Sisa-sisa Monarki di Berau

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Ada dua keraton di tanah Berau.

Walau Kepulauan Derawan tak begitu banyak menyimpan kisah historis, namun kawasan ini menyatu dengan Kabupaten Berau yang dahulunya bergelar kesultanan. Sisa-sisa kehidupan monarki masih nampak jika kalian bertandang ke Berau, di mana nama Sambaliung dan Gunung Tabur menjadi penyelenggara pemerintahan selama sekian abad.

Bukanlah kejutan jika Kabupaten Berau pernah merasakan kehidupan monarki sejak abad ke-14. Mengingat begitu banyak daerah di Indonesia yang dahulunya berstatus kerajaan atau kesultanan. Di wilayah Berau sendiri tertulis nama Kesultanan Berau yang awalnya diperintah oleh Baddit Dipattung (bergelar Aji Raden Suryanata Kesuma) dan istri bernama Baddit Kurindan (bergelar Aji Permaisuri). Lokasi kekuasaannya meliputi Sungai Lati, di Kecamatan Gunung Tabur.

Sultan Berau yang pertama dikenal sebagai sosok yang bijak dan mampu memimpin hingga 32 tahun. Aji Raden Suryanata Kesuma pun merupakan pemimpin yang dihormati rakyatnya. Kesejahteraan Berau dapat dirasakan pada masa kepemimpinannya. Intrik pun dimulai ketika keturunan ke sembilan, Aji Dilayas, memiliki dua anak yakni Pangeran Tua dan Pangeran Dipati, yang dikandung dari ibu yang berlainan. Sejak itu, Kesultanan Berau dipimpin secara bergantian oleh keturunan dari kedua pangeran. Inilah yang memicu perbedaan prinsip dan tak jarang menimbulkan pertikaian. Belanda pun turut campur di dalamnya dengan menggalakkan politik adu dombanya. Harga mahal mesti dibayar ketika kesultanan ini terpecah dua menjadi Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung. Itu terjadi saat keturunan ke-13 dari Aji Raden Suryanata Kesuma.

Kesultanan Gunung Tabur

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Keraton Gunung Tabur sudah musnah akibat dijatuhi bom zaman perang.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Penampakan di dalam museum. Terlihat singgasana Sultan Ahmad Maulana.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Warna kuning mendominasi. 
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Aji Putri Kannik Berau, keturunan terakhir dari Kesultanan Gunung Tabur.

Nama Sultan Muhammad Zainal Abidin menyatu dengan Kesultanan Gunung Tabur. Dialah sang penguasa pertama, yang juga adalah cucu dari Pangeran Dipati. Diketahui bahwa sultan terakhir yang mengemban tanggung jawab kepemimpinan di Gunung Tabur adalah Aji Raden Muhammad Ayub, yang bertahta pada 1951-1960. Dan tak lama sesudah itu, areal Gunung Tabur menjadi bagian dari Kabupaten Berau. Sungguh disayangkan ketika Keraton Kesultanan Gunung Tabur mesti hancur akibat dibom zaman perang dengan sekutu. Kejadian naas itu terjadi pada 23 April 1945. Sebagai pengingat akan keberadaan kesultanan ini, dibangunlah Museum Batiwakkal.

Museum ini berada di Jalan Kuran, Kecamatan Gunung Tabur. Letaknya yang persis di depan Sungai Segah tersaji melalui bangunan utama yang didesain ala rumah tradisional beratap rumbai dengan nuansa kuning pucat sebagai warna utama. Jalan setapak menjadi penghubung menuju pintu museum. Memasuki museum yang didesain cukup apik ini, kamu akan berhadapan dengan singgasana Sultan Ahmad Maulana, pemimpin Gunung Tabur ke sembilan yang memerintah dari 1921-1951.

Secara keseluruhan Museum Batiwakkal terdiri dari beberapa ruang yang menyimpan berbagai jenis koleksi sejarah asa Kesultanan Gunung Tabur. Potret keluarga kesultanan, contoh mata uang, meriam sitti buru, perabot yang digunakan di keraton, silsilah Kesultanan Berau, Gunung Tabur, dan Sambaliung, dan masih banyak lagi. Di belakang museum pun terdapat areal pemakaman milik keluarga Kesultanan Gunung Tabur.

Seusai melihat-lihat isi Museum Batiwakkal, saya coba mampir di kediaman kakak beradik Aji Putri Kannik Berau Sanipa dan Aji Putri Nur Hayati. Keduanya merupakan putri dari sultan ke delapan Gunung Tabur, Sultan Muhammad Siranuddin (1892-1921). Tinggal di bangunan yang tak terlalu besar, dua anak bangsawan yang usianya sudah di atas 90 tahun ini kerap dikunjungi pelancong yang sedang mampir ke Museum Batiwakkal.

Biasanya keduanya ramah menyambut siapapun yang bertamu di kediaman mereka. Namun siang itu hanya Aji Putri Kannik Berau yang nampak. Dengan senyum dan ramah tamah, beliau masih tampak sehat walau bertumpu pada tongkat kayunya. Dirinya banyak bercerita mengenai kehidupan kesultanan zaman dirinya masih muda. Termasuk Taman Yayasan IDA (Ibu dan Anak) yang dirintisnya bersama saudari tercinta, di mana keduanya berupaya membantu para ibu yang akan melahirkan anak-anak mereka.

Menurut Ibu Putri, sapaan akrabnya, zaman dulu para ibu enggan dibantu secara medis. Adanya IDA menyadarkan mereka akan pentingnya keselamatan sang ibu dan anak. Selebihnya, ibu-ibu tersebut akan diberi bantuan makanan juga pakaian sebagai bentuk bantuan dari IDA.

Kesultanan Sambaliung

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Tampak depan rumah Kesultanan Sambaliung yang masih terpelihara dengan baik.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Taman kecil yang berada di tengah bangunan.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sisa-sisa barang peninggalan Kesultanan Sambaliung.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Masih dominan dengan warna kuning.

Untuk Kesultanan Sambaliung sendiri diperintah pertama kali oleh Raja Alam yang diberi gelar Alumuddin (1800-1852). Raja Alam yang juga merupakan cucu dari Sultan Hasanuddin ini dan cicit dari Pangeran Tua, merupakan pendiri ibukota kerajaannya yang terletak di Tanjung Batu Putih pada 1810. Sejarah menuliskan, Raja Alam dikenal sebagai figur pemimpin yang tak gentar berhadapan dengan penjajah Belanda. Segala daya dilakukannya demi mengusir bangsa barat tersebut dari wilayah kekuasaannya. Akibat perlawanan yang gigih terhadap Belanda, dirinya pernah ditawan lantas diasingkan di Makassar.

Bukti sejarah keberadaan Kesultanan Sambaliung dapat dinikmati dengan mendatangi Istana Kesultanan Sambaliung yang masih tegak berdiri. Jika diperhatikan, bangunannya yang dibangun pada 1881 ini mengambil inspirasi dari Cina, lengkap dengan dua tugu prasasti yang menjadi gapura di bagian depan. Satu tugu ditulis dalam Bahasa Arab dan Melayu, sisanya menggunakan huruf Lontar Bugis.

Selain kisah historis, ada pula cerita menarik dari kesultanan ini, tepatnya mengenai Sultan Muhammad Aminuddin, sultan ke delapan Sambaliung. Kononnya, beliau bersahabat dengan makhluk gaib yang selama beberapa kesempatan melindungi keberadaan keraton. Seperti ketika sekutu menjatuhkan bom tepat di atap keraton, terlihat seperti ada tangan raksasa yang menangkapnya. Ataupun saat Jepang yang ingin membakar kediaman sultan itu, tiba-tiba saja terlihat tangan yang memukul dari belakang hingga mereka membatalkan niat jahat tersebut. Tangan raksasa itulah yang dipercaya merupakan bantuan dari sahabat gaib sang sultan.

Secara umum gambaran Keraton Sambaliung terdiri dari 12 kamar, dengan satu ruang utama sebagai tempat pertemuan, turut dilengkapi taman kecil dan teras. Saat ini, bangunan bersejarah yang menghadap Sungai Kelay ini berperan sebagai tempat berlangsungnya pemberian gelar bangsawan maupun pesta adat. Walaupun begitu, saat saya mendatanginya tidak terlihat barang-barang peninggalan sejarah yang lengkap, tidak seperti mendatangi museum di Kesultanan Gunung Tabur. Walau begitu bangunannya sendiri masih terpelihara dengan baik, catnya masih baik. Cuma kalau ingin menelusuri tiap ruangnya mesti melepas alas kaki. Untuk memasuki rumah ini pun tidak dikenakan biaya masuk.

Fun Facts:

– Zaman dahulu wilayah pemukiman penduduk di Berau dikenal dengan sebutan Banua. Beberapa banua yang terkenal adalah Banua Merancang, Banua Pantai, Banua Kuran, Banua Rantau Buyut, dan Bantau Rantau Sewakung.

– Di Keraton Sambaliung terdapat sepasang meriam yang kerap berpindah sendiri, tanpa ada seorang pun yang memindahkannya. Konon dipercaya meriam-meriam tersebut dipindahkan oleh “penjaga” keraton.

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s