Mingalabar, Yangon!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Yangon, si mantan ibukota Myanmar.

Here we are, saya dan Eka yang sempat absen setahun nggak nge-bolang bareng, akhirnya menjejakkan kaki di Myanmar. Yeay! Terakhir kami eksplor Vietnam mengunjungi Ho Chi Minh City, Hoi An, Hanoi dan Halong Bay. Di awali dengan balada di KLIA 2, kami akhirnya berhasil mendarat di Yangon, mantan ibukota Myanmar. Terlambat sehari karena pesawat kami rute Kuala Lumpur-Yangon gagal terbang. Saat itu bukan hanya pesawat kami saja yang canceled, tapi banyak rute juga mengalami hal serupa.

Sedikit cerita, jadi waktu transit masih belum ada perubahan tuh. Kami santai makan siang dengan bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan Myanmar. Habis makan cek di flight schedule, lho kok penerbangannya canceled. Matek! Bukan delayed but canceled. Langsunglah lari (nggak lari sih) ke meja informasi. Sampai sana di suruh ke konter Air Asia, which mean membuat kita mesti keluar imigrasi dulu yang antriannya mengular. Di konter Air Asia kemudian dioper lagi ke konter lain untuk urusan pesawat delayed dan canceled (saya lupa namanya). Antrian di konter itu jauh lebih riweh, menumpuk bersama banyak penumpang lain yang stres karena pesawatnya gagal terbang.

20160430_113422
Sleepy traveler.
20160428_055943
On our way to Kuala Lumpur.
20160430_125520
Cuacanya lagi bersahabat.

Kami tanya depan dan belakang hanya untuk memastikan apakah satu rute yang sama atau tidak. Momen tanya-harap yang sempat bikin perut mulas. Ya habis belum juga mulai petualangannya sudah kena halangan gini. Akhirnya Eka tanya sama satu biksu yang juga mau ke Yangon. Dia bilang dapat flight pertama ke Yangon keesokan harinya. Tapi tidak diberi makan dan hotel. Hmmm. Setelah mengantri hampir 30 menit tiba giliran kami berhadapan dengan petugas konter.

Dengan muka melas kami melaporkan flight yang di-canceled then minta dia cek ada penerbangan besok pagi atau tidak. Beberapa menit lihat dia ketik-ketik komputer, menunggu dan menunggu dan menunggu, si petugas akhirnya bilang masih ada seat untuk first flight besok pagi. Thank you Jesus! Setelah di-booked kami masih berusaha tanya soal komplimen hotel dan makan, ternyata nggak dapat. Never mind-lah. Nggak masalah tidur di bandara yang penting besok pagi bisa tiba di Yangon, asal nggak pakai cancel lagi.

Sesungguhnya ini bukan pertama kali kami menginap di bandara sih. Sebelumnya sempat numpang tidur di Bandar Udara Internasional Hasanuddin di Makassar karena pesawat kami tiba tengah malam dan belum bisa check-in jam segitu. Karena nggak mau keluar duit lagi, kami numpang tidur deh di bandara. Ya walaupun saat itu cuma Eka yang bisa tidur pulas, as usual, dan saya tidur-tidur ayam nggak jelas karena terganggu suara pengumuman.

20160430_190045
Arrived in KLIA2.
20160501_002836
Bilik Eka.
20160501_044407
Bilik tidur saya. Photo by Eka Eldina.

Untuk pengalaman tidur di KLIA 2 sesungguhnya cukup menyenangkan sih. Mungkin karena fasilitasnya lebih menarik. Ada ruang untuk nonton film ataupun nonton pertandingan olahraga. Banyak kursi yang bisa dipakai buat tidur, tapi kebanyakan memilih tidur beralas karpet, termasuk kami. Tersedia juga kamar mandi yang proper. Sayangnya KLIA 2 kurang memerhatikan colokan listrik yang banyak. Please guys, colokan itu salah satu hal terpenting selain Wifi. Kami sampai duduk dan tidur depan lift, persis depan lift karena cuma di situ colokan yang tersedia. Karena di tempat-tempat proper lainnya udah keburu diambil orang lain.

Tempat tidur kami malam itu di bekas bilik ATM. Dekat dengan toilet dan kamar mandi. Lampunya juga tidak terlalu terang dan nggak terlalu ramai dilewatin orang. Tengah malam saya terbangun dan iseng lihat-lihat sekitar. Ternyata banyak aja yang tidur di bandara. Bahkan di jalanan tempat orang lalu-lalang berjajar kumpulan manusia. Ada yang mengelompok, ada yang sendiri. Sebelah kami ada pasangan bule tidur dengan sleeping bag serasa lagi camping. It’s quiet fun actually. Jika kalian mengalami hal serupa, terjebak di bandara khususnya di KLIA 2 (Kuala Lumpur International Airport 2), coba intip ini. Semua informasi yang dibutuhkan mengenai fasilitas bandara dirangkum di situ.

Keesokan harinya penerbangan jam 7 pagi berjalan mulus. Nggak telat. Kami pun dapat hot seat di pesawat. Flight-nya juga lancar jaya. Landing-nya smooth. Perfect! Minglabar, Yangon! Akhirnya tiba di Myanmar yang nyaris saya kunjungi tahun lalu. Tapi memang selalu ada waktu untuk segala sesuatu. Dan kali itu adalah yang terbaik. Myanmar dengan sejuta eksotisme membuat saya penasaran untuk mengitarinya. Banyak yang bertanya kenapa Myanmar? Ada apa di Myanmar? Is it worth it? Well, you better check this post.

20160501_094815
Photo by Eka Eldina. 
20160501_093918
Suasana bandara yang ramai.
20160501_130002
Cara yang cukup murah dan nyaman putar-putar kota dengan sewa taksi.

Tiba di Bandara Yangon yang tentu saja melalui proses imigrasi yang tidak terlalu ribet. Kemudian kami tukar US Dollar ke Myanmar Kyat di money changer di dalam bandara. Sebaiknya sih jangan tukar semua US Dollar, karena beberapa transaksi yang kami lakukan lebih menguntungkan menggunakan US Dollar, begitu pun sebaliknya.  Total saya bawa sekitar USD 550, tapi hanya menukar USD 300 saja. Perlu diingat bahwa Myanmar tidaklah semurah Thailand ataupun Vietnam. Tapi masih dalam batasan wajar kok biaya hidup sehari-harinya di sana. Hanya sedikit lebih mahal saja.

Begitu keluar dari area kedatangan ada area pengunjung bandara yang berisi booth-booth bus, travel, sim card telepon, dan makanan. Kalau ingin beli tiket bus menuju Bagan, silakan beli di sini. Yang tersedia adalah Bus JJ Express, yang paling direkomendasiin. Bus eksekutif dengan kisaran harga USD 20, tapi cepat habis. Tapi tenang, bisa dibeli kok di Terminal Aung Mingalar atau di beberapa pool bus yang terdapat di pusat kota. Tersedia banyak pilihan bus dengan berbagai kelas.

Untuk urusan sim card telepon, saya merekomendasikan untuk membeli sim card lokal. Tentu saja berguna banget kalau cari-cari tempat di maps atau translate bahasa karena tahu sendiri kan model tulisannya juga 11/12 dengan Thailand. Trus akan lebih mudah juga kalau ingin aktif di media sosial. Harganya masih cukup bersahabat kok. Sim card bisa dibeli di bandara, tapi lebih murah di luar bandara, bisa tanya di hotel tempat menginap untuk lebih jelas. Waktu kemarin kami cuma pakai satu sim card yang dipasang di handphone tersendiri, lantas untuk keperluan koneksi, kami tinggal tethering saja. Kalau nggak mau beli sim card di bandara, tapi butuh koneksi internet, di bandara tersedia fasilitas Wifi kok.

Setelah gagal dapat tiket bus ke Bagan (kami rencananya berangkat malam itu), kami akhirnya memutuskan keluar bandara untuk naik taksi dan minta diantarkan ke pool bus atau sejenisnya. Kalau keluar bandara dan menyeberang jalan akan menemukan antrian taksi. Siap-siap untuk “diserbu”. Sistem taksi di Myanmar tidak menggunakan argo. Tawar saja, kalau bisa setengah dari yang diajukan supir. Kami awalnya hanya minta diantarkan untuk membeli tiket bus di pusat kota, kemudian berujung menyewa taksi seharian mengelilingi beberapa pagoda dan tempat makan, termasuk diantar ke terminal bus. Kami membayar Kyat 45.000 atau kurang lebih Rp450.000-an (buat berdua). Yang menarik dari sewa taksi di Yangon juga Mandalay, si supir taksi menyediakan air minum. Masing-masing mendapatkan sebotol ukuran 1 liter yang super dingin, kontras dengan cuaca Yangon yang mencapai hampir 40⁰C.

Menurut saya sewa taksi merupakan cara efisien untuk mengitari Yangon. Memang sedikit lebih mahal, apalagi kalau berpergian sendiri, tapi worth enough sih. Nggak perlu tenteng-tenteng backpack ke mana-mana. Sudah jelas arahnya, tanpa perlu tersesat. Dan rata-rata supir taksi paham berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Jadi bisa sekalian menjadi pemandu di jalan.

20160501_103332
Bangunan ruko lawas banyak tersebar di titik-titik penting.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Salah satu angkutan umum di Yangon.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jalanan Yangon yang super lebar.

Mari bicara mengenai Yangon. Tipikal kota besar suatu negara dengan jalalan yang cukup lebar, lalu lintas yang cukup ramai, tapi tak ada macet yang berkepanjangan. Untuk transportasi, sepertinya bus menjadi pilihan utama bagi penduduk lokal. Ada beberapa jenis bus di sini, dari yang versi bagus sampai yang mulai butut. Malah saya melihat ada semacam angkot tapi menggunakan truk, cukup ekstrem juga untuk ukuran moda transportasi di sebuah kota besar.

Selintas melewati Yangon, saya merasa seperti berada di kota era 90-an, tidak terlalu signifikan dengan hal-hal yang berbau modernitas. Tidak terlalu banyak gedung-gedung perkantoran pencakar langit. Malah lebih banyak ruko dengan desain lawas dan jendela serta balkon yang banyak. Saya cukup menikmati pemandangan ruko maupun rumah susun yang terkesan sedikit berantakan ini, tapi entahlah, kesan klasik menjadikannya nampak menarik. Pusat perekonomian nampak mendominasi di kota ini, maklum saja karena Yangon sempat menjadi pusat pemerintahan negara dengan label ibukota. Sempat kami melintas di kantor kedutaan Indonesia dan beberapa milik negara lain. Nampaknya Yangon tetap dipertahankan sebagai basis bagi negara sahabat.

Ada yang bilang Yangon biasa saja. Kurang istimewa. Entahlah, saya cukup menikmati Yangon walau hanya sebentar berkenalan dengannya. Saya merasa kota ini plural dengan melebur sisi tradisional, modern, serta menyisakan elemen Barat di dalamnya. Kita masih bisa menikmati beberapa pagoda yang menjadi identitas Myanmar sebagai rumah bagi ribuan pagoda. Tentu dibanding kota-kota lain Yangon terlihat lebih modern. Dan jangan lupakan bangunan-bangunan peninggalan Inggris yang masih berdiri tegak di pusat kota, ini menjadi tanda kota ini makin menarik untuk ditelusuri. Sounds interesting, kan!

Well, enough with prologue, I’ll take you around Yangon immediately

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s