Enjoy Jakarta

EJ-heritage-uq-50x70-FA_preview
Photo by Tourism Jakarta.

Saya merasa bersalah pada Jakarta. Mengapa? Begini ceritanya. Jadi, tiap kali ada yang bertanya mengenai Jakarta, khususnya mereka yang berasal dari luar Indonesia, saya kerap kali menyarankan agar mereka jangan ke Jakarta. Buang-buang waktu. Tak ada yang menarik dari kota itu. Begitu komentar saya. Terakhir saya lakukan ketika trip ke Myanmar Mei lalu. Saya dengan lantang mengatakan Jakarta adalah kota yang membosankan. Sudah macet, banyak pula pusat perbelanjaan di mana-mana, mana menarik sih? Ya Tuhan, saya sungguh penghuni Jakarta yang tak tahu diri.

Beberapa waktu kemudian saya mendapatkan pencerahan (berlebihankah jika saya sebut ini sebuah pencerahan?). Waktu itu saya sedang liputan staycation di salah satu hotel di Jakarta Selatan. Saat makan malam, saya sempat berbincang dengan sang General Manager yang berasal dari Swiss. Pembicaraan kami mengerucut pada bahasan Jakarta dengan segala keriwehan yang menyertainya. Saya dengan penuh keyakinan menyatakan tidak pernah menyarankan orang-orang untuk berkunjung ke kota ini. Ia memandang saya dan menyatakan kenapa tidak? Ada banyak hal menyenangkan kok dari kota ini, katanya. Jakarta memang macet, tapi selalu ada sisi baiknya kan. Seperti iya bisa tidur sejenak selagi di kendaraan saat jalanan macet. Ya ya ya. Tapi alasan itu tidak cukup bagi saya.

Ia pun memuji kawasan asri di Jakarta yang selalu tampak hijau sepanjang tahun, tidak seperti negara empat musim yang pada waktu tertentu daun-daunnya berguguran. Sekejap hilang sudah keasriannya. Saya lantas tertegun. Iya juga ya. Tak pernah terpikirkan sebelumnya. Sang GM pun mengatakan bahwa tamu-tamu  hotelnya yang notabene berasal mancanegara selama ini menyatakan kesan positif mengenai Jakarta. Malah mereka menjadikan menikmati kemacetan di Jakarta sebagai things to do in Jakarta. Semacam belum afdol ke Jakarta kalau nggak kena macet. Poin terpenting yang ia tekankan bahwa sayalah yang harus mengubah sudut pandang ketika melihat Jakarta. Jangan terpaku dengan hal-hal negatif semata. Seolah ditampar, terlebih karena seorang outsider yang baru beberapa bulan tinggal di Jakarta tapi bisa merengkuh kota ini apa adanya, dibandingkan saya yang sudah 25 tahun menetap di sini.

Setelah direnungkan lebih dalam, Jakarta ternyata tidak seburuk itu. Apalagi dengan perkembangan dan pembangunan kota yang menurut saya makin ke sini makin membuat Jakarta menjadi daerah yang lebih ramah. Lihat saja sarana transportasi yang makin membaik. Commuter Line terasa manusiawi untuk dinaiki. Jalur Trans Jakarta yang makin meluas. Banyak taman-taman kota yang menambah keasrian. Wilayah-wilayah banjir sudah mulai diamankan satu per satu berkat bantuan pasukan oranye. Belum lagi jalanan yang mulai diaspal mulus. Dan sebagainya dan sebagainya.

Transformasi kota yang makin ke arah yang lebih baik masih terasa belum maksimal. Masih saja menyisakan pertanyaan, apa yang bisa saya lakukan untuk menikmati Jakarta? Nampaknya tak banyak yang bisa dilakukan, walaupun untuk sekadar piknik di kota sendiri. Hingga berpikiran untuk menjadikan mal dan pusat perbelanjaan menjadi jawaban terakhir untuk persoalan ini. But hey, Jakarta always surprise me in unexpected  ways! Nyatanya ada banyak cara untuk menikmati Jakarta. Dari yang gratis hingga mengeluarkan sepeser Rupiah. Saya sendiri punya beberapa trik untuk menyatu dengan kota ini. Menyeruput setiap ruang dan waktu dari kota yang terkadang bikin kangen juga kalau lagi berpergian. Inilah cara saya menikmati si Jayakarta.

Visit Museum

20160619_125150.jpg
Museum Nasional yang kerap disebut juga Museum Gajah.

Tidak banyak yang menyukai ke museum. Karena membosankan. Suram. Sedikit menyeramkan. Semua benar. Saya sendiri melihat museum sebagai tempat menyenangkan, bukan untuk foto-foto saja, tapi untuk kembali ke masa lalu dan belajar banyak hal dari sejarah. Di Jakarta sendiri ada banyak museum. Tapi hanya sebagian yang menarik, too bad sih. Saya punya dua yang favorit, Museum Bank Indonesia dan Museum Nasional. Koleksi keduanya beragam dan menarik.

Di Museum Bank Indonesia kita bisa mengenal bagaimana pertama kali dunia perbankan di Indonesia, mengenal asal muasal Bank Indonesia hingga masuk ke ruang brangkas di bawah tanah. Sedangkan Museum Nasional itu semacam gudang sejarahnya Indonesia. Segala kisah zaman kerajaan-kerajaan tempo dulu, lengkap dengan pernak-perniknya yang memukau turut menghiasi museum yang biasa disebut juga Museum Gajah.

Saya sendiri punya beberapa museum yang ingin didatangi, seperti Museum Djoeang 45, Museum Bahari, Museum di Tengah Kebun, Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Museum Harry Darsono, Museum Layang-Layang, Museum Tekstil, dll. Kemarin saya menemukan beberapa museum independen dari artikel destinasian.co.id yang menyebutkan Rumah Baru Pelukis Juang, Museum Cemara 6, Yuz Museum Shanghai, dan Instalasi Sunaryo sebagai empat museum yang dikelola swasta yang memiliki koleksi yang tak kalah menarik. Dengan beban biaya yang tak seberapa, ide ke museum bisa menjadi sarana untuk memperluas wawasan sekaligus alternatif hiburan.

Akhir Pekan di Museum

13537756_825845134216938_1534940216573672305_n
Photo by Akhir Pekan di Museum.

Nah kalau yang ini masih segar di ingatan. Baru pekan lalu saya ikutan Akhir Pekan di Museum. Ini merupakan program spesial dari Museum Nasional yang bekerja sama dengan Teater Koma. Program bulanan yang sudah dilakoni sejak beberapa tahun lalu ini merupakan pentas teater sekitar 30 menit dengan konsep storytelling sejarah yang berkaitan dengan salah satu koleksi milik museum. Kalau kemarin ceritanya mengenai utusan dari Kerajaan Banten yang bertandang ke negeri Inggris dalam setingan Sungai Thames yang tersohor itu. Lewat lakon dari beberapa pemain Teater Koma, penonton akan diajak untuk lebih mudah mendengar ocehan sejarah ketimbang membaca panduannya lewat buku ataupun papan penjelasan di museum. Sesudah pertunjukan, tim pertunjukan menyediakan short tour untuk mengunjungi beberapa titik di museum yang berkaitan dengan cerita pementasan. Disediakan juga peta jelajah yang menceritakan fakta-fakta mengenai sejarah yang bertalian.

Atraksi seni dan sejarah yang atraktif ini pas untuk segala usia. Kemarin malah cukup banyak penonton anak-anak yang turut menyaksikan pentas dongeng, begitu sebutannya. Bulan depan akan ada pementasan lainnya dengan tema Kemana Angin Bertiup, Ke Sana Meriam Ditunjuk. Diadakan pada 24 Juli 2016, dengan waktu pementasan jam 09:00, 10:00, dan 11:00. Bagi yang berminat bisa mendaftarkan diri via Twitter @museum_weekend. Lihat timeline mereka untuk arahan registrasi. Untuk biaya, hanya dengan membayar tiket masuk museum sebesar Rp5.000 dewasa dan Rp2.000 anak-anak.

Walk With @JKTgoodguide

poster-jgg-travel-mart-revise-free-walking-tour
Photo by Jakarta Good Guide.

Setahun terakhir nama Jakarta Good Guide seliweran di media sosial. Aksi yang mereka lancarkan tentu saja menarik minat. Jalan kaki mengitari titik-titik istimewa dari kota ini sembari mendengar kisah-kisah terselubung yang melingkupinya. Dalam dua jam berjalan kaki, partisipan akan dibawa menuju beberapa rute pilihan, antara lain China Town, Old Town, Pasar Baru, Cikini, Menteng, Jatinegara, dan lain-lain.

Dari setiap rute, kamu akan diajak bertemu pandang dengan simbol sejarah maupun lambang budaya dari kota ini. Tur singkat, padat dan menarik ini akan ditemani seorang pemandu yang berujar banyak mengenai bangunan-bangunan yang dilewati. Sebagian besar berupa cerita sejarah. Tapi waktu itu saya sempat mengikuti Night Walking Tour dengan rute Old Town. Pada tur itu ada beberapa kisah mistis yang turut dibagikan si pemandu.

Dalam rangka ulang tahun Jakarta, Jakarta Good Guide mengadakan Jakarta Walking Tour Festival yang membuka semua rute pada 25 Juni 2016. Saya ikutan yang rute Jatinegara. It was fun! Di kawasan yang riweh dan terkesan berantakan ini ternyata menguak banyak kisah mengenai asal muasal dinamakan Pasar Mester-lah, lalu ada vihara yang berada di dalam gang yang nggak mungkin kita tahu keberadaannya kalau tidak blusukan serta masih banyak lagi. Pastinya saya akan tulis di postingan terpisah. Tapi sejauh ini, selama tiga kali mengikuti Jakarta Walking Tour saya merasa makin mengenal kota ini dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin karena fakta-fakta menarik yang nggak akan mungkin kita ketahui jika tidak mengikuti tur.

Kalau tertarik untuk ikut serta, bisa buka laman situs dan mendaftar pada kontak yang tersedia. Sebaiknya mendaftar lebih awal, karena satu kali perjalanan dibatasi jumlah peserta. Tapi kalau ingin lebih privat, bisa juga dengan reservasi private trip. Mereka terbuka untuk opsi tersebut.Jakarta Walking Tour menjadi penyegaran bagi mereka yang ingin mengenal lebih dekat kota ini. Mungkin enggan mengikuti tur yang lebih kaku dan menyita biaya, Jakarta Good Guide berdiri dengan konsep pay as you wish, alias tur ini sesungguhnya gratis, tapi kamu bisa memberikan tip dengan nominal sesuai dengan tingkat kepuasan selama mengikuti tur.

Mpok Siti

Bus-City-Tour-Jakarta
Photo by Telusuri Indonesia.com

London punya Double Decker. Singapura memiliki SIA Hop on Bus. Bandung tak mau kalah dengan Bandros. Kalau Jakarta, ada Mpok Siti. Bus tingkat yang membuat generasi 90-an ke atas terkenang akan kendaraan ikonik yang sempat meramaikan jalanan ibukota masa lalu kini menjadi salah satu elemen pendukung pariwisata Jakarta. Tanpa memungut Rupiah sama sekali, siapa saja bisa leluasa untuk menikmati bus yang super nyaman, bersih, ber-AC serta pasti dijamin duduk (karena bus ini melarang penumpang berdiri) sambil sekilas melihat-lihat Jakarta dari balik jendela.

Fungsi awalnya sebagai moda transportasi yang akan memudahkan para pelancong untuk menikmati Jakarta walau hanya sekilas. Namun para penghuni Jakarta bisa pula menggunakan sebagai salah satu kendaraan alternatif untuk mencapai beberapa titik di pusat Jakarta. Jika ingin menaiki Bus Mpok Siti, ada beberapa lokasi perhentian yang berfungsi sebagai halte.

Mpok Siti sendiri dinamakan demikian karena semua supir bus adalah perempuan, makanya disebut mpok (panggilan perempuan dalam Bahasa Betawi). Sedangkan Siti sendiri merupakan plesetan dari kata city. Mpok Siti beroperasi setiap Senin hingga Sabtu, dari pukul 09:00 hingga 19:00. Untuk hari Minggu mulai dari jam 12:00 sampai 19:00. Di waktu senggang jika ingin keliling Jakarta, sok atuh naik Mpok Siti.

 

Sunset, Layangan dan Kerak Telur

Ramadan, Wisata Malam Monas Diusulkan Setop Sementara_2
Photo by Tourism Jakarta.

Terlalu “chessy”-kah untuk menikmati senja di Monas? Nggak ah. Saya cukup terkejut bahwa duduk-duduk manis di Monas menjelang senja itu ternyata menyenangkan. Hiraukan saja keramaian dan mas serta mbak-mbak yang asyik duduk berdua-dua sembari menatap satu sama lain. Pandangi Monas dengan bias jingga yang cantik itu. Monas ternyata keren juga untuk menikmati sunset. Sebenarnya lebih keren lagi kalau dari Stasiun Gambir. Tapi susah kan, masa mesti naik kereta api dulu buat menikmati matahari terbenam. Duduk-duduk saja mungkin sedikit garing, coba beli layangan dari penjual yang lumayan seliweran dekat tugu Monas. Asyik sih main layangan di sini. Sekalian juga beli Kerak Telur yang menjadi sajian khas si ibukota.

Commuter Line Tercinta

1705263Wajah-Baru-Stasiun-Komuter-151464599644-preview780x390
Photo by Tourism Jakarta.

Dibanding naik Trans Jakarta, saya lebih memilih naik Commuter Line. Lebih cepat, harga terjangkau dan nyaman. Naik kereta itu punya kesan berbeda bagi saya. Jadi kadang-kadang saya menggunakan transportasi ini kalau ingin tenggelam dengan dunia sendiri. Biar lebih maksimal, saya selalu prepare buku dan playlist terbaik untuk menemani sepanjang perjalanan. Membantu banget lho.

Selain menikmati perjalanan dengan menaiki Commuter Line, saya juga suka banget dengan suasana Stasiun Kampung Bandan yang bernuansa lawas. Asyik man duduk-duduk di stasiun, dengar musik sambil memandang lahan kosong dengan ilalang bertebaran. Kalau malam tiba, hanya cahaya bangunan, khususnya dari gedung Alexis..hahaha, but somehow I found my inner peace. Pernah tuh saya keasyikan duduk nunggu kereta sambil dengarin True Love-nya Coldplay berulang kali, bahkan melewatkan beberapa kereta karena saking pewe-nya. It’s heaven!

Anyway, kemarin saya habis lihat di Twitter-nya Commuter Line kalau mereka membuka kembali rute ke Jakarta Kota-Tanjung Priok per 25 Juni 2016. Ah senang banget! Dari dulu penasaran sama stasiun itu. Katanya vintage cantik gitu. Jadwal paling pagi dari Stasiun Jakarta Kota mulai pukul 06:35 sedangkan paling akhir pukul 17:00. Kalau dari Stasiun Tanjung Priok sendiri kereta beroperasi dari pukul 07:55 dan 17:50 sebagai penutup.

Go Green!

taman-menteng1
Photo by Tourism Jakarta.

Seperti saya ungkapkan sebelumnya, taman-taman kota di Jakarta sudah menjadi ruang publik yang menyenangkan bagi penduduk lokal. Dulu saya iri dengan kota yang memiliki taman yang super menyenangkan. Seperti Taman Segitiga di Sawahlunto yang nyaman di malam hari, serasa di Star Hollows ala Gilmore Girls dan sudah dilengkapi jaringan internet, bahkan jauh sebelum Jakarta mengikutinya. Atau seperti di Ho Chi Minh City ataupun Hanoi yang memiliki taman-taman kota yang asri, lengkap dengan alat-alat olahraga. Lalu di sisi lain ada sekelompok orang sedang melakukan tai chi ataupun berlatih alat musik. Kan menyenangkan ya!

Akhirnya Jakarta mulai memberdayakan taman kota sebagai arena rekreasi bagi para penghuninya. Coba lihat Taman Suropati yang dulunya terlalu rimbun dan terkesan menyeramkan kini berubah rupa menjadi mini Central Park ala Jakarta. Kalau malam nampak romantis. Siang pun begitu teduh. Taman Menteng juga menjadi sarana olahraga dan tempat berkumpulnya komunitas. Taman Ayodya dan Taman Langsat sudah berubah menjadi areal yang ramah bagi segala usia. Malah saya pernah membaca ada pasangan yang menggelar pernikahan di Taman Langsat. Seru ya! Boleh banget sekali-kali mencoba ganti suasana tanpa harus ke mal tiap akhir pekan. Coba menghirup udara bebas dengan bercengkerama bersama alam.

Massage Parlours

slide-2
Photo by Nano Healty Family.

Kenapa saya memasukkan pijat ke dalam daftar kegiatan yang saya lakukan untuk menikmati Jakarta? Karena Jakarta punya beberapa tempat pijat terbaik yang pas banget bagi para massage addict. Mengutip salah satu tulisan yang pernah saya baca, bahwa memijat selama 45 menit diketahui menghasilkan perubahan sel darah putih dan limfosit yang bertanggung jawab melindungi tubuh dari infeksi kuman. Jadi tak salah kalau dipijat itu punya peran positif bagi raga ini. Saya termasuk penikmat pijat. Katanya saya terlalu jompo karena keseringan pijat. Hell no! I mean pijat itu cari rileksnya. Tubuh jadi nggak terlalu kaku. Melenturkan lagi otot yang mengkerut. Selain itu pijat adalah salah satu cara untuk membunuh waktu dan menikmati sisi lain dari kota ini yang menawarkan paket istimewa bagi penghuninya.

Nah, kalau di Jakarta sendiri ada satu tempat yang selalu jadi langganan saya untuk me time, yaitu Nano Healthy Family. Nano sendiri tersebar di beberapa lokasi yang menurut saya kurang strategis sih, tapi bagaimana lagi, ini adalah salah satu massage parlour yang memuaskan servisnya dengan harga terjangkau, tidak seperti kompetitornya. Dengan desain dan suasana yang dibuat mewah dan fasilitas pendukung yang tak tanggung-tanggung, Nano terkenal akan treatment refleksinya. Tapi saya sendiri lebih menikmati massage treatment-nya. Kalau lagi malas ke Nano di Mall of Indonesia (saya biasa ke situ), alternatif lain adalah Kokuo dekat Sarinah. Kalau Kokuo lebih ke refleksi sih. Ada juga sebenarnya massage-nya, tapi hanya di outlet Lotte Avenue.

Art Exihibition

Poster SG 47 x 60 cm ver 5
Photo by Teater Koma.

Bagi pecinta seni atau yang tertarik dengan seni atau hanya sekadar ingin menikmati sesuatu yang berbeda, saya bisa sarankan untuk mengunjungi pameran-pameran seni yang kerap diadakan secara reguler ataupun seasonal. Beberapa nama seperti Galeri Nasional, Galeri Indonesia Kaya juga Komunitas Salihara kerap menjadi sarana terbaik bagi kamu yang ingin menikmati seni. Rajin-rajin saja pantau akun media sosial mereka untuk info pertunjukan ataupun pameran seni.

Kalau bosan nonton film di bioskop, mungkin ide menonton teater bisa jadi alternatif. Saya sih suka nonton pementasannya Teater Koma. Yang terakhir Semar Gugat itu benar-benar menghibur. Nonton empat jam pertunjukan tidak terasa lama. Iya saya tahu kalau menonton teater itu tidak semua orang menyukainya. Tapi nggak salah juga kalau mencobanya sekali. Kalau nggak suka, ya besok-besok nggak usah nonton lagi. Setidaknya bisa tahu rasanya seperti apa. Sayang kan tinggal di kota sedinamis ini tapi kita kurang pengalaman untuk menikmati hal-hal lain di luar zona kenyamanan.

Sebenarnya masih ada beberapa hal dan aktivitas seru yang masuk dalam list saya, maybe next time. Atau bisa saja intip situs resmi Tourism JakartaIn the end, happy bithday my lovely city.

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s