Lari-Lari Kecil di Botahtaung

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Lari-lari kecil di Botahtaung. Kepanasan soalnya.

Apa yang kalian ketahui mengenai Yangon? Ibukota Myanmar. Salah. Kini ibukota Myanmar berada di Nyapyidaw. Yangon termasuk kota besar. Instrumen kehidupan, perdagangan juga pemerintahan masih berlangsung di kota ini. Di samping itu Yangon juga menawarkan ragam pagoda yang menjadi nadi agama di negara ini. Ada banyak pagoda besar dan kecil di sana, karena negara ini mayoritas memeluk ajaran Buddha dan pagoda adalah sarana untuk menjalankan ritual keagamaan.

Yangon punya tiga yang terbaik dan paling dicari-cari wisatawan. Ada Shwedagon Pagoda yang megah, Sule Pagoda, serta Botahtaung Pagoda. Ketiga pagoda yang disepuh warna emas, kelihatan mentereng dari kejauhan, apalagi kalau sudah terkena pancaran mentari. Pagoda hopping di Yangon di awali dengan Botahtaung Pagoda.

Tepat seusai jam makan siang di 999 Shan Noodle (duh, enak ini makanannya!), saya dan Eka tiba di pintu masuk. Suara puji dan sembah yang terdengar dari speaker yang dipasang dekat pintu masuk menjadi tanda bahwa pagoda sedang sibuk dengan umat yang melakukan sembahyang. Bagi pengunjung asing, mesti memasuki ruangan untuk membeli tiket. Tiket berbentuk print-an kertas di mana sebelumnya kita mesti difoto dulu. Jadi ingat waktu ke Angkor Wat dengan tiket masuk yang juga menyertakan foto diri si pengunjung.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Loket tiket untuk wisatawan asing.
image
Tiket masuk yang diprint dan ada foto diri.

Begitu keluar dari ruangan beli tiket yang teduh dan adem, langsung disambut hawa panas matahari yang poll-pollan siang itu. Lantas kami disuruh buka alas kaki dan menitipkannya di rak sepatu samping pintu masuk. This is it, momen yang kami kerap baca di blog-blog, momen ketika mesti nyeker keliling pagoda, even itu panas terik maupun hujan deras. Tidak ada excuse, tidak ada keringanan. Tua-muda, kecil-besar, kurus-gendut, Buddha-non Buddha, semua mesti menyingkirkan ego dan memasuki bangunan suci dengan kerendahan hati.

Begitu kaki menyentuh ubin panas, my God, nggak pakai sumpah serapah tentunya, kami langsung lari-lari kecil, menyingkir ke tempat yang dinaungi atap. Tapi panasnya belum ada apa-apanya sewaktu kami singgah di Mingun Temple dekat Kota Mandalay. Anyway, biasanya pagoda-pagoda diberi karpet pada jalur yang terekspos matahari, tentu saja guna meredam panas yang berlebihan. Solusi lain dengan menggunakan ubin-ubin tertentu yang berdaya serap rendah terhadap panas matahari. Tapi tetap saja sih, masih terasa panas juga kalau terus-terusan terkena matahari.

Jadi sepanjang perjalanan keliling Myanmar, khususnya ketika masuk-keluar pagoda adalah momen-momen kami ketawa cekikan sambil lari-lari kecil, kadang beneran lari serius untuk meminimalisir rasa panas di telapak kaki. Habis itu mengiba diri sendiri dan telapak kaki yang sudah tak karuan akibat dihantam ubin panas terus-terusan. Pokoknya sebelum melintas di ubin yang panas tanpa disengaja saya inhale-exhale dulu sambil memikirkan strategi jalur tercepat untuk sampai tujuan. Setelah siap (nggak siap-siap  banget sih), langsung pasang ancang-ancang dan cuuusss lari ke area lain.

Tenang, bukan kalian aja yang merasa begini. Orang Myanmar pun juga nggak semuanya kebal tahan panas. Jadi nggak akan terlihat aneh kalau kalian sibuk lari-lari kecil ketika mengitari pagoda, khususnya di siang hari. Makanya saran saya jangan keliling pagoda ketika tengah hari. Lebih baik dari pagi-pagi sekali atau sebelum matahari terbenam.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sisi lain Botahtaung dengan kolam yang dihuni kura-kura.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Lorong cantik dengan ukiran berwarna emas.

Mengenai Botahtaung Pagoda sendiri yang diberi nama setelah pemimpin pasukan militer (diperkirakan jumlahnya ribuan) yang mengawal saat misi membawa rambut yang dipercaya milik Buddha dari India menuju Myanmar sekitar dua ribu tahun lalu. Arti bo sendiri adalah pemimpin, sedangkan tahtaung dimaknai ribuan. Pagoda ini diperkirakan dibangun di waktu yang sama dengan pendirian Sule dan Shwedagon Pagoda.

Area Botahtaung cukup luas. Ada beberapa area yang bisa dikunjungi turis. Dari pintu masuk bisa lurus mengikuti jalan yang dinaungi atap dan karpet. Naiki tangga dan bisa menelusuri ruangan yang kiri-kanan dilapisi emas imitasi. Jalan satu arah yang tidak terlalu lebar dihiasi dengan dinding etalase yang diukir dan terisi uang-uang Myanmar. Di satu bagian yang agak sempit ada celah kaca yang tertutup rapat tapi tembus pandang. Di dalamnya ada tumpukan uang, banyak sekali uang yang biasa dilempar umat sebagai persembahan ke Buddha. Terdapat juga patung dan katanya di situlah diletakkan helai rambut sang Buddha. Tapi saya tidak melihat apa-apa ya selain tumpukan uang kertas yang melimpah.

Dalam pemikiran saya area yang sedang dilewati ini kan termasuk suci ya di Botahtaung, tapi herannya sepanjang meliuk-liuk di jalan yang sempit itu banyak orang duduk santai, ngobrol, pacaran bahkan, padahal di sampingnya ada yang sedang berdoa. Memang adem sih di sini, kontras dengan cuaca di luar, tapi ya ajaib juga sih melihat tingkah penduduk lokal.

Keluar dari area itu, bisa menuju kolam air mancur yang di sampingnya terdapat lorong masuk dengan detail ukiran kayu pada bagian langit-langitnya. Kolam tersebut tidak terlalu istimewa sih, ada beberapa kura-kura yang menghuni kolam. Sisa kawasan ini diisi dengan ruang-ruang sembahyang yang dihiasi patung-patung suci. Ada yang di dalam ruangan, ada yang terbuka di samping stupa emas yang menjadi penanda khas Botahtaung. Di sisi tenggara terdapat lonceng yang kerap dibunyikan umat yang ingin berdoa.

Di sisi lain juga terdapat bak air seperti tempat penampungan air. Tapi air yang terisi bisa buat diminum. Dibuat beberapa keran air serta disediakan gelas-gelas berbahan aluminium yang bisa digunakan. Gratis kok kalau mau minum, cuma saya dan Eka tidak berpikir untuk memakai kesempatan ini. Soalnya gelasnya saja mesti berbagi dengan banyak orang. Saya malah sengaja membuka keran lalu air yang tumpah ke lantai dipakai buat mendinginkan telapak kaki yang super panas. Di bagian luar pagoda terdapat pasar suvenir, tapi lebih banyak menjual barang-barang yang berbau religi, seperti patung Buddha dan benda-benda ukiran sejenisnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Uang-uang persembahan para umat.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Toko-toko suvenir yang berada tepat di seberang pagoda.

Travel Tips:

-Tiket masuk $5. Jam buka dari 06:00-20:00

-Kunjungi pagoda saat pagi hari, maksimal jam 10 pagi atau sebelum matahari terbenam.

-Kenakan pakaian yang sopan. Tidak diperkenankan mengenakan atasan tangan pendek (yang terekspos bahu), mengenakan bawahan yang pantas (minimal di bawah lutut).

-Tidak diperkenankan menggunakan sepatu, sandal, bahkan kaos kaki ke bagian dalam pagoda (dilepaskan dari pintu masuk).

-Bawa kantong atau recycle bag untuk meletakkan alas kaki, jika tidak ingin menitipkan di rak sepatu yang terdapat di depan pintu masuk.

-Bawa tisu basah untuk membersihkan kaki selepas kunjungan.

-Hormati umat yang sedang beribadah. Jangan membuat kegaduhan. Jangan terlalu ekstrem ketika memotret prosesi ibadah.

-Perhatikan langkah. Kalau ubin terlalu panas, berjalanlah di area karpet yang telah disediakan.

-Bawa air minum secukupnya untuk menghindari dehidrasi akibat hawa panas yang bisa mencapai 40⁰C.

-Beberapa festival kerap diadakan di Botahtaung, terutama di musim kering. Seperti kontes menenun dan memasak Htamane (makanan tradisional Myanmar yang dibuat dari beras ketan dengan kacang dan kelapa).

Botahtaung Pagoda

Strand Rd, Yangon MMR 013017

Myanmar

+95 9 971 625 813

 

-PJLP-

Advertisements

2 thoughts on “Lari-Lari Kecil di Botahtaung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s