People I’ve Met While Traveling

Some said that the journey is more rewarding than the destination and it’s the people you meet along the way that enrich the experience. So damn true. Proses perjalanan itu yang paling membekas. Tiba di tujuan adalah sebuah gol. Sedangkan berinteraksi dengan pelakon lainnya menjadi pelengkap yang sempurna.

Bukan hanya kehidupan saja yang membawa kita bertemu dengan orang-orang yang memberi peran positif, negatif bahkan sama sekali tak membawa dampak apapun. Begitu pun sebuah perjalanan, di mana kita berpapasan dengan mereka yang masuk dalam frame atau hanya menjadi subjek anonim yang sekelebat melintas.

Dalam beberapa safarnama, saya beruntung bisa bertemu dengan mereka. Sosok-sosok yang menjadi inspirasi untuk tulisan saya kali ini.

 

Long Neck Womans

image
Meeting extraordinary womans.

Salah satu highlight dari perjalanan ke Myanmar kemarin adalah boat trip di Inle Lake mengunjungi Suku Kayan yang terkenal karena kaum wanitanya memiliki tradisi unik. Di sebuah rumah apung dari kayu saya akhirnya bertemu muka dengan muka dengan beberapa wanita-wanita ramah, sedikit pemalu, lengkap dengan kalung-kalung dari logam berwarna emas yang menghiasi seluruh bagian leher. Inilah Kaum Kayan, yang kerap disebut wanita berleher panjang.

Di rumah seni yang menjadi tempat mereka menjual hasil kerajinan seperti kain, ukiran, dan patung, saya bisa melihat lebih lekat seperti kalung keramat yang dibangga-banggakan mereka. Mereka tak banyak bicara, karena memang tak fasih Bahasa Inggris. Hanya senyum dan sekilas kisah dari kertas petunjuk yang mengatakan berat kalung pada wanita dewasa bisa mencapai 10 kg. Kalau untuk anak-anak, biasanya hanya mencapai 4 kg saja. Saya kagum melihat betapa luar biasa konsekuensi yang mesti mereka lakukan seumur hidup untuk menjalankan tradisi istimewa ini. Menjalani kehidupan sambil membawa beban 10 kg ke mana-mana. Apalah kita, lelah sedikit saja sudah mengeluh minta ampun. Pertemuan dengan wanita-wanita hebat ini sesungguhnya menjadi satu bagian penting dari perjalanan saya, walaupun membawa kerisauan kalau nantinya akan terjadi eksploitasi budaya terhadap kaum ini.

Bapak Abner

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Nge-gembel banget pakai sandal jepit.

Alor adalah kepingan surga bawah laut bagi para penyelam. Tapi jangan lupakan Kampung Takpala yang punya pemandangan cantik yang menghadap lautan biru. Kampung adat ini menjadi salah satu menu wajib kalau kalian ke Pulau Alor. Sebagai desa wisata, Takpala membawa pendatang untuk melihat lebih dekat dengan kehidupan masyarakat lokal di sini. Kampungnya ditata rapi dengan bangunan rumah yang masih dibuat dari kayu, bambu, dan material tradisional lainnya.

Waktu itu saya ke sana dalam rangka liputan. Di sana disambut beberapa tetua adat, salah satunya Bapak Abner yang gagah dengan pakaian kebanggannya. Beliau bisa kok ngomong Bahasa Indonesia, makanya saya bisa lancar wawancara beliau. Sambil berdiri, kami asyik ngobrol, beliau cerita banyak hal mengenai kebiasan kampung ini sambil makan pinang. Iya, masyarakat di sini gemar makan pinang, bagus katanya untuk gigi. Malah sebenarnya ada ritual, bagi setiap tamu akan dihidangkan pinang untuk dikunyah, sebagai seremoni penyambutan. Cuma waktu itu saya nggak makan pinang, teman saya yang makan. Katanya rasanya “ajaib”. Nah waktu wawancara ini sempat di-candid sama salah satu pegawai Pemda yang menemani. Saya nggak tahu difoto sampai akhirnya lagi cek-cek hasil foto dan ketemu foto ini. Semoga Bapak Abner sehat-sehat saja ya di sana. Ah, jadi rindu Alor!

 

From Strangers to Friends

1379328975134
Di Pulau Liukang Loe.

Setelah eksplor Tana Toraja, saya dan Eka melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Bira di Bulukumba. Kami menginap di Guest House Salassa yang mendapat komentar positif, khususnya dari pelancong mancanegara. Di hari kedua, kami berkenalan dengan Lilita dan Jeane yang baru check-in pagi itu. Kami pun sepakat untuk sharing cost sewa kapal ke Pulau Liukang Loe. Ternyata Lilita dan Jeane membawa dua bodyguard, Mail dan Baon. Jadilah makin banyak peserta, makin sedikit biaya yang dikeluarkan. Yeay!

Selesai island hopping, ngobrol-ngobrollah kami. Ternyata kami berada di flight yang sama ke Jakarta. Dan tanpa diduga flight kami delay hingga 4 jam. Secara random kami memutuskan untuk sewa mobil bersama dan kembali ke Makassar lalu menghabiskan waktu dengan kulineran di kota. 3 tahun lewat, ternyata hubungan kami tak sebatas sharing cost semata. Dari situ lahir perjalanan-perjalanan berikutnya, dengan peserta yang makin ramai, muka-muka baru yang kemudian jadi teman. Rasanya menyenangkan bisa menemukan orang-orang dengan kesukaan yang sama dan akhirnya bisa menciptakan perjalanan-perjalanan berikutnya.

Super Cute Koala

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Alana-Cute Koala-Me.

Saya nggak bisa dibilang penyuka segala binatang sih. Nggak pernah menyukai jenis reptil. Eh tapi berhasil pegang dan foto sama aligator, mini aligator sih. Tapi kalau diajak ke kebun binatang, pasti mau-mau saja. Waktu di Gold Coast, saya diajak Alana, host saya di sana ke salah satu kebun binatang, malam-malam. Seru sih, nggak pernah kan ke kebun binatang malam-malam. Selain dikasih kesempatan untuk memberi makan kangguru, satu yang paling saya sukai adalah bisa gendong koala.

Lucu bangeettt! Saya dan Alana dikasih seekor koala lucu yang super anteng dan menggemaskan. Mau digendong siapa saja. Nggak bau. Agak berat. Saya suka foto ini. Lucu soalnya ekspresi si koala. Padahal kami berdua sudah siap tebar senyuman, tapi entah ada distraksi apa sampai si koala ini menengok ke arah lain. Tapi jadinya lucuuuu. Di samping bermain sama koala, saya menikmati perjalanan bersama Alana. She’s a good host. Mau nemenin ke mana aja. Dari pegang aligator sampai naik roller coaster yang menegangkan di Dream World. Seru-seru! Alana sendiri bekerja di Tourism Gold Coast, dulunya sempat tinggal di London, Tokyo, Sydney, sampai akhirnya pindah ke Gold Coast karena jatuh cinta dengan suasana kota itu. Benar sih, Gold Coast memang salah satu kota yang menyenangkan di Queensland, selain Cairns. Kapan-kapanlah saya cerita.

Bila Ingat Akan Kembali (BIAK)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Woohoooo!!!

Saya pernah cerita mengenai mereka di tulisan My Dear Little Friends. Dan merasa mesti mengulangi lagi, karena ini salah satu foto favorit saya. Jadi waktu itu saya sedang liputan ke Biak, tentu saja ke pantai-pantainya yang cantik. Di Pantai Parai yang sepi, ada gerombolan anak-anak yang asyik main air tanpa peduli sekitarnya, sampai mereka terinterupsi dengan kehadiran saya dan Edo, teman saya.

Bukan merasa terganggu, mereka malah senang kegirangan dijadikan objek foto. Sibuk lompat sana-sini. Lari-larian. Termasuk mau diajak foto bersama seperti foto di atas. Ah, mereka-mereka ini yang membuat saya rindu Sorong. Membuat saya menikmati perjalanan capai-capai liputan bangun subuh kejar sunrise, nanjak-nanjak ke air terjun atau turun ke gua atas nama kerja.

 

Jadi Keluarga Besar Dadakan

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Udah kayak foto keluarga.

Kali ini giliran Jepang yang masuk dalam pilihan saya. Well, salah satu media trip favorit saya adalah waktu ke Tokyo 2012 silam. Persis bulan Juli. Yang menyenangkan tentu saja karena pesertanya seru-seru, padahal kami belum saling kenal, kecuali saya dan Ina. Dan perjalanannya sendiri pun bikin girang. Nah suatu malam kami diajak ke kawasan Ropongi. Di salah satu restoran di sana kami diajak makan malam. Selesai itu, ada pertunjukan semacam teater tapi genrenya action ala kolosal gitu. Panggung yang kelihatannya sempit, bisa disulap super ajaib dengan beberapa tingkatan.

Padahal kalau dipikir-pikir, restorannya sih kecil, tapi selalu fully-booked. Dan pertunjukannya sendiri cukup spektakuler deh. Yang bikin menarik adalah para pemerannya kece-kece pisan. Jadi sebelum show dimulai, mereka akan datangi meja per meja dan memperkenalkan diri ke tamu sambil membawa kartu, semacam kartu nama yang menunjukkan nama panggung mereka serta foto diri. Semacam jumpa fans gitu. Trus setelah show, siapa saja bisa foto bersama dengan mereka di panggung. Ya karena kami nontonnya ramai-ramai, jadilah satu rombongan naik panggung dan disaksikan banyak pasang mata dalam sekejab. Siteng juga sih, karena dilihatin, tapi ya sudahlah. Tapi setelah dipikir-pikir, bagaimana nggak dilihatin, wong kami keramaian yang naik. Jadi kayak foto keluarga. Mana pemainnya juga banyak pula. Makin penuh tuh panggung.

 

Sesak di Penanjakan

20130428_055058
Me and bunch of people.

Salah satu perjumpaan di perjalanan yang membawa dampak kurang baik adalah cameo-cameo yang muncul di self potrait waktu di Pananjakan. Lautan manusia berkumpul di sini dengan satu misi, yakni melihat hari baru menghadap tiga serangkai, Semeru-Bromo-Batok. Cukup susah untuk foto (bukan selfie aja ya) dengan latar tiga gunung tersebut. Dari angle mana saja, pasti “bocor”.

Saya lebih kecewa lagi karena berpapasan dengan mereka-mereka yang tak punya etika yang baik ketika berpergian. Tentu saja asalnya dari negeri sendiri. Apa enaknya lihat matahari terbit tapi di depan mata ada banyak kamera, tablet, telepon genggam diangkat setinggi-tingginya untuk mengabadikan momen. Langsung drop. Berdiri pun dempet-dempetan dengan sekitar, saling sikut dan dorong demi mendapat titik terbaik. Untung semua langsung sirnah begitu kabut membuka tabir dan mempertontonkan pentas utama. Salah satu sunrise terbaik di Indonesia walaupun penuh perjuangan untuk menikmatinya ya. Benar kata orang, segala sesuatu yang baik nggak didapat dengan mudah.

 

Super Fun Rafting

IMG_3627
Photo by Songa Adventure.

Pertama kali rafting di Sungai Pekalen. Deg-deg-an juga sih, karena grade-nya masuk di angka III. Dan dengar-dengar sebagai salah satu yang terbaik di Jawa, khususnya Jawa Timur. Trus kepikiran, kan cuma berdua Eka aja, masak kami satu perahu cuma berdua plus pemandu? Bakal kebalik nggak tuh perahunya? Ternyata begitu sampai di base camp, kami digabung dengan grup lain yang ternyata berjumlah ganjil. Mereka cuma bertiga. Akhirnya kami dijadikan satu tim, saya, Eka, dua mas dan seorang mbak. Kami cuma kenalan sekilas karena sesudah itu sibuk menerima instruksi pemandu mengenai istilah-istilah dalam dunia rafting. Makin nggak fokus karena saking banyaknya instruksi. Akhirnya kami berjanji saling mengingatkan satu sama lain.

Untuk menuju sungainya saja kami mesti naik mobil bak terbuka, berdiri menantang angin dan sesekali tersambit daun pohon. Lalu dilanjutkan jalan kaki melewati jalanan bertanah merah sekitar 300 meter, kemudian menepi di sungai. Sepanjang dua jam, kami yang tak saling kenal berusaha sekuat tenaga menantang jeram Pekalen yang dahsyat, termasuk disiram beberapa air terjun yang dilewati. Seru banget! Situasi bisa mengubah orang ya. Sama seperti kami. Senasib disatukan dalam satu perahu, mau nggak mau mesti kerja sama biar semua selamat tiba di tujuan. Termasuk mesti susah payah mengeluarkan perahu yang tersangkut di batu. Susaaahh man. Terus saling memberi semangat waktu mesti lompat dari atas tebing, karena beberapa dari kami langsung menciut nyalinya. Pada akhirnya kami berlima, eh berenam dengan si pemandu sampai di tujuan tanpa kekurangan suatu apapun. Thank God.

Ps: Tulisan ini merupakan bagian dari propaganda #MomiNat, program menulis blog yang saya giatkan bersama Cici @Innath. Tema kali ini adalah photos of story dengan objek people, di mana kami mesti posting 8 foto dengan objek manusia dan menyertakan sedikit cerita mengenai orang tersebut.

 

-PJLP-

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s