Uji Nyali di Pantai Timang

dsc_000005
Reward to myself. Photo by Awe.

Sebelum terlambat. Sebelum terlalu tua. Sebelum nyali menciut karena waktu merengutnya, lakukanlah hal-hal yang nampak ekstrem, namun kemungkinan besar tidak akan disesali di kemudian hari. Itu salah satu wangsit yang saya dapat sebelum ganti usia di Pantai Timang.

Ceritanya saya ingin mengungsi dari Jakarta, semacam weekend getaway, sebenarnya solo birthday trip sih. Tujuan awal Pacitan. Lalu beberapa minggu sebelumnya ramai betul ya berita gelombang tinggi di pantai-pantai selatan Jawa. Saya pun jadi meragu mau ke Pacitan. Tapi sudah keburu beli tiket kereta ke Yogyakarta. Ya sudahlah, saya kemudian memutuskan untuk santai saja di Jogja. Kota ini memang nggak pernah bosan untuk dikunjungi. Dari awal memang nggak punya agenda khusus sih mau ke mana. Jalan santai aja tanpa tergesa-gesa dengan waktu dan destinasi. Lalu diajakin sama premannya Jogja, Kristi, buat main-main ke Pantai Timang. Yo wis-lah, saya hayuk aja. Kristi juga ngajakin dua temannya. Yang satu kuncennya Wonosari, Puji, yang satu lagi Mas Awe yang kalem.

Slow motion banget pergerakan kami hari itu. Woles banget. Saya sampai di Jogja jam 4 subuh, duduk-duduk santai sambil sarapan di Stasiun Tugu. Jam setengah tujuh meluncur ke rumah Kristi. Kami ngobrol-ngobrol, icip-icip Lumpia Gang Lombok (lho kok bisa makan ini?), lalu mager, kemudian sadar kalau mesti mandi dan siap-siap. Dari rencana jalan jam 8 jadi molor sampai setengah 10 lewat. Anaknya woles banget.

Perjalanan diawali dengan sarapan di Brongkos Bu Handayani dekat Alun-alun Kidul. Udahlah jangan ditanya rasanya, selalu jadi favorit saya. Cuma 20 ribuan aja kok dan perut sudah kenyang. Trus lanjut jemput Awe dan Puji, then we’re off to Gunung Kidul. Seingat saya dulu kalau mau ke Gunung Kidul itu terasa jauh dan lama. Tapi suprisingly kemarin lewat jalan potong gitu, navigator-nya Puji. Kami lewat Jalan Imogiri, lurus terus sampai daerah Panggang, masih lurus and voila, sampai. Kurang dari dua jam sudah tiba di area masuk Pantai Timang. Itu pun sudah termasuk berhenti untuk ke mini mart dan makan bakso.

Dari jalan raya, mobil belok kanan, tentu saja jalanan makin kecil dan nggak mulus lagi. Palingan belum sampai 500 meter mobil disuruh berhenti dan diparkir, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke arah pantai dengan sewa ojek. Katanya yang bisa masuk cuma mobil 4WD aja, tapi saya berpikiran ini cuma alasan warga lokal supaya memberdayakan penduduk sekitar. Kalau mau sewa ojek harganya Rp50.000 pp, termasuk biaya menunggu. Kalau mau jalan kaki juga bisa, tapi kami “ditakuti” mereka dengan jarak tempuh sejauh 3 km. Ya sebenarnya sih nggak masalah juga jalan kaki sejauh itu, tapi yang jadi persoalan bakal ada tanjakannya. Saya kan malas capai-capai nanjak. Pengen liburan kali yang menyenangkan gitu, tanpa perlu ngos-ngosan. Terus kalau jalan nanti malah bikin lama lagi karena nungguin saya, jadi nggak enak kan. Akhirnya kami sepakat sewa ojek aja, tapi setelah menawar Rp40.000 untuk jasa pengantaran.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gambaran trek menuju Pantai Timang.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Naik ojek kelihatannya seru sih, tapi…

Naik motor menuju Pantai Timang tuh nggak menyenangkan sih. Asli. Jalanan berbatu tentu sudah bikin nggak nyaman. Belum lagi sering melorot di kursi penumpang, bikin saya seluncur sana-sini di tempat duduk karena tanjakan atau turunan. Pegangan di besi belakang juga nggak membantu. Pegangan ke supir ojek? Menurut lo aja. Tapi ini jauh lebih better ketimbang naik motor di Situs Gunung Padang (Cianjur), perjalanan 15 menit di mana hidup dan mati cuma beda tipis.

Sebenarnya nggak sampai 10 menit udah sampai di tujuan sih. Tapi terasa panjang dan lama. Di jalan sempat papasan sama mobil Inova yang rada maksa lewat jalanan berbatu. Sepertinya bisa-bisa aja kalau mau nekat. Anyway, posisi tempat parkir motor di atas bukit. Pemandangan sekitarnya cukup menarik, lahan hijau berbukit-bukit. Di sisi lain sudah menawarkan kawasan laut yang langsung menghadap Samudra Hindia. Dari tempat parkir ke area pantai sih udah dekat banget. Cuma menuruni beberapa tangga alami dari tanah dan batuan.

Overall kalian nggak akan menemukan pantai dengan kontur pasir putih yang landai dan ombak yang bersahabat. Nein! Timang tampil ekstrem dengan sepanjang areal merupakan bebatuan, angin yang cukup kencang dan dijamin beberapa jam di sini mesti segera minum Tolak Angin, serta ombaknya yang dahsyat. Jadi kenapa saya bela-belain ke pantai dengan kontur seperti ini kalau nggak bisa leyeh-leyeh cantik? Alasannya satu, mau uji nyali menyeberang ke pulau karang.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pantai Timang yang menakutkan.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Tidak ada pasir, yang ada hanya jajaran batu-batu tajam.

Timang berbeda dari teman-temannya di kawasan Gunung Kidul. Dari tempat saya berpijak terdapat kereta gantung sederhana dari kayu dan tanpa pengamanan dengan standar internasional. Kereta gantung ala-ala ini bisa dinaiki untuk menyeberang ke pulau karang yang jaraknya sekitar 200-an meter. Yang menjadikan ini seru adalah karena bentuk keretanya yang membuat kita ragu maksimal, apakah aman atau nggak buat dinaiki. Plus, walau jaraknya pendek, tapi kita akan melintasi laut dengan ombak yang dahsyat, belum lagi anginnya yang luar biasanya. Again, hidup dan mati cuma beda tipis.

Saya yang percaya diri akan menyeberang langsung melambaikan bendera putih begitu tiba di lokasi. Maaannn, ini bahaya banget. Saya sudah yakin nggak akan nyebrang. Lalu Kristi bilang kapan lagi, udah jauh-jauh ke sini kan. Masa nggak nyebrang. Lalu wangsit pun datang. Iya siiiiiiih. Sebelum terlalu tua dan akhirnya makin parno. Serius sih, makin nambah umur bikin kita jadi makin parno untuk melakukan sesuatu yang berisiko besar. Akhirnya saya mulai percaya diri, ayo nyebrang. Giliran saya udah siap mental, eh tiba-tiba malah Kristi yang bimbang. Setelah proses saling menguatkan satu sama lain, akhirnya kami samperin mas-mas yang mengoperasikan kereta gantung.

Biaya menyeberang Rp150.000 pp. Bebas mau berapa lama di pulau karangnya. Kalau orang asing dikenakan biaya Rp200.000. Saya sempat dikira orang asing, makanya dikasih tarif foreigner. (Emangnya tampang gue terlalu obvious banget ya kayak bukan orang Indonesia?) Setelah proses transaksi kelar, kami langsung menuju kereta. Niatnya mau naik berdua. Oh iya, keretanya bisa dinaiki berdua or bertiga. Tapi kami memutuskan sendiri-sendiri aja, biar dapat fotonya lebih bagus..hehe.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Ombak dahsyat datang tiap saat.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kereta gantung yang bikin deg-degan maksimal.

Saya jadi “korban” pertama. Naik kereta sambil diiringi angin laut yang nggak santai siang itu. Duduk di kursi, ya bukan kursi juga sih, cuma sebilah kayu pendek tanpa seat belt. Pengamannya cuma pegangan aja di kayu-kayu. Ada baiknya jangan terlalu fokus untuk pegang gadget untuk foto-foto. At least ada satu tangan buat pegangan. Serius, kepleset sedikit antara kamu atau gadget sendiri bisa jatuh ke laut. Posisi duduk waktu pergi bukan ke arah pulau karang. Jadi kalau difotoin kamu bisa kelihatan, sekaligus dapat background si pulau karang.

This is it, the moment of truth. Sambil teriak oh my God, finally saya meluncur bebas mengalahkan segala ketakutan. Cuma sekian detik deg-degan, habis itu keasyikan sendiri. Suprisingly it was fun. Ternyata nggak semenyeramkan itu. Serius! Nggak sampai semenit saya sudah tiba selamat di seberang. Padahal kereta digerakkan manual oleh beberapa pekerja. Turun dari kereta sama ribetnya dengan naik kereta. Terlalu banyak tali dan kayu-kayu dengan space yang membatasi pergerakan. Tapi tenang, ada petugas kok yang akan membantu ketika naik dan turun.

Jadi seperti apa pulau karang Timang? Ya pulau dengan karang. Seluruh area ditutupi bebatuan, kebanyakan tajam. Jadi gunakan sepatu atau sandal beralas agak tebal dan anti licin. Kecil banget kok areanya. Di sana bisa foto-foto di depan tulisan PULAU TIMANG. Trus ada area dengan bebatuan yang nggak rata tapi konturnya kayak di mana gitu. Kalau datang pas tengah hari terasa banget sih teriknya. Apalagi nggak ada pohon atau tempat buat berteduh. Trus apa lagi yang bisa dilakukan di sini? Nggak ada sih. Waktu itu disaranin turun ke area bawah, yang dekat dengan laut. Ada tangga dari bambu yang bisa dipakai untuk turun. Aman sih, asal hati-hati saja. Area di bawah sama sekali nggak luas. Mind your step aja. Karena kalau kepleset langsung ke karang-karang.

Cuma beberapa menit di bawah, terus balik lagi ke atas. Sebelum balik kami sempat tanya-tanya petugasnya. Gimana caranya bisa pasang tali dan buat kereta gantung. Jadi waktu air surut mereka dengan berani berenang ke pulau karang lalu memasang pancang dan tali-tali. Yes berenang. Awalnya sih daerah sini buat tempat memancing ikan dan lobster (kalau nggak salah), lalu sekarang jadi atraksi wisata. Dia juga bilang kalau gelombang tinggi, airnya bisa sampai ke puncak pulau karang, ya di tempat kami sedang berdiri ini. Padahal tinggi lho. Dan itu baru kejadian beberapa waktu sebelum kami datang. Lucky us bisa kedapatan kondisi yang aman untuk menyeberang. Batas untuk menyeberang paling sore jam lima.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Mandatory picture. Photo by Herkristi.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pemandangan sekitar bukit karang.

Sebenarnya masih pengen lama-lama di situ, cuma kasihan Awe dan Puji kelamaan nungguin kami di seberang. Nah perkara balik ini yang bikin saya cukup deg-degan. Dari awal sudah salah posisi. Mestinya sih duduknya ke arah tujuan  pulang, bukan menghadap pulau karang. Ditambah saya pegang kamera karena pengen foto-foto. Jadi pas meluncur aman tuh awalnya, agak cepat prosesnya. Tapi tiba-tiba kan melambat dan mesti ditarik manual, apalagi posisinya agak naik. Jadi saya terombang-ambing di atas sedangkan goyangan keretanya tuh terlalu berlebihan dengan tingkat kemiringan yang bikin saya serasa kayak mau kelempar dari kereta. Mana cuma satu tangan yang bisa pegangan. Maannn, itu dalam hati berdoa aja, semoga tangannya bisa kuat pegangan. Karena posisi duduknya terbalik, jadi sama sekali nggak tahu udah mau sampai atau belum. Thank God bisa selamat di tujuan tanpa kekurangan apapun.

Kalau kesulitan mengumpulkan nyali untuk ke seberang, bisa foto-foto di balkon kayu gitu. Saya malah agak parno di situ karena dibangun dari kayu tanpa dipaku gitu, cuma diikat-ikat pakai tali aja. Di area pantai nggak ada toilet tapi tersedia warung jual makanan, kayaknya camilan dan minuman aja sih.

Pada akhirnya saya senang sih bisa mengalahkan rasa takut. Bisa kasih tanda centang di bucket list. A reward for myself, birthday gift for myself.

PS: Terima kasih ya Kristi, Awe dan Puji udah mau temenin si birthday girl ini.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Tiga sekawan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s