Satu Senja di Shwedagon

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Senja terbaik ada di Shwedagon.

Pernah nggak sih deg-degan waktu melihat langsung untuk pertama kali tempat wisata yang kalian ingin datangi? Saya sering. Objek yang sudah lama dinanti, yang sudah bikin penasaran sekian tahun, tentu saja membangkitkan perasaan yang mungkin terlihat berlebihan, norak mungkin, tapi saya tak peduli dinilai begitu. Perasaan ini muncul lagi saat selintas melihat dari kejauhan Shwedagon Pagoda yang teranyar di Kota Yangon. Iya, melihat dari kejauhan karena siang itu belum waktunya untuk bertandang ke sana. Saya menyisakan Shwedagon di akhir perjalanan mengitari mantan ibukota Myanmar itu. Save the best for last.

Kalau melihat Shwedagon Pagoda di layar komputer, ah, luar biasa menakjubkan, terlebih ketika hari berganti malam, kerlap-kerlip lampu menambah kecantikannya tiga kali lipat. Lucky me, I had that chance to see all the glamorous part of Shwedagon. Saya dan Eka sengaja memilih petang hari untuk mendatangi pagoda ini. Banyak yang berkomentar kalau Shwedagon menawarkan panorama senja yang manis, ditambah tidak akan terlalu panas untuk mengitarinya kalau datang saat mentari mau terbenam. Cuma kalau datang di sore hari mesti siap-siap tenggelam bersama lautan manusia lainnya yang juga memiliki misi yang sama.

Sore itu baru di tempat parkir saja rasanya sudah penuh. Taksi yang kami sewa hanya mengantarkan menuju pintu masuk, lantas dia akan mencari tempat parkir yang entah akan didapat dengan mudah atau tidak. Penuh banget sih. Nah, pintu masuk Shwedagon itu ada beberapa. Sepertinya kami diantarkan ke pintu utamanya deh. Soalnya cukup banyak yang masuk dari situ dan kebanyakan para turis.

Melewati metal detector, ada meja penjual tiket dengan beberapa petugas berdiri di sampingnya. Diganjar Kyat 8.000 (sekitar Rp80.000-an) per kepala, Shwedagon jelas menyedot biaya untuk pelancong backpackers. Tapi pagoda ini tak bisa ditolak. Mandatory pagoda in Yangon. Selepas membayar, kami mulai terbiasa untuk melepas alas kaki, meletakkannya di rak yang tersedia, kemudian dituntun untuk menaiki lift. Untuk pertama kali naik lift tanpa alas kaki. Tapi lebih aneh lagi waktu nyeker naik escalator di Mandalay Hill.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pria dan wanita mengenakan longyi, sarung khas Myanmar.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pohon bodi yang dikeramatkan.

Keluar dari lift, ada jalan setapak yang berperan semacam jembatan penghubung dengan sisi kiri dan kanan yang menggambarkan suasana parkiran dan pepohonan yang rindang. Dari sini makin jelas menemukan perbedaan antara kaum wisatawan dengan masyarakat lokal. Para turis pastinya berpakaian normal, agak tertutup, kontras dengan pria dan wanita Burma yang cantik dan tampan dengan thanaka (bedak dingin khas Myanmar) yang dibalur di muka, tangan, bahkan kaki mereka. Tak lupa longyi menjadi pendukung utama dalam berbusana. Longyi adalah sarung tradisional yang bisa dikatakan sebagai kain kebanggaan bangsa Myanmar.

Di akhir jembatan menjadi tanda saya sudah memasuki kawasan pagoda. Lantai berubin yang “ramah” di kaki alias sudah tidak panas lagi membuat saya bebas melangkah. Tapi langsung berhenti ketika melihat plang dengan tulisan ‘Free Wifi‘. Benar kata teman saya, di Shwedagon tersedia fasilitas internet gratis. Cukup cepat lagi koneksinya. Tak jauh dari situ terdapat pohon bodhi atau biasa disebut juga pohon mahabodhi dengan batang pohon yang dililit kain kuning menyala. Di dekatnya tersedia patung-patung untuk penyembahan. Pohon bodhi sendiri dianggap sakral di ajaran Budha, Hindu, termasuk Jainisme, karena di pohon inilah sang Buddha bersemedi dan mendapatkan pewahyuan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Banyak detail menarik sekeliling pagoda.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Patung Buddha dalam segala ukuran juga memenuhi tiap relung.

Melewati pohon bodhi pemandangan bangunan-bangunan khas pagoda mulai menghiasi suasana. Beberapa ada yang sedang dipugar, jadi pada bagian atap ditutup terpal. Shwedagon Pagoda adalah salah satu situs Buddha yang paling suci dan mengagumkan. Berdiri setinggi 110 meter, pagoda ini dilapisi emas dan pada bagian stupa di atas bangunan dihiasi 4.531 berlian, yang terbesar diperkirakan merupakan berlian 72 karat. Shwedagon berdiri dalam satu kesatuan bangunan kuil, stupa, pantung yang menggambarkan arsitektur era 2.500 tahun yang lalu. Shwedagon sendiri memiliki empat pagoda kecil yang menghadap ke empat arah mata angin. 64 pagoda kecil yang mengelilingi area. Plinth, Terraces (Paccaya) dan tentu saja bangunan segi delapan yang berdiri di tengah setinggi lebih dari 26 meter.

Begitu banyak yang bisa dinikmati di sini. Saya menemukan banyak detail menarik dari tiap bangunan. Ukiran pada bangunan kayu. Warna-warna yang menceriakan mata. Jajaran patung besar dan kecil mengisi tiap ruang suci. Semua itu makin dipermanis dengan bias cahaya senja yang menyinari langit biru. Cantik. Hanya satu keluhan saya, susah foto karena terlalu banyak pengunjung. Mau selfie susah. Mau foto lansekapnya juga tidak gampang. Akhirnya tak ada lagi yang bisa dilakukan selain menikmati seutuhnya Shwedagon yang diimpikan sekian lama.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jangan lupa lihat ke atas, sama cantiknya.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Cantik ya! Walaupun ramai banget saat itu.

Makin sore makin ramai yang datang. Kami larut bersama ribuan manusia, ada rombongan turis asing yang diisi tamu-tamu yang sudah lanjut usia, ada pasangan-pasangan bule yang pasti bergaya backpackers, juga banyak umat yang berdiri, berlutut dan sembah pada titik-titik pemujaan sepanjang area Shwedagon. Ada beberapa titik yang ramai diisi umat. Sebagian diisi bocah-bocah cilik dengan kain merah muda pucat yang menandakan mereka calon biksu yang sedang menjalankan ritual sembahyang. Cukup riweh sih, jadi sebaiknya perhatikan langkah dan pastikan tetap bersama dengan teman jalan kalian. Akan susah sekali kalau terpisah. Kami juga sempat mengalami kesulitan mencari jalan keluar yang tadi dimasuki waktu tiba. Semua tampak sama. Akhirnya sempat mutar-mutar sampai akhirnya ketemu yang dicari.

Turun kembali melalui lift yang agak lengang karena kebanyakan orang masih bertahan di dalam pagoda. Di luar hari terang sudah berganti gelap. Keluar lift kami mengambil sandal di rak yang tersedia. Oh ya, walaupun banyak sandal bertebaran di mana-mana, yang hebat tidak pernah kami kecurian sandal ataupun berpindah posisi. Dekat rak-rak alas kaki terdapat toko suvenir yang menjual aneka pajangan, patung, magnet kulkas, gantungan kunci dan aksesoris. Harganya lebih mahal tentu saja.

It’s a wrap! Strolling around  three golden temples in Yangon city.

20160501_181359
Kesusahan untuk selfie selama di Shwedagon.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
The night took over.

Travel Tips:

-Tiket masuk Kyat 8.000, jam buka 04:00-22:00.

-Untuk waktu buka ada waktu-waktu tertentu yang dibedakan jadwalnya. Baca keterangannya pada situs resminya.

-Kunjungi pagoda saat pagi hari, maksimal jam 10 pagi atau sebelum matahari terbenam.

-Shwedagon Pagoda kerap mengadakan festival penting, bisa dilihat informasinya di sini.

-Kenakan pakaian yang sopan. Tidak diperkenankan mengenakan atasan tangan pendek (yang terekspos bahu), mengenakan bawahan yang pantas (minimal di bawah lutut).

-Tidak diperkenankan menggunakan sepatu, sandal, bahkan kaos kaki ke bagian dalam pagoda (dilepaskan dari pintu masuk).

-Bawa kantong atau recycle bag untuk meletakkan alas kaki, jika tidak ingin menitipkan di rak sepatu yang terdapat di depan pintu masuk.

-Bawa tisu basah untuk membersihkan kaki selepas kunjungan.

-Hormati umat yang sedang beribadah. Jangan membuat kegaduhan. Jangan terlalu ekstrem ketika memotret prosesi ibadah.

-Perhatikan langkah. Kalau ubin terlalu panas, berjalanlah di area karpet yang telah disediakan.

-Bawa air minum secukupnya untuk menghindari dehidrasi akibat hawa panas yang bisa mencapai 40⁰C.

 

Shwedagon Pagoda

Yangon – Myanmar

+95 9 534 3782

www.shwedagonpagoda.com

 

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s