Vagabond, an Artsy Hotel

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Parisian-chic look inside Vagabond’s room.

November menjadi bulan tersibuk bagi saya, baik untuk kerjaan maupun hura-hura. Salah satu momen adalah saat awal bulan lalu ditugaskan untuk meliput opening hotel baru dekat kawasan Little India. Namanya Hotel Vagabond, a Tribute Portfolio. Hotel bergaya klasik juga kontemporer ini merupakan bagian dari keluarga besar Starwood.

Dari Bandara Changi hanya dibutuhkan waktu sekitar 30 menit saja. Kalau menggunakan MRT, stasiun terdekat ada di Lavender MRT Station. Bangunan hotelnya memang di pinggir jalan, namun bukan di jalanan utama yang lebar. Suasana sekitarnya adalah bangunan restoran dan pertokoan. Tidak terlalu ramai, tapi tidak begitu sepi. Kalau doyan belanja di Mustafa Centre, itu lho, pertokoan 24 jam yang isinya kayak kantung Doraemon, apa saja dijual di situ. Balik lagi soal Mustafa, kalau kalian kerap mencari oleh-oleh di situ, hanya butuh jalan kaki 10 menit dari Vagabond.

Hotel Vagabond sendiri dari luar sudah bergaya klasik. Dominan dengan warna merah yang dipermanis jendela-jendela berbahan kayu yang juga dicat berwarna sama. Model jendelanya pun mengingatkan akan rumah oma di Sorong. Model yang klasik gitu. Di bagian depan ada jalan setapak yang diisi kursi yang bisa dipakai bagi tamu yang ingin merokok. Yes, hotel ini memiliki kebijakan larangan merokok di seluruh area.

20161105_161339
Lobi hotel.
20161105_161359
Interior yang ikonik.
20161102_180359
Vagabond Bar.
20161102_165707
The lounge.

Begitu memasuki bagian dalam hotel, jelas mata ini akan menemukan banyak koleksi seni serta interior yang artistik. Warna merah tetap menguasai sebagian besar ruangan. Bagian front desk dihiasi dengan meja yang berbentuk badak. Cukup epik untuk sebuah front desk. Ada sofa-sofa tanpa sandaran di sekitarnya dengan ditudungi banyan tree alias pohon beringin berwarna emas. Sepertinya banyan tree ini cukup ikonik dan menyebar di beberapa titik di lantai pertama hotel.

Searah selepas front desk para tamu bisa menikmati The Vagabond Executive Club Lounge yang masih diperkuat warna merah. Areanya cukup luas, mungkin bisa menampung sekitar 40-50 orang (duduk). Masih menawarkan pencitraan seni melalui pigura-pigura yang dipajang sepanjang tembok. Masing-masing pigura berisi foto-foto yang diambil oleh sang pemilik hotel. Hasil potretnya pun dapat ditemukan di tiap kamar hotel. Masih satu area dengan lounge terdapat Vagabond Bar yang ramai dengan benda-benda seni lainnya. Salah satunya partisi kayu yang terdapat di film Pretty Woman. Ini adalah partisi serupa yang muncul di film tersebut.

Hotel berlantai empat ini memiliki enam jenis kamar. Antara lain Classic, Deluxe Executive Club, Courtyard Executive Club, Art Executive Club Suite, Junior Executive Club Suite dan Vagabond Executive Club Suite. Selain suite terbaik, semua kamar terletak di lantai dua dan tiga. Sedangkan untuk ke lantai teratas tidak bisa menggunakan lift, melainkan menaiki tangga di pintu khusus.

Berbicara mengenai lift, di dalamnya terdapat video yang berisi cuplikan adegan-adegan dalam beberapa film. Idenya sendiri berasal ketika menyadari lift merupakan sebuah tempat di mana kita akan berpapasan dengan orang asing. Alih-alih berdiri hening tanpa melakukan interaksi, video ini bisa menjadi “penyelamat” ketika kita mulai merasa canggung bersampingan dengan tamu hotel lainnya.

 

Kamar Yang Artistik

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Perhatikan setiap detail yang ditampilkan.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Partisi bermotif bunga ini merupakan handmade painting.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Salah satu fasilitas yang dapat dinikmati para tamu.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Another view from my room.

Selama tiga malam saya tidur di Deluxe Executive Club. Kamar ini didesain ala Parisian-chic yang cantik dan menonjolkan tiap detail dari interior dan perabot yang tersebar sepanjang mata memandang. Kamar seluas 24-26 sqm ini memiliki tempat tidur King-sized, 400 thread count Egyptian cotton sheet dan Turkish towel, TV LED 42 inci (sayangnya tidak tersedia movie channel seperti HBO ataupun FOX Movies Premium. Tapi masih disediakan film-film aneka genre pada channel khusus), berlantai marmer Italia lengkap dengan meja tulis dari kayu mahogani. Fasilitas pendukung seperti Wifi sudah pasti ada. Yang spesial lagi para tamu bisa menikmati complimentary unlimited local calls/ local data dengan fasilitas telepon yang disediakan. Tapi hanya berlaku ke beberapa negara saja. Ke Indonesia belum bisa, ya maklum, pasaran dari Indonesia belum begitu banyak.

Yang saya sukai dari kamar yang menghadap ke jalanan utama ada beberapa hal. Pertama adalah bagian partisi yang dilukis tangan, yang menjadi ikonik dari kamar-kamar di Vagabond. Bermotif bunga-bungaan dengan warna tak mencolok mata. Nampak manis dengan elemen lain di dalam kamar. Saya juga suka pernak-pernik antik seperti telepon model klasik di samping tempat tidur atau radio bergaya klasik di meja kerja. Bisa digunakan sebagai blutooth speaker juga. Jajaran foto-foto bertema human interest serta landscape terpajang di atas tempat tidur.

Untuk kamar mandinya tidak begitu besar ukurannya. Toilet dan ruangan shower dibuat terpisah. Untuk amenities-nya menggunakan Etro bath. Sayangnya hotel ini tidak menyediakan fasilitas kolam renang ataupun jacuzzi. Tapi memang tak bisa disangkal kalau hotel ini memiliki banyak spot yang Instagrammable. Pas bagi pecinta fotografi juga pelaku selfie (swafoto dalam Bahasa Indonesia).

Hotel Vagabond, a Tribute Portfolio 

39 Syed Alwi Rd

Singapore

Tel: +65 6291 6677

www.hotelvagabondsingapore.com

-PJLP-

Advertisements

One thought on “Vagabond, an Artsy Hotel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s