Meliuk-liuk di Palayangan

dsc_0263
Rafting aman di Sungai Palayangan.

Nama Sungai Palayangan mungkin tak setenar Citarik ataupun Citatih di Sukabumi. Tapi kalau menyebut Pangalengan, baru deh kebanyakan dari kita akan mengangguk-angguk tahu. Berlokasi di kawasan yang familiar dengan perkebunan teh dan dataran tinggi menjadikan Pangalengan asyik untuk dinikmati. Hawa sejuk, sesekali diliputi kabut, serta jalanan berkelok-kelok, menjadi ciri khas tersendiri.

Sungai yang dekat dengan Situ Cileunca ini tidak hanya sebatas objek alam. Yang siap berhadap dengan derasnya arus sungai, silakan jajal keberanian kalian dengan berarung jeram di Sungai Palayangan. Walau menurut saya tidaklah seekstrem arung jeram di Sungai Pekalen. Waktu itu lagi libur Lebaran. Juga berdekatan dengan ulang tahun saya. Malas mati gaya di rumah, saya menyulut ide untuk jalan-jalan dan perjalanan kali itu ditemani empat manusia absurd, Kristi, Ali, Angga dan Azhar. Destinasi aman dan murah pilihan kami adalah rafting di Pangalengan. Idenya Azhar.

Normalnya sih hanya membutuhkan tiga hingga empat jam untuk menuju Pangalengan dari Jakarta. Tapi pagi itu kami sedikit kepayahan karena situasi jalanan yang padat merayap. Terutama saat melewati Jalan Banjaran. Maklum masih dalam suasana libur hari raya, ditambah jalanan yang kami lewati melewati pasar dan terminal. Tapi selepas mendaki dalam jalanan yang berkelok-kelok, suasana perjalanan pun terlihat menyenangkan. Kebuh teh mulai menghiasi sisi kiri dan kanan. Hawa mulai sejuk. Walau butuh lima jam untuk mencapai Situ Cileunca, tak apalah, kami semua tak cemberut. Buat apa juga kan!

Kami memasuki Kawasan Wisata Situ Cileunca, langsung memarkirkan kendaraan. Jauh sebelum keberangkatan, saya sudah melakukan reservasi dan berjanji temu dengan Mang Iwan di lokasi parkir. Tak perlu waktu lama untuk mencarinya. Dalam pertemuan singkat ia menyampaikan untuk segera bersiap diri, mengenakan baju untuk rafting, serta saran tidak usah membawa barang berharga seperti kamera, telepon genggam, ataupun uang sekalipun. Tinggalkan saja di mobil. Aman katanya.

20140731_095839
Hmm…
20140731_095828
Hmm… Part II.
20140731_125613
Bersama manusia-manusia absurd.

Kemudian kami berlima digiring ke lahan berumput di mana terhampar pelampung, helm, dan dayung. Masing-masing dipersilakan untuk memilih. Tapi tidak semua diberi dayung. Hanya dua orang di bagian depan perahu yang pegang, saat itu terpilihlah Azhar dan Ali. Sisa kami bertiga hanya mengandalkan tali tambang yang melingkar di sekeliling perahu karet.

Setelah masing-masing siap dengan peralatannya, kami diantar menuju tepian situ di mana sudah menanti perahu karet berwarna merah menyala. Posisi duduk ada Azhar dan Ali di depan, saya pada bagian tengah, sedangkan Kristi dan Angga di belakang. Paling belakang tentu saja pemandu kami. Secara singkat ia memberi panduan gerakan dayung sesuai dengan aba-aba. Peringatan ‘boom’ menjadi tanda penting yang diresponi dengan duduk di dasar perahu sambil berpengangan erat pada tali yang tersedia. Itu akan diteriakan lantang saat perahu mesti melintasi turunan tajam juga berarus deras. Baiklah, mari kita mulai saja petualangan di pagi yang cerah ini.Saya cukup familiar dengan istilah itu, karena sebelumnya pernah rafting. Sedangkan tiga kepala lain (kecuali Azhar) masih “perawan” tulen dengan dunia arung jeram.

Perahu mulai berjalan pelan di danau yang tenang. Pemandangan bukit-bukit hijau yang terkesan berlapis-lapis jauh di atas sana bisa dinikmati dengan leluasa. Masih bisa kami bersenda gurau, mumpung belum sibuk berhadapan dengan denyut air sungai yang berdetak keras. Arah yang dituju adalah tepat di bawah jembatan. Dinding batu menjadi penghalang, buntu di depan sana. Tapi malah ke situlah kami menuju.

Mendekati tepian masing-masing disuruh turun. Kami pun bergotong royong mengangkat perahu menuju atas. Kecuali saya yang berlagak seperti bos dan membiarkan mereka berlima mengangkat perahu. Namanya juga lagi ulang tahun, well this is my day! Setelah ditarik ke atas dekat jembatan, mereka mesti nenteng-nenteng menyeberangi jalan raya dua jalur, untuk kemudian dilempar ke sisi yang berlainan. Kenapa dilempar? Alasannya sih praktis saja, karena sisi tersebut berupa turunan yang curam, jadi nggak perlu susah-susah gotong. Penumpang perahu bisa turun lewat tangga yang tersedia.

dsc_0217
Jump!
dsc_0223
What’s wrong with Mbak Kristi?
dsc_0236
Cuma saya aja yang ngeh ada kamera di balik pepohonan.

Sebelum kembali duduk di perahu yang sudah menunggu di tepian sungai, kami berpose dulu di depan papan nama sungai. Dari kayu sederhana tertulis ‘Welcome to Palayangan River’. Sudah tentu makan waktu karena kami siap bergaya apapun kalau diminta foto. Oiya, sesi pemotretan ini bagian dari jasa yang kami sewa untuk mendokumentasikan segala momen selama kami rafting. Berhubungan nggak ada yang bawa kamera anti air, kami sepakat patungan sewa fotografer seharga Rp150.000 (2014). Hasil foto akan disimpan dalam CD yang akan diberikan di akhir perjalanan.

Sungai Palayangan dengan panjang 4.500 m2, memiliki debit air yang relatif tetap. Termasuk ke dalam grade III-IV, Palayangan dapat memberi keseruan tersendiri. Berbagai jeram dapat ditemui di sungai ini. Ada yang Drop, Double Drop, dan Turbulence. Drop terbentuk karena ada penurunan di dasar sungai, bentuknya seperti tangga atau undakan menurun. Tapi ini tak terlalu besar, rupanya seperti air terjun kecil. Double Drop ada karena arus sungai yang melewati batuan. Dikatakan Double karena turunannya berurutan. Sedangkan Turbulence merupakan gelombang berpusar di bawah permukaan air yang biasanya terbentuk karena kedalaman sungai yang dihuni batuan besar.

Tepat ada 11 jeram yang menemani keseruan kami pagi itu. Disambut dengan Jeram Selamat Datang, yang disusul dengan Jeram Rungkun, Blender, dan Ice. Di Blender, kami dihantam jeram berbentuk Turbulence yang cukup dahsyat, tapi seru! Jeram Drop kami temui di Domba I. Tentu makin menyeramarakkan riuh penghuni perahu berisi enam orang tersebut. Setelah itu kami menuju Jeram Domba II untuk bersua dengan Double Drop di Jeram Kacapi.  Langkah berikut membawa kami bersanding dengan Jeram Seksi untuk kemudian menuju Rest Point.

dsc_0260
Mulai seru. Fokus pada helm Kristi.
dsc_0248
Teknisnya cuma pemandu kami yang memegang dayung, karena dua manusia di bagian depan perahu sama sekali tidak memberi peran signifikan.
dsc_0229
Wet! Wet! Wet!

Di titik ini kami diberi waktu 15 menit untuk mengistirahatkan diri. Area ini ditiduri dua batang pohon titik awal dan akhir. Sehingga kami mesti turun dulu dari perahu dan berjalan dalam air sambil mengangkat perahu. Tempatnya rindang, dengan jajaran pohon-pohon cemara berbaris di atas sana. Sudah cukup terlena, pemandu kami kembali mengajak bertarung dengan Paralayangan. Semua kembali duduk di posisi semula.

Dua jeram menjadi pengisi berikutnya. Ada Jeram Gadis dan Rodeo. Kami pun sempat melintasi jembatan kayu yang posisinya begitu rendah, sehingga mesti sedikit membungkuk. Mendekati garis akhir, si pemandu menyuruh kami untuk turun dari perahu untuk main-main air sebentar atau berenang mengikuti arus. Tak dalam kok, serta arusnya terbilang ramah. Walau terlihat pendek dan hanya memakan waktu sekitar satu setengah jam, tapi kami cukup menikmatinya. Rasanya kurang. Tapi saya pribadi menyukai rafting kali ini. Karena lebih bisa menikmati pemandangan ketimbang sibuk berdayung ria melawan arus. Ya karena saya tak pegang dayung.

Di samping itu rafting kali ini bikin saya ketawa sejadi-jadinya, karena banyak hal yang terjadi sepanjang petualangan. Dari Azhar yang “buta” tidak bisa melihat medan di depan, Ali yang nyaris kepentok batang pohon, Kristi yang hampir di semua foto helmnya terlihat tidak konsisten di kepalanya (alias miring sana miring sini), Kristi yang nyaris terlempar dari perahu (bahkan sempat terekam di kamera. Dan saya langsung ketawa saat ini juga ketika membayangkan hal itu, I’m a mean person..hahaha), ya banyaklah pokoknya. Mungkin yang akan kami ingat dari petualangan ini bukan keseruan jeramnya tapi karena tingkah kami semua yang abstrak.

dsc_0262
Fokus pada helm Kristi dan paha Azhar yang terlalu rapat.
dsc_0273
Nampak mengerikan ya, tapi nyatanya ini seru sih.
dsc_0275
Yeehaawww!!

Mendekati garis akhir masing-masing kami terjun ke air, kecuali untuk Kristi yang didorong Angga (yes, Kristi jadi bahan lelucon sepanjang perjalanan ini). Kami melarungkan diri sambil dibawa arus menuju perhentian akhir. Sejuk airnya. Suasana hutan sekitar juga cukup sunyi, sedikit berkabut, but it was good.

Di garis akhir sudah tersedia mobil (semacam angkot) yang akan membawa kami kembali ke kawasan wisata Situ Cileunca. Perjalanannya cuma sebentar, tak lebih dari 10 menit, tapi itu karena mesti melewati jalanan berbatu yang cukup parah kondisinya. Di sebuah tanjakan sebagian penumpang yang juga para petarung jeram di Palayangan terpaksa turun untuk mengurangi beban. Tiba di tempat parkir kami mengakhiri segenap petualangan hari itu dengan menyantap masakan rumahan seperti karedok, ayam, tahu, dan tempe goreng. Nikmat. Tentunya selepas seka-seka dan ganti baju.

Well, it was a fun rafting. Not that wild, but it’s all okay. Jadi kalau mau rafting yang aman, tanpa terlalu memompa adrenalin, silakan main-main ke Pangalengan.

How to get there?

-Jika menggunakan kendaraan pribadi, masuk tol ke arah Bandung yang nantinya akan keluar di pintu tol Moh. Toha. Dari situ melewati Jalan Banjaran, kemudian belok kiri menuju ke arah Pangalengan. Tepat di bundaran Pangalengan, dekat Terminal Pangalengan, Anda belok kanan. Sekitar 10 km sudah tiba di Kawasan Wisata Situ Cileunca.

-Jika menggunakan kendaraan umum, bisa menggunakan bus dari Terminal Kampung Rambutan atau yang melewati Lebak Bulus untuk menuju ke Leuwi Panjang. Dari situ bisa naik mini bus menuju Terminal Pangalengan. Dari situ bisa naik ojek ataupun angkot. Tapi perlu diketahui bahwa ketersedian angkutan umum menuju Pangalengan terbatas

Daftar operator arung jeram di Sungai Palayangan:

-Air Outbound Training Camp

air-outbound-training-camp.blogspot.com

-Gravity Adventure

www.gravity-adventure.com

-Elhaqi Adventure

raftingpangalengan.com

-Kinara

www.kiranagroup.com

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s