Cerita Dari Gua Jepang Biak

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Bibir Gua Biak.

Serpihan sejarah Biak bersama penggalan kisah Perang Dunia II tersimpan lekat dalam sebuah gua. Sisa-sisa sejarah di daratan Biak berada dalam Gua Jepang yang keberadaannya menyingkapkan sistem pertahanan Jepang yang tangguh pada masa itu. fd

Prolog diawali ketika hingar bingar Perang Dunia II turut menyertakan daratan Indonesia terkena imbasnya. Pasukan imperial Jepang memiliki lapangan terbang strategis di Biak, yang dijadikan sebagai pangkalan komando. Tak berapa lama tentara Amerika Serikat mendarat di Biak, yang membuat tanah subur Biak menjadi arena tempur. Perang mulai berlangsung pada 27 Mei 1944, diakhiri dengan kemenangan berpihak pada Amerika.

Pasca perang, Amerika yang berdiri dibalik bendera Sekutu yang saat itu kekuatan tertinggi berada di tangan NICA (Netherlandsch Indies Civil Administration), membuat Pemerintah Hindia Belanda kembali berkuasa di Biak. Namun, berdasarkan resolusi PBB, Belanda mengembalikan Irian Barat termasuk Biak ke tangan Indonesia tahun 1963.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gerbang masuk kawasan Gua Jepang Biak.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Barang-barang yang dipajang di areal sekitar gua.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Aneka alat untuk bertempur.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Bangkai pesawat terbang dan beberapa rudal.

Pada masanya gua ini dijadikan tempat bersembunyi tentara Jepang, juga sebagai areal untuk menyimpan persediaan logistik kebutuhan perang. Konon, sekitar 5.000 tentara Jepang kehilangan nyawa mereka di dalam gua ini. Ada legenda yang beredar di kalangan penduduk Biak. Menurut cerita, gua ini dulunya dihuni seorang perempuan tua. Mereka menyebut gua ini sebagau abyau binsar, yang berarti gua nenek.

Dengan semua catatan sejarah yang saya baca sebelum menghampiri tempat ini, tentu saja membuat saya begitu penasaran seperti apa rupa Gua Biak. Saya pernah ke Gua Jepang lainnya di Bukittinggi. Sekarang sudah lebih baik rupanya, jalur jalannya sudah bagus. Di dalamnya sudah tidak begitu berbau busuk. Ada lampu-lampu sebagai penerang, tidak semenyeramkan waktu saya mendatangi pertama kali sekitar tahun 1995. Tapi kalau kalian membayangkan Gua Biak akan serupa dengan yang di Bukittinggi atau mungkin seperti yang di Bandung, segera musnahkan ekspektasi tersebut. Gua ini jauh lebih alami dan lebih terasa kesan “gelapnya”.

Lokasi gua terletak di Desa Sumberker, Samofa, sejauh 5km dari pusat kota. Memasuki pelataran Gua Jepang, Anda akan disambut dengan hamparan barang-barang sisa perang, seperti mortil, baling-baling pesawat, potongan badan pesawat, jeep, serta peralatan perang lainnya. Jika Anda mengunjungi rumah yang fungsinya seperti museum mini dapat ditemukan benda berharga lainnya seperti baju tentara Jepang, topi dan helm tempur, peluru-peluru bekas, peta wilayah perang di Biak, juga gambar beberapa panglima perang yang berkuasa kala itu.

Semua barang yang dipamerkan sebagian besar sudah usang, berkarat, tapi masih terlihat jelas rupa aslinya. Beberapa diletakan agak sembarangan, tanpa memerhatikan sisi estetika. Sebagian lagi ditaruh di meja etalase dari kaca. Tidak terlalu banyak tanda informasi yang menerangkan apa saja fungsi dan sejarah penting di balik barang-barang tersebut. Pastinya secara umum kita mengetahui itu semua adalah barang-barang militer untuk keperluan perang.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah melihat-lihat perabot perang di bagian depan, selanjutnya kamu bisa menyusuri jalan setapak yang ditumbuhi lumut berwarna hijau terang. Dalam kerindangan pohon-pohon tinggi yang terangkai sepanjang jalan setapak, kamu dapat menemukan satu areal yang menunjukkan Gua Jepang dari atas. Dari atas bisa disaksikan lubang gua yang awalnya tertutup dinding batu, namun menjadi bolong akibat hantaman bom pihak sekutu. Bisa disaksikan tanaman merambat lumayan menutupi lubang yang terbuka itu, dan sinar mentari menyeruak hingga dasar.

Kemudian bisa meneruskan perjalanan melewati jalan setapak yang nantinya akan mengantarkan pada anak tangga. Jalan setapak ini cukup nyaman dilewati. Ditudungi rindangnya pepohonan yang lebat daunnya. Jalannya sendiri bahkan sampai tertutup llumut hijau yang tumbuh liar. Agak lembab sih hawanya di situ. Bisa jadi spot yang bagus untuk dipajang di Instagram.

Berjalan turun melewati tangga yang akan membimbing kamu tiba di pintu masuk gua yang memberi kesan mistis juga mengundang decak kagum karena kekokohannya. Saya takjub dengan setiap lekuk stalaktit yang terpajang di dinding gua. Bangunan sejarah ini masih berdiri dalam wujud asli, tanpa diperbaharui fondasi dasar maupun diberi penerangan. Atmosfer gua yang sunyi juga bunyi alam sekitar seakan membangun suasana yang mirip dengan kondisi masa lalu. Tentunya tanpa dilengkapi aktivitas perang dan tentara yang lalu-lalang di dalamnya ya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tanah merah dan bebatuan menjadi pijakan Anda kala menyisir bagian dalam gua. Air pun sering menetes dari atas, sehingga menyebabkan beberapa bagian basah dan berlumpur. Penerangan pun hanya memanfaatkan pancaran sinar mentari dari lubang yang bolong, itu pun sangat minim. Bagian dalam gua sebenarnya tidak menyisakan alat-alat perang yang dulu pernah digunakan. Ataupun rangka jenazah tentara Jepang yang gugur waktu itu.

Tapi ada yang mengatakan kalau di dalam gua masih ada jenazah tentara dan panglima perang yang belum ditemukan. Terlihat menyeramkan kalau membayangkan hal tersebut. Tapi selama saya di sana, puji Tuhan tidak terjadi apapun. Intinya jangan lupa berdoa sebelum masuk serta pastikan memang kalian nggak punya niat buruk ketika mengunjungi gua.

Supir yang menemani saya menerangkan kalau masih ada beberapa pengunjung yang sengaja datang untuk berziarah ke sini. Khususnya mereka yang berasal dari Jepang. Waktu saya datang masih tersisa karangan bunga yang diletakkan begitu saja di atas tanah. Bunga sebagai tanda penghormatan. Saya pernah membaca kalau Jepang menderita kerugian masif akibat perang melawan Sekutu. Diketahui sekitar 6.000 tentaranya tewas, itu belum termasuk 4.000 lainnya dinyatakan hilang atau diasumsikan tewas dalam pertempuran.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s