Ada Apa di Myanmar?

Arrived in Yangon International Airport! Kemudian saya check-in di akun Path. Secepat itu pula notifikasi muncul dan salah satu teman memberi komentar, “Ada apa di sana? Ditunggu ya foto-fotonya.” Well, kebanyakan orang masih meragukan eksistensi Myanmar sebagai destinasi wisata. Ada apa sih di sana? Memangnya ada yang menarik? Negaranya masih nggak jelas ah! Aman nggak di sana?

Yes I get it! Myanmar bukanlah nama tenar juga familiar bagi kebanyakan orang (khususnya di Indonesia). Bukanlah destinasi wisata yang akan menjadi pilihan pertama. Lalu kenapa saya malah memilih ke sana? Jawabannya karena saya termasuk pelancong yang tertarik destinasi yang nggak biasanya, nggak mainstream, di mana orang-orang masih jarang ke sana. Bagi saya lebih menarik menelusuri sesuatu yang baru sebelum diekspos habis-habisan sesudahnya.

So, I wonder how Myanmar looks like. I guess you do. Rasa ingin tahu yang besar akan negara yang baru membuka diri dengan dunia luar, melihatnya sebagai sesuatu yang asing namun eksotis. Rasanya hal ini cukup untuk mengantarkan saya berkunjung ke Myanmar. Tapi tentu saja ada elemen lain yang menjadikan negara ini pantas menjadi pilihan destinasi, setidaknya sebagai alternatif selain Thailand dan Vietnam. Jadi, ada apa di Myanmar?

Home of Thousands Pagodas

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Ananda Paya yang dikagumi sebagai Westminster Abbey from Myanmar.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Shwedagon Pagoda yang megah di Kota Yangon.

Myanmar dilabeli sebagai negeri Seribu Pagoda. Itu karena saking banyaknya pagoda yang dibangun. Jumlahnya lebih dari seribu, saya rasa puluhan ribu. Di Bagan saja terdapat sekitar 2.000-an pagoda. Itu baru di satu kota. Sempat berpikiran bahwa saya menghabiskan uang dan waktu hanya untuk mengunjungi pagoda saja, di negara ketiga pula. Is it worth enough? Yes it is, in my humble opinion. Pagoda yang menjadi simbol bagi ajaran Buddha menjadi media penting yang digunakan untuk sembahyang. Dan Pagoda yang dimiliki Myanmar tidak hanya masif dalam hal nominal, tapi juga exquisite dari segi tampilan, desain, arsitektur dan nilai sejarah. Setiap pagoda memiliki kisahnya tersendiri. Memiliki kecantikannya sendiri. Memiliki pengagumnya tersendiri.

Saya selalu terpana tiap kali memasuki sebuah pagoda. Tidak karena ukurannya yang besar dan tinggi, ada beberapa yang tidak seberapa ukurannya. Tapi karena masing-masing pagoda menawarkan kesederhanaan dan kedamaian. Tiap kali memasuki area pagoda kita melepas alas kaki. Di dalam menyaksikan para biksu berdoa ataupun orang-orang datang beribadah dengan khusyuk rasanya tenang, damai. Malah mereka sama sekali tidak terlihat terganggu mesti disaksikan para turis yang datang karena terkesima akan bangunan suci.

Bagan menjadi jawara untuk urusan jumlah pagoda. Diketahui ribuan pagoda terdapat di sini. Sebagai kota yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Bagan dari abad ke 11 hingga 13, wajar saja jika para petinggi di masa lalu membangun banyak pagoda sebagai tempat suci. Nah ada sedikit kesalahpahaman mengenai fungsi dan peran bangunan yang tersebar di Bagan. Kelihatannya serupa, tapi ada perbedaan mendasar dari bangunan-bangunan tersebut. Di Bagan Archeological Zone terdapat pagoda (sudah pasti), stupa, candi, juga kuil. Kita pasti berpikir bahwa kesemuanya merupakan satu bangunan sama, tapi ternyata tidak. I will explain in other post.

But overall, apapun fungsi dan struktur bangunan yang ada, Myanmar memiliki banyak nama yang terbaik. Yangon punya Shwedagon Pagoda yang bikin saya terkagum-kagum karena luar biasa cantik, juga Sule Pagoda yang strategis di pusat kota, dan Botahtaung Pagoda yang istimewa karena menyimpan helai rambut sang Buddha. Di Bagan, ah, jangan tanya mengenai Bagan. Saya bingung karena saking banyaknya. Ada Sulamani, Ananda, Thatbinyu, Shwesandaw, Htilo Minlo, Mahabodi, Gawdawpalin, dan lain-lain, dan lain-lain. Mandalay juga tak kalah serunya. Kota antik ini juga menyimpan yang terbaik untuk dipamerkan. Ada Kuthodaw Pagoda dan Mahamudi Pagoda yang selalu menjadi persinggahan para turis. Juga beberapa pagoda menarik yang terletak di Amarapura, Inwa, Sagaing dan Mingun, yang merupakan empat kota kuno yang tak jauh dari Mandalay.

Learning Simplicity From the Monks

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Mengikuti prosesi pemberian makanan di Mahagandayon Monastery di Amarapura.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sepanjang mata memandang para biksu berkeliaran selama mengitari Myanmar.

Myanmar juga menjadikan monastery sebagai salah satu sasaran wisata. Beberapa memang sudah tidak dijadikan pusat pengajaran biksu. Bangunannya biasa terbuat dari kayu berdaya tahan kuat, tanpa menggunakan semen, bahkan paku. Pada dinding dan beberapa ornamen bisa ditemui ukiran-ukiran dengan detail seperti tokoh penting dalam ajaran Buddha atau semacamnya. Tapi ada juga beberapa monastery yang masih menjadi tempat untuk mengajarkan para calon biksu.

Seperti Monastery Mahagandayon di Kota Amarapura yang membebaskan siapa saja untuk menyaksi ritual penting tiap pagi yakni memberi makan para calon biksu. Sekitar jam 10-11 para calon biksu akan mengantri dekat monastery sambil membawa tempat makan, gelas, menunggu giliran untuk mendapatkan jatah makan hari itu. Wisatawan bisa melihat langsung proses tersebut, bisa mendokumentasikannya, tapi tetap menjaga kekhusyukkan suasana. Dan sebaiknya juga jangan terlalu frontal dalam memotret calon biksu.

Prosesi ini sebenarnya terlihat ya begitu saja. Melihat anak-anak muda, calon biksu, berdiri dan menunggu giliran untuk sarapan. Tapi makna kesederhanaan nampak jelas. Dalam balutan jubah sederhana, tanpa alas kaki, kita bisa melihat mereka menikmati sesuatu tanpa sesuatu yang berlebihan. Di sini juga bisa melihat lebih dekat bagaimana kehidupan mereka. Penampakan asrama. Apa saja yang mereka kerjakan. Ritual yang dijalankan. Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari momentum ini.

Remains of England

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Salah satu sudut kolonial di jantung Kota Yangon.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
High Court Building.

Myanmar pernah dijajah Inggris sebelum akhirnya menyatakan kemerdekaan pada 4 Januari 1948. Layaknya negara-negara yang pernah dikuasai pengaruh Barat sudah pasti meninggalkan sisa-sisa sejarah bergaya kebaratan. Dan sepanjang pengamatan mengelilingi empat kota penting di Myanmar, sepertinya Yangon yang paling banyak menyisakan kenangan akan Britania Raya.

Tepat di jantung kota, dekat Maha Bandula Park (semacam alun-alun kota), berdiri bangunan-bangunan kolonial dengan usia puluhan tahun. Jadi kalau kamu penggemar sejarah dan sesuatu yang berbau lawas, bisa menjelajah area Old Town di Yangon. Dengan berjalan kaki bisa menghampiri beberapa bangunan yang menjadi sentra perhatian seperti High Court Building yang megah dengan warna bata merah. Gedung yang dibangun tahun 1894 ini sempat menjadi gedung parlemen keadilan sebelum Perang Dunia I. Juga Yangon City Hall yang menghadap Maha Badula Garden. Termasuk beberapa bangunan kolonial yang berada di area lain.

Sunrise & Sunset Hopping

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Beautiful sunset over Bulethi Pagoda in Bagan city.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Catched the sunset in Mandalay Hill. Absolutely wonderful moment.

Menyaksikan sunrise dan sunset tidak hanya di gunung maupun pantai. Myanmar jelas punya kelas. Pemandangan di awal dan akhir hari ini bisa dinikmati dari tempat-tempat yang tidak biasa kita lakukan kalau sedang plesiran. Dari puncak sebuah pagoda, di atas jembatan, di tepian sungai, atau sambil menyeruput wine di vineyard. Ya, Myanmar punya semua itu. Selama perjalanan ini hampir tiap hari saya menemukan panorama mentari terbenam yang cantik tiada tara.

Kalau ditanya mana yang menjadi favorit, jelas saya bingung. Kesemuanya begitu membekas dan sama indahnya. Yang pasti saya tidak pernah menikmati sunset dengan momentum seperti itu. Mungkin cuma Myanmar yang bisa memberi efek berbeda. One of a kind-lah Myanmar.

Exciting Boat Trip

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
One of must things to do while in Inle Lake.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
The famous one leg paddling fisherman.

Danau Inle bergaung cukup kencang di ranah pariwisata Myanmar. Menjadi destinasi yang juga diunggulkan selain Bagan juga Mandalay. Apa yang menarik di sini? Tentu saja danaunya. Apa yang istimewa dari danaunya? Suasana dan pemandangannya. Suasana ala pedesaan di mana para nelayan sibuk berkeliaran di sekitar danau. Nelayan di Inlay, sebutan lain untuk Inle Lake adalah mereka yang mengayuh dayung tidak menggunakan tangan tapi kaki. Makanya sering disebut one leg paddling. Pemandangan seperti inilah yang kerap mencuri perhatian para fotografer untuk membidik momen saat boat trip dengan objek sang nelayan, serta bubu dari anyaman bambu yang begitu khas.

Pemandangan sekitar danau juga cantik. Dengan siluet lapisan-lapisan bukit, floating garden (lahan pertanian di atas air yang dikembangkan warga lokal), rumah-rumah panggung dari kayu yang juga dibangun di atas air, menjadi paket sempurna yang bisa dinikmati pendatang. Semua itu bisa kita hayati dengan menyewa long boat selama beberapa jam. Biasanya pelancong menyewanya saat sunrise ataupun sunset. Waktu itu saya menyewa dari pagi hingga siang, karena sekaligus ingin mengunjungi beberapa pusat kerajinan tenun, cheroot (cerutu tradisional Myanmar), perak, serta pagoda dan monastery. Dari jam 05:00-14:00 harga sewa long boat sekitar Kyat 17.000 atau kurang dari Rp200.000. Satu kapal bisa diisi 5-6 orang.

Myanmar Has Vineyard and Winery

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Romantic moment in Red Mountain Estate.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Wine tasting at the Red Mountain Estate Vineyards & Winery.

Mengejutkan bukan ketika mengetahui negara antah-berantah ini memiliki kebun anggur dan tempat pengolahan wines yang menjadi salah satu destinasi wisata di Nyaung Shwe. Namanya Red Mountain Estate Vineyards & Winery yang berada di wilayah Inle Lake. Red Mountain Estate memproduksi wines terbaik dari 400.000 pohon anggur yang awalnya diimpor dari Prancis dan Spanyol.

Seusai boat trip menikmati Inle Lake dan sekitarnya, menurut saya wajib untuk menghabiskan sore sembari wine tasting di sini. Bisa menikmati empat pilihan wines dengan harga yang cukup terjangkau menurut saya, sekitar $3 saja. Selain mendapat kenikmatan menyesap wines, Red Mountain Estate juga menawarkan pemandangan yang menakjubkan terutama sunset-nya yang berlatar kebun anggur. Salah satu sunset terbaik selama di Myanmar.

Cycling Around Then Trying Burmese Massage

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
The best way to exploring Inlay by cycling trip.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
A glimpse of Inlay.

Inle Lake dengan Nyaung Shwe menjadi penyegaran jika mulai lelah mengitari pagoda dan monastery yang melimpah di Myanmar. Saya beruntung bisa singgah di sini karena suasana pedesaan dan pemandangan alamnya yang tak disangka sebelumnya dijamin tidak akan menjemukan mata. Dan cara terbaik untuk menikmati suasana pedesaan di sini yang dengan bersepeda. Sebenarnya bisa sewa tuk-tuk ataupun mobil, but let’s do in old style.

Sewa sepeda di Nyaung Shwe tak sampai $2 seharian. Tidak semua hotel menyediakan jasa ini, tapi ada beberapa tempat di touristic area yang menyewakan sepeda. Tidak ada arah dan rute yang membingungkan di sini. Jadi tidak akan menemukan kesulitan ketika ingin mengitari. Saran saya pergi ke arah pematang sawah, melewati jembatan dekat Inle Star Hotel. Suasana lebih tenang di sini, tanpa lalu lintas yang padat serta tidak terlalu panas karena rimbunnya pepohonan di kiri-kanan jalan. Beberapa turis ada yang mengayuh sepeda hingga ke Red Mountain Estate, jauh juga sih jaraknya.

Kalau lelah, pastikan untuk mencoba Burmese Massage. Tidak kalah seru dengan Thai Massage milik Thailand maupun Khmer Massage dari Kamboja (well Khmer Massage still the best sih). Metode pijat tradisional milik Myanmar ini cukup merenggangkan otot yang mengkerut. Di Nyaung Shwe sendiri tidak terlalu marak tempat untuk mencoba pijat ini, tapi coba saja tanya pihak hotel. waktu itu saya mencoba di jasa pemijatan di Win Massage, berada di rumah gitu. Kelihatan sangat sederhana dengan bangunan dari bambu, tapi ternyata banyak peminatnya. Kami mesti menunggu sekitar satu jam untuk menunggu giliran. Well, pijatannya cukup enak. Ada beberapa teknik yang tidak biasa saya temui sebelumnya. Untuk tarifnya Kyat 7.000 per 60 menit.

The Tale of Irrawaddy River

20160504_152531
Away from the hustle and bustle of Bagan city at Fantasia River View.
20160504_151939
Myanmar Beer and Irrawaddy, perfect combination.

Sungai Irrawaddy merupakan sungai terpanjang yang melintasi Myanmar. Menjadi salah satu potensi alam yang berperan penting dalam kehidupan, khususnya sebagai jalur perdagangan. Sungai ini bahkan menjadi inspirasi bagi Joseph Rudyard Kipling, yakni penulis dari The Jungle Book.

Kemasyuran Sungai Irrawaddy menuai perjalanan lintas perairan yang kerap dicari para pelancong. Beberapa operator membuka jalur kapal untuk bisa menikmati sendiri hiruk-pikuk sungai. Bisa juga menikmati sunset boat trip sambil mengarungi sungai dan melihat sendiri bagaimana Irrawaddy berperan dalam kehidupan sehari-hari. Atau mungkin seperti saya yang tak punya banyak waktu untuk menikmati Sungai Irrawaddy, jadi hanya santai-santai sambil minum Myanmar Beer dan makan kacang goreng (serius kacangnya enak banget!) di Fantasia River View, sebuah kafe yang berada tepat di samping Irrawaddy. Serius nyaman banget di sana. Angin sepoi-sepoi dengan hawa yang bersahabat karena rindangnya pepohonan, plus suara bising kapal kayu yang sibuk mondar-mandir. Benar-benar kontras dengan Bagan yang saya kitari tiga hari terakhir dengan udaranya yang panas, berdebu dan kering.

Enjoying Finest Tea and Milk Tea (All the Time)

20160506_152931
Best afternoon tea.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Make sure to try every milk tea while you’re in Myanmar.

Selama 10 hari mengelilingi Myanmar, saya tidak telalu memuji kuliner di sana. Ada yang enak, tapi rata-rata standar saja rasanya. Mungkin karena sebagian besar makanan yang dibuat terlalu berminyak. Bahkan saya kurang berselera menyantap daging babi. Tapi, saya akui minuman teh dan teh susu dari negara ini adalah dua yang terbaik dari segi kuliner. Saya tidak pernah menemukan teh, khususnya teh susu yang tidak enak. Semua enak! Selalu rasanya pas di lidah, sesuai ekspektasi. Jadi selagi di Myanmar, sempatkan untuk lebih sering menikmati milk tea tiap kali menghampiri restoran. Kalau ingin membawa pulang oleh-oleh, cari Royal Tea, milk tea versi sachet. Bungkusnya warna hijau, satu bungkus berisi 30 sachet. Di jual di supermarket atau toko makanan.

Warmest People

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
The face of Myanmar.
image
Wefie with group of teenagers in Amarapura.

Last but not least refers to the people of Myanmar. Orang-orang di Myanmar sebagian besar ramah dan bersahabat. Setiap pertemuan dengan mereka terasa baik tanpa kesan negatif. Keterbatasan bahasa tak menghalangi sebuah senyuman. Kalau diberi senyum, sebagian besar akan membalas hal yang sama. Setiap supir taksi, tuk-tuk, petugas di hotel, tempat menyewa sepeda dan e-bike hampir semuanya bersikap positif.

Yang menarik itu adalah waktu kami menemui serombongan anak-anak muda di Mahagandayon Monastery. Rata-rata adalah siswa sekolah. Mereka kerap datang di tempat-tempat wisata di Mandalay dan sekitarnya untuk kemudian mengajak berbincang turis asing sekalian memperlancar Bahasa Inggris. Keren ya! Biasanya mereka akan datang berkelompok, tapi terlebih dulu meminta izin ke turis mau diajak ngobrol. Topik obrolan sih sederhana saja. Ditanya asal dari mana, sudah ke mana saja di Myanmar, apa tempat yang favorit, makanan favorit, dan sejenisnya. Walau cuma 5-10 menit ngobrol, tapi mereka udah senang aja gitu. Kami juga yang para pendatang senang juga sih disambut hangat dengan cara menarik seperti ini.

Well, itu hanya sebagian dari hal-hal menarik yang menurut saya membuat Myanmar pantas sebagai destinasi wisata. Bukan hanya cantik tapi juga memiliki eksotisme tersendiri. Supaya lebih puas mengenal Myanmar dengan detail-detail menarik, saya akan melanjutkan kisah tentang negeri Seribu Pagoda ini di posting-an berikutnya. Until we meet again.

-PJLP- 

Advertisements

4 thoughts on “Ada Apa di Myanmar?

    1. Kemarin nggak pakai visa, tapi maksimal 15 hari perjalanan. Kalau lewat darat sepertinya masih pakai visa deh. Lebih repot sih kalau via darat dan lebih jauh juga ke kota-kota utama.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s