan tidak untuk mengunjungi pantai ini. Tapi, ah, lupakan saja daftar tempat yang sudah dibuat matang dari rumah. Kami belok kanan, melakukan kunjungan random di pantai yang tersembunyi di Desa Tumpakrejo ini. Jalanan masuknya tak sama baiknya dengan jalan utama yang baru ditinggalkan. Bahkan lebih basah, sehingga Mas Irwan pun mesti hati-hati saat mengemudi.

Mobil kami melewati beberapa rumah penduduk dengan latar pantai jauh di depan. Setelah parkir, turun mobil, nampaknya hanya kami yang menjadi tamu di Ngantep. Luas dan lebar, pantai ini seru sekali kalau ada ATV yang dapat dikendarai untuk mengitarinya. Sayang, tak ada fasilitas tersebut di sini. Melihat ombak dan minim karang, saya berpikir, Ngantep pas sekali untuk selancar. Sayang, nggak banyak yang tahu keberadaan pantai ini. Jika segalanya diperbaiki, dibuat fasilitas memadai, sudah tentu banyak yang akan melipir ke sini.

Di ujung barat saya melihat kapal-kapal milik penduduk. Sepertinya kapal untuk menangkap ikan. Saya potret sana, potret sini. Sebentar melihat-lihat pemukiman penduduk yang nihil aktivitas, hanya melihat beberapa dari mereka melintas sambil membawa segunung rumput, yang menurut perkiraan untuk diberi makan ke hewan peliharaan. Oh Ngantep, kau sungguh tak diakui kelebihannya.

Pantai Ngantep

Lokasi                   : Gedangan

Tiket masuk        :

Kendaraan          :

Fasilitas                : Warung makan sederhana

Catatan                 : Akses masuk susah, dekat dengan perkampungan nelayan, cocok untuk selancar

Pantai Bajul Mati

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Menjemput sang surya di Bajul Mati.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Areal pantai yang begitu luas dan cukup panjang.

Keluar dari Ngantep, kembali melewati jalanan yang rusak. Makin lama kok treknya makin berantakan. Seperti jalanan yang belum layak dilintasi. Tanah merah makin terasa beratu untuk dilalui roda kendaraan. Gumpalan batuan kapur makin besar. Semakin bergerak, semakin sering bertemu pandang dengan mesin-mesin pemberat yang sibuk beroperasi di sisi jalan. Akhirnya kami sadar kalau jalanan yang sedang dilewati ini masih dalam proses pembangungan. Pantas saja tak ada yang benar.

Jalanan yang berdebu membuat kami mesti menutup kaca jendela. Ada kalanya kami mesti berhenti untuk memberi jalan bagi pengendara lain, mengingat hanya ada satu jalur yang terbuka. Sempat juga menunggu sekitar setengah jam karena jalur untuk lewat sama sekali tertutup gumpalan batu kapur yang sangat besar. Sehingga petugas yang bekerja, mesti menghancurkan terlebih dahulu batu-batu tersebut, memindahkannya ke sisi jalan, kemudian jalanan dihaluskan oleh mesin khusus. Kami sampai geleng-geleng kepala karena menghadapi kejadian ini. Tapi namanya juga perjalanan, dibawa senang saja. Nggak boleh menyesal karena memilih lewat sini. Habis, kalau kami memutar ke jalanan yang lebih “ramah”, waktunya akan lebih panjang, kalau lewat sini, bisa memangkas hampir 50 km.

Trek berat akhirnya berhasil dilewati. Kalau dihitung-hitung, hampir dua jam di jalan. Ketika bertemu dengan jalanan mulus beraspal, girangnya bukan main. Kali ini ditemani pemandangannya yang jauh lebih menyenangkan. Sebelah kanan sesekali dijumpai laut. Sebenarnya ada beberapa pantai kecil yang dibuka untuk umum. Namun kurang begitu menarik. Kami hanya melintas. Lagipula sudah lapar, mesti cepat-cepat sampai di tujuan.

15 menit berselang, kami melewati Jembatan Bajul Mati. Saya minta Mas Irwan berhenti sebentar. Biasa, ingin memotret dulu. Setelah itu melaju kembali. Jembatan Bajul Mati menjadi penanda kalau sebentar lagi akan tiba di Pantai Bajul Mati. Dari jalan raya, kami belok ke kanan, di gapura selamat datang tak ada yang bertugas menagihkan uang tiket masuk. Sepertinya kalau hari biasa pengunjung bisa bebas-bebas saja masuk.

Siang menjelang sore itu tak banyak orang yang berkeliaran di Bajul Mati. Palingan hanya orang-orang lokal yang memang berdiam dekat pantai. Ombak Bajul Mati tak sekencang pantai-pantai sebelumnya. Hingga sore menjelang, saya berkotempelasi sejenak ditemani angin pantai dan cahaya jingga di ufuk barat yang mulai bersiap diri turun tahta. Saya siap dengan kamera kesayangan, menyibukkan diri mengabadikan momen, lantas tersadar kalau masih tersisa satu pantai yang tak jauh dari Bajul Mati.

Pantai Bajul Mati

Lokasi                   : Gedangan

Tiket masuk        : Rp5.000

Kendaraan          : Rp5.000

Fasilitas                : Warung makan sederhana, kamar mandi

Catatan                 : Tersedia saung-saung yang bisa dijadikan tempat berteduh. Cocok untuk melihat sunset

 

Pantai Gua Cina

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gua Cina yang memiliki dua sisi pantai.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gua Cina tepat dijadikan spot untuk berburu sunset.

 

Gua Cina hanya sejauh 10 menit perjalanan, terletak di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing. Namun perjalanan masuk dari jalan raya membuat kami mesti berhadapan lagi dengan jalanan tanpa aspal. Namun tak panjang. Gua Cina memiliki dua bagian pantai. Yang bagian barat memiliki ombak yang lebih tenang, karena terhalang karang besar yang melindunginya.

Sedangkan di sisi timur, lebih lowong menghadap Samudra Hindia. Otomatis, deru ombak yang berbunyi cukup dahsyat. Saya lebih memilih sisi yang ini, tentu saja karena lebih menarik untuk dibidik, ditambah, sinar jingga mentari terlihat jelas dari sini. Saya cukup betah di sini. Tapi cahaya yang makin meredup dan malam pun mulai menaik, itulah yang menyadarkan saya bahwa perjalanan di Malang Selatan mesti berakhir. Hope I see you again.

Pantai Gua Cina

Lokasi                   : Gedangan

Tiket masuk        : Rp5.000

Kendaraan          : Rp5.000

Fasilitas                : Warung makan sederhana, kamar mandi

Catatan                 : Ada dua bagian pantai, areal yang lebih tenang ombak bisa untuk berenang, sedangkan sisi lain pas untuk dibidik kamera

 

 

-PJLP-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s