Wakatobi Tanpa Diving – Wanci

Dear Wakatobi. Daerah ini adalah destinasi di mana saya perdana ditugaskan di kantor lama untuk meliput rubrik utama. Perasaannya campur aduk. Deg-degan karena akan ke tempat yang nggak pernah saya bayangkan sebelumnya, dipadu dengan rasa khawatir karena ini pertama kali liputan untuk konten utama. But darling, ketakutan nggak akan membawa kita ke mana-mana. Jadi saya berdoa yang terbaik dan mencoba untuk menikmati perjalanan.

Bertamu ke Wakatobi saya lakoni tahun 2011, yup, hampir enam tahun yang lalu. Saat itu Wakatobi belum terlalu dikenal banyak orang. Hanya komunitas tertentu yang mengetahui kawasan pesisir ini. Ketika ke sana nggak terlalu banyak informasi yang saya dapat di dunia maya. Enam tahun yang lalu belum terlalu banyak blog dan media yang mengupas daerah ini. Hanya tahu dari cerita si A atau temannya si B bilang begini. Udah, gitu aja. Nggak heran saya jadi khawatir.

Saya tahu nama Derawan sedang berjaya. Ya, memang indah kok. Apalagi bisa mendapatkan kesempatan untuk bercengkerama langsung dengan ubur-ubur ramah yang tidak akan menyengat kita. Tapi Wakatobi juga tidak kalah serunya kok! Selain wisata bahari, daerah ini lebih kaya dalam hal wisata sejarah, budaya juga kuliner ketimbang Derawan. My point is, kalau nggak diving atau snorkeling kalian nggak akan mati gaya selama di sana. Soalnya banyak yang bisa dilihat selain pantai dan bawah laut.

Singkat cerita saya akhirnya tiba di kepulauan ini. Wakatobi merupakan gugusan kepulauan yang terdiri dari Pulau Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Nama Wakatobi sendiri berasal dari akronim nama empat pulau tersebut. Untuk ke Wakatobi mesti melalui perjalanan panjang. Dulu nggak ada tuh penerbangan yang mempermudah pejalan. Dari Jakarta saya mesti transit di Makassar dan Kendari terlebih dahulu. Kalau sekarang cuma transit di Makassar saja.

Pesawat Express Air jenis ATR.
Bukan baling-baling bambu.
Wangi-wangi dari udara.

Di Kendari ganti pesawat jenis ATR yang memuat sekitar 30-an penumpang. Model seat-nya pun 2-1. Agak aneh juga duduk di pesawat dan nggak ada teman di sebelah karena saya duduk di baris untuk satu penumpang. Dari jendela terlihat baling-baling pesawat yang sedikit bikin deg-degan. Maklum, itu kali pertama naik pesawat model ATR. Posisi saya serasa dekat sekali dengan mbak pramugari yang berada dekat pintu pesawat. Tapi view dari atas keren banget sih! Walau cuma 30 menit di udara, tapi panorama laut dengan gradasi warnanya kece banget.

Untuk penerbangan komersial pesawat mendarat di Pulau Wangi-wangi atau biasa disebut Wanci, tepatnya di Bandar Udara Matahora. Enam tahun lalu bandara ini bikin saya shock begitu turun pesawat. Dari landasan yang saya lihat adalah sebuah rumah kecil dengan atap seng berwarna biru mencolok. Sekitaranya merupakan lahan yang kosong-melompong, sedikit gersang dan hanya ada beberapa orang di luar. Demi apa ini sebuah bandara? Hahaha. Yang menakjubkan, supir taksi yang menjemput saya berdiri di luar rumah itu dan siap mengangkat barang-barang saya. OK, this is new, supir taksi bisa menunggu dekat landasan.

Bandar Udara Matahora saat itu mungil banget dengan fasilitas ala kadarnya. Bahkan nomor Indosat saya aja nggak dapat sinyal di sana. Keluar dari bandara dan menyentuh kawasan pemukiman penduduk rasanya menyenangkan. Padahal hawa di bulan Juli saat itu lumayan menyengat. Tapi seakan nggak peduli saya dengan matahari yang begitu pekat.

Selamat datang di Bandar Udara Matahora.
Perjalanan menuju pusat kota Wanci.
Katanya pulau ini dijual, nggak sampai 200 juta. Tapi dulu ya, tahun 2011.

Wakatobi dikenal sebagai destinasi untuk wisata bahari, khususnya untuk kegiatan di bawah laut. Sebelum Derawan heboh, Wakatobi sudah naik pentas terlebih dulu. Kali ini saya nggak akan bahas mengenai aktivitas diving ataupun snorkeling di Wakatobi. Kita nikmati Wakatobi tanpa diving. Nyatanya ada begitu banyak pilihan yang bisa membuat pejalan seperti kalian masih dapat menikmati negeri kepulauan ini. Tulisan akan saya bagi menjadi tiga bagian. Wangi-wangi, Kaledupa dan Tomia. Lho, kok Binongko nggak masuk? Iya saya waktu itu gagal menyeberang ke Binongko karena ombak dan anginnya terlalu kencang jadi hanya mentok sampai Tomia saja.

Pulau Wangi-wangi atau Wanci merupakan pulau utama dengan sarana dan prasarana yang lebih memadai dibanding pulau-pulau tetangganya. Ada banyak hotel, restoran, toko swalayan, bank dan ATM yang menunjang perjalanan Anda menjadi lebih nyaman. Fasilitas rumah sakit, kantor polisi, juga lembaga kemasyarakatan lainnya yang ada di sini merupakan versi terbaik dari seluruh Wakatobi.

Menu khas Restoran Wisata.
Pemandangan dari Restoran Wisata.
Pemandangan dekat Restoran Wisata. Photo by Zara.

Dari Matahora menuju pusat kota jalan yang dilalui nihil kendaraan. Tidak beraspal, jalanannya berpasir dan kapur gitu. Lahan kosong masih ditemui sepanjang jalan. Ada beberapa yang mesti dicoba dan dikunjungi ketika tiba di Wangi-wangi. Pertama adalah isi perut dengan menikmati Ikan Palumara dan Ikan Parende yang dibuat ala kuah kuning yang asam serta Ikan Parape yang dibakar dan dihidangkan bersama sambal kecap. Ini adalah hidangan khas dari Restoran Wisata (Jl. Ahmad Yani. Tel: 0404-21175). Restoran ini salah satu yang paling tenar di kota ini. Para turis kerap datang bukan karena makanannya saja yang enak tapi juga menawarkan pemandangan laut dari bangku makan.

Habis perut terisi dan kenyang menjalar perut, ada baiknya kegiatan berikutnya jangan yang berat-berat dulu ya. Santai-santai aja kita. Bagaimana kalau main air di Gua Kontamale? Gua yang berisi air tawar ini letaknya tak jauh dari pusat kota. Dari tempat parkir nggak butuh jalan jauh untuk mencapainya. Cuma turun tangga yang tak seberapa banyak. Objek yang satu ini lebih didominasi penduduk lokal. Mereka kerap memakai Gua Kontamale sebagai tempat mencuci (cuci baju hingga cuci mobil), mandi, selain main-main air bagi para bocah.

Seperti di foto, penampakan Gua Kontamale cukup luas dengan beberapa kolam. Yang paling besar biasa dijadikan arena bermain anak-anak. Nggak hanya menyelam bebas, mereka terkadang lompat dari sisi tebing di samping kolam alami tersebut. Kolamnya ada yang dangkal ada juga yang dalam. Walau tempat di area terbuka, namun hawanya sejuk karena ditudungi rimbunan daun-daun pepohonan di sekeliling gua.

Selanjutnya bisa main-main ke Pantai Cemara yang agak lumayan juga waktu yang ditempuh untuk mencapai pantai yang sepi ini. Tipikal pantainya berpasir putih, gradasi warna air yang cantik serta ditumbuhi banyak pohon cemara itulah alasan dinamakan Pantai Cemara. Saat ke sana, sayang sekali sedang mendung, asa untuk melihat matahari terbenam mesti dipendam lagi.

Sisi lain yang mesti dijelajah adalah Perkampungan Bajao. Suku Bajao yang dikenal sebagai kaum yang tinggal di atas lautan, tepatnya di rumah terapung memang menguasai. Dengan pola hidup nomaden membuat suku ini kerap disebut kaum gipsi laut. Suasana kampung nelayan ini agak ramai saat sore. Kita bisa jalan-jalan di perkampungan apung ini tanpa mengeluarkan biaya apapun. Jangan lupa izin dan permisi lewat karena rute jalan melewati depan rumah orang.

Bagi yang doyan motret, di sini tepat banget buat hunting foto, khususnya untuk human interest. Apalagi wanita-wanita di sini kerap menggunakan bedak dingin pada seluruh mukanya untuk melindungi dari sinar matahari. Bedak dingin ini dibuat dari campuran daun kapas, beras dan putih telur. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Waktu itu saya habiskan sore dengan menyaksikan sunset sembari melihat para nelayan menaiki perahunya atau sedang merapikan jala mereka. Sunset terbaik lainnya bisa diraih kalau kalian ke dermaga utama pulau ini. Cantik juga euy! 

Air Gua Kontamale.
Pantai Cemara.
Sunset di dermaga. Photo by Zara.

Trus ada apa lagi di Wanci? Coba deh main-main ke kampung nelayan di Desa Liya Togo. Dengan jalanan yang tak terlalu lebar yang didampingi pemandangan laut di satu sisi nampak biasa saja sih. Tapi kalau sampai bikin saya balik dua kali ke kampung ini, jelas ada sesuatu yang berbeda.

Dengan pemandangan keramba ikan, serta jajaran ikan yang sedang dijemur di atas tadah dari bambu dan kayu, namun sekeliling area hanya diributi suara angin dan sayup-sayup debur ombak. Warna air lautnya, ah… luar biasa memukau mata. Jernih. Cemerlang. Eloknya tak terkira. Nggak perlu pakai bayar sepeser Rupiah sudah bisa merasakan salah satu panorama terbaik milik Wangi-wangi.

Kalau ingin mengintip sejarah Wakatobi, ada sisa-sisa Benteng Liya Togo yang berada di Desa Liya Raya. Walau hanya berupa sisi tumpukan karang setinggi pinggang manusia, namun suasana magis terasa karena ada keberadaan kuburan keramat dekat benteng. Salah satunya milik tokoh penyebar Islam di daerah tersebut. Dekat situ juga terdapat Masjid Mubarak yang juga merupakan masjid keramat.

Rumah salah satu penguasa Desa Liya Raya.
Perkampungan Bajao.
Liya Togo, desa nelayan.

Saya juga sempat mampir di rumah salah satu penguasa Desa Liya Raya. Rumahnya model panggung, beratap seng dan sebagian besar terbuat dari kayu, serta dipagari batu-batu karang putih yang tingginya tak sampai pinggang orang dewasa. Rumahnya sudah tidak dihuni lagi. Terbengkalai begitu saja, hanya ada papan putih di bagian depan yang menerangkan nama rumah dalam bahasa setempat, Kamali Lakina Liya dan disebutkan dibangun pada tahun 1923.
Ngomong-ngomong soal kuburan, di Wanci sini kuburannya diletakkan piring-piring kaca dekat nisan. Katanya untuk menaruh sesajen. Walau mayoritas beragama Islam, namun sebagian masyarakat masih melakukan ritual pemberian sesajen dan dupa bagi nenek moyang. Ukuran kuburannya pun lebih besar dari kuburan pada umumnya.

Oiya, satu lagi yang menarik dari Wanci adalah Joget Jodoh. Karena Wanci nggak ada tempat hiburan yang istimewa, para muda-mudi di sini menggelar Joget Jodoh. Digelar di tempat terbuka, ada deretan kursi ditaruh berjajar setengah lingkaran. Remaja putri duduk di kursi tersebut sedangkan yang laki-laki berdiri di dalam setengah lingkaran kursi.

Begitu musik dimainkan, yang laki-laki segera memilih perempuan mana yang ingin ia ajak berjoget. Siapapun lelaki yang berdiri di depan kursi tak boleh ditolak. Musik pendukungnya organ tunggal dengan penyanyi. Seru banget sih Joget Jodoh ini. Semua warga turut serta. Acaranya nggak tentu juga. Bebas mau kapam saja diadakan. Siapa aja bisa jadi penyenggara acara. Dan infonya cepat menyebar, jadi tiap acara pasti ramai yang datang.

Seru ya Wangi-wangi! Sekarang kita cusss ke Pulau Kaledupa dengan alam liarnya.

 
Notes:

Hotel di Wangi-wangi:

-Patuno Resort Wakatobi

www.patunoresortwakatobi.com

-Wakatobi Bajao Resort

Jl. Poros Liya

Tel: 0852 41521718

-Hotel Wakatobi

Jl. Ahmad Yani

Tel: 0404-21823

-Hotel Lina

Jl. Wolter Monginsidi

Tel: 0404-21961

 

 

-PJLP-

Advertisements

2 thoughts on “Wakatobi Tanpa Diving – Wanci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s