A Peranakan Tale

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Inilah kisah mengenai orang Peranakan.

Kalau ditanya apa yang menarik di Singapura, saya pasti menjawab museumnya. Kemudian jawaban saya diikuti dengan kerutan di dahi si penanya, persis seperti dugaan saya. Kalau sudah begitu, saya jadi ingin balik bertanya, kenapa memangnya kalau saya jawab museum? Tapi saya nggak pernah tanya balik sih. Bagi mereka yang nggak doyan ke museum, baiklah, saya memaklumi reaksi tersebut. Tapi bagi mereka yang belum familiar dengan wisata ke museum, for your information aja kalau museum-museum di Singapura bagus-bagus lho.

Bukan juga maksud hati untuk memaksa kalian ke museum. Hanya memberikan alternatif kegiatan saja. Bahwa Singapura nggak cuma buat belanja saja. Bukan hanya tempat untuk wisata kuliner semata. Dan nggak selamanya tentang bermain di Universal Studios. Singapura juga memiliki daya tarik lewat bangunan-bangunan yang menyimpan sejarah bangsa ini secara khusus dan kultur dunia secara umum.

Beberapa kali ke negeri ini saya nggak pernah absen ke salah satu museumnya. Favorit saya jelas National Museum of Singapore. Sebuah bangunan yang menyerupai gudang sejarah bangsa tersebut, dilihat dari berbagai elemen penting kehidupan. Mulai dari budayanya, makanannya, busananya, dunia fotografi, hingga industri film dan perwayangan. Berkunjung ke museum ini melahirkan mimpi di benak saya, ingin sekali Indonesia punya museum dengan penataan, visualisasi dan informasi seperti National Museum ini. Tentu saja dengan transformasi penampilan bisa mengubah citra museum di tanah ar yang identik dengan sesuatu yang usang, seram, membosankan. Hal ini tentu saja dapat menjadikan museum sebagai sarana informatif bagi anak-anak muda zaman sekarang yang mulai melupakan sejarah.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Dulunya museum ini merupakan bangunan Tao Nan School.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jangan lupa berpose bersama dua patung ikonik ini. Photo by Inggit.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Meja penjualan tiket masuk.

Nah selain National Museum of Singapore, ada lagi museum lain yang saya kagumi koleksi dan suasananya, yaitu Peranakan Museum. Indonesia, Singapura dan Malaysia ada tiga negara yang banyak memiliki keturunan Peranakan. Jadi orang Peranakan adalah istilah untuk pendatang asal Tionghoa yang datang sekitar abad 15 hingga 16. Di masing-masing negara beda-beda tuh istilahnya. Di Indonesia kerap disebut Tionghoa Benteng. Di Malaysia biasa disebut Baba-Nyonya.

Banyak dari mereka yang melakukan pernikahan dengan kaum pribumi maupun Melayu sehingga terjadi asilimilasi budaya. Ada pula Peranakan lain sepeti India Hindu Peranakan (Chetti), India Muslim Peranakan (Jawi Peranakan) juga Peranakan Eurasia (Kristang atau Kristen). Dengan beragam cerita dan kisah historis yang menarik, rasanya tepat jika dibangun museum bertemakan Peranakan.

Museum Peranakan (Peranakan Museum) terletak di Armenian Street, dekat sekali dengan Philateli Museum yang juga menarik untuk didatangi, terutama bagi pecinta dunia pos dan surat-menyurat. Bangunannya dibuat bergaya klasik, dominan berwarna putih, dengan ciri khas patung ayah dan anak yang sedang bergandengan, seakan ingin buru-buru memasuki bangunan. Di belakang patung terpampang tulisan Peranakan Museum.

Awalnya saya mengira bahwa museum ini dibangun dibekas rumah salah satu pembesar keturunan Peranakan. Seperti di Peranakan Mansion di Penang, Rumah Baba di Malaka maupun Tjong A Fie Mansion di Medan. Tapi tidak. Bangunan museum dulu merupakan Tao Nan School yang dibangun oleh Hokkien Clan Association pada 1906.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Ruang pamer di ruangan Origins.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kalau ingin tahu mengenai sejarah orang Peranakan, bisa menonton video singkat di sini.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Chandelier klasik di tengah ruangan.

Pagi itu saya datang terlalu dini, museumnya baru saja buka. Memasuki bangunan, di bagian tengah terdapat front desk yang berperan sebagai loket untuk membeli tiket masuk. Selesai beli tiket masuk, saya memulai penjelajahan dengan memasuki ruangan di sebelah kiri dari pintu masuk. Di museum ini terdapat sembilan galeri yang menjadi ruang pamer. Yang pertama ada Origins.

Ruangan Origins menyambut dengan banyak foto-foto potrait orang-orang keturunan Peranakan. Dengan ciri khas dan karakteristik yang berbeda, namun jelas tersurat mereka adalah satu budaya yang sama. Di sini digambarkan sejarah asal muasal Peranakan, lengkap dengan potret keluarga-keluarga masa lalu, seperti foto dari keluarga Jawi Peranakan di Teluk Kurau pada tahun 1930. Terlihat pula pada kotak-kotak etalase berisi barang-barang yang menjadi simbol dan kebanggan pada masa itu. Di ujung diputar video yang berisi kisah-kisah sejarah.

Kemudian saya melanjutkan langkah ke lantai dua. Di lantai ini bisa melihat lebih jelas chandelier kristal yang makin mempertajam kesan klasik namun elegan. Ada balkon berbentuk kotak yang melingkupinya, persis seperti tipikal mansion-mansion Peranakan yang saya temui di Penang dan Medan. Di lantai dua ada beberapa galeri yang memamerkan aneka barang-barang bernilai sejarah. Ada galeri Weddings yang terdiri dari empat galeri, di mana terpajang ya barang-barang yang kerap digunakan saat seremoni pernikahan. Serba mewah kalau saya perhatikan.

Di sini bisa ditemukan berbagai informasi mengenai apa saja ritual yang dilakukan dalam sebuah pernikahan Peranakan. Dimulai dari kedatangan era Chiu Thau hingga prosesi pertukaran hadiah (Lap Chai), mungkin semacam pemberian seserahan. Lalu kita juga diantarkan untuk mengintip seperti apa kamar pengantin, desain dan pernak-pernik yang ditampilkan pada masa itu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Perhiasan yang digunakan pada prosesi pernikahan.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jajaran lemari kayu antik dengan detail ukiran yang cantik.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Satu fase di masa lalu yang menerangkan hal-hal yang menjadi tren saat itu.

Galeri selanjutnya ada Language and Fashion, di mana busana-busananya terinspirasi dari budaya di Asia Tenggara. Sekalian juga belajar bahasanya, yakni Baba Malay. Baik yang ditampilkan melalui properti yang dipajang maupun dari rekaman. Seperti satu telepon yang menjelaskan Richard yang sedang belajar di London pada tahun 1939 menerima panggilan telepon dari saudaranya yang memberitahu bahwa ibu mereka sedang sakit. Di sini kita bisa mendengar bentuk percakapan mereka seotentik mungkin.

Di sini ada Dr. Tan Tsze Chor Gallery yang menyimpan detail-detail mengenai busana orang Peranakan di masa lalu. Kebanyakan didominasi kebaya encim yang sederhana tapi cantik. Di bagian depan terdapat baju tradisional yang mengingatkan kostum yang dipakai Alice di film Alice Through the Looking Glass. Ada pula keterangan-keterangan mengenai tren-tren yang terjadi di era 1920-an, 1940-an hingga 1960-an.

Diikuti dengan Religion Gallery. Seperti yang tercatat sejarah bahwa orang Peranakan meyakini perpaduan ajaran Daoism, Buddhism, penyembahan nenek moyang hingga kepercayaan rakyat. Ada beberapa prosesi keagamaan yang mengandung peran penting dalam kehidupan keseharian mereka. Dua galeri yang tersisa adalah Public Life dan Food and Feasting. Public Life lebih menekankan bagaimana kehidupan keturunan orang Peranakan di era modern, sedangkan di galeri terakhir menggambarkan pengalaman untuk mengeksplorasi dunia kuliner dan tata cara makan ala Peranakan. Kebanyakan sajian ala Peranakan mendapat inspirasi dari perpanduan kultur Cina, Malaysia, India, Thailand, Eropa termasuk Indonesia. Bahan dan metode memasaknya pun hampir mirip satu sama lain.

Secara keseluruhan museum ini cukup informatif dan menarik. Dengan visualisasi yang jelas, apik serta tak bertele-tele dalam penjelasan barang-barang yang dipajang.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jajaran kebaya encim yang kerap dipakai zaman dulu.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Telepon antik yang bisa didengar ceritanya.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Suasana ruang makan ala Peranakan.

Travel Tips:

-How to get there?

By Train

Hanya 10 menit berjalan kaki dari Stasiun City Hall dan Bras Basah.Stations.

By Car

Tempat parkit tersedia di samping gedung museum.

By Bus

7, 14, 16, 36, 77, 106, 111, 124, 128, 131, 147, 162,162M, 166, 167, 171, 174, 175, 190, 700, 700A and 857

-Tiket masuk:

Dewasa SGD10, anak-anak SGD6

-Jam buka:

Senin – Minggu, pukul 10:00-19:00

Jumat, pukul 10:00-21:00

-Notes:

Pengunjung bebas untuk memotret koleksi yang dipamerkan.

Peranakan Museum

39 Armenian Street

Singapura

Peranakanmuseum.org.sg

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s