Wakatobi Tanpa Diving – Kaledupa & Hoga

Kaledupa dengan alam liarnya.

Sekarang kita bergeser ke Pulau Kaledupa. Pulau yang menurut saya lebih liar alamnya, masih alami dan belum terkena sentuhan sisi modern yang berlebihan. Persinggahan saya ke Kaledupa merupakan lanjutan dari perjalanan mengitari Wakatobi yang diawali dengan menjajaki Pulau Wangi-wangi atau yang juga disebut Wanci.

Jadi, seperti apa rupa Kaledupa? Sebentar, kita awali dulu dari perjalanan saya menuju pulau ini. Perjalanan bermula dari Pulau Wangi-wangi. Untuk ke Kaledupa ada dua opsi, antara sewa speedboat atau menggunakan kapal reguler. Sewa speedboat jelas lebih enak, nyaman, cepat tapi kurang bersahabat di kantong. Sedangkan kapal reguler mungkin lebih “manusiawi” untuk pejalan-pejalan backpacker namun mesti siap berhadapan dengan waktu tempuh yang lebih lama, sedikit berdesakan di dalam kapal, bahkan mesti dibarengi dengan motor yang ikutan diangkut.

Saat itu saya memilih naik kapal reguler yang berangkat jam 9 pagi. Saat itu hanya sekali penyeberangan setiap harinya. Kapalnya model long boat tapi sudah cukup nyaman dinaiki. Cuma space udara di dalam kapal agak sedikit pengap, bikin saya mual di tengah jalan. Teman saya lebih memilih duduk di atap kapal karena ingin leluasa memotret pemandangan. Saat menjauhi Wanci, terlihat pemandangan Kampung Suku Bajao yang saya datangi kemarin. Perjalanan menuju Kaledupa sendiri memakan waktu hampir tiga jam.

Kapal reguler dari Wanci-Kaledupa.
Penginapan ala kadarnya di Kaledupa.
Kampung Suku Bajao.

Tiba di dermaga sedikit bingung karena memang tidak menghubungi siapa pun di sini untuk menjemput, bahkan belum reservasi tempat untuk menginap. Karena tampang saya dan dua teman terlihat jelas sebagai pendatang, seketika ditawari jasa ojek untuk mencari penginapan. Tidak punya pilihan lain, kami mengiyakan tawaran si abang ojek.

Penginapan Madya Siru adalah satu-satunya penginapan di pulau tersebut (itu tahun 2011 ya). Lokasinya nggak begitu jauh dari dermaga serta dekat saja dengan alun-alun Kaledupa. Bentuknya seperti rumah panggung, dari kayu, benar-benar sederhana, tarifnya Rp30.000 saja per kamar. Kamarnya pum ada beberapa pilihan, dilihat dari tempat tidurnya.

Saat itu listrik di Kaledupa hanya menyala dari sore hingga esok paginya. Nggak heran tukang ojek yang antar saya berkelakar. Dia bilang di sini banyak anak kecil, habis tidak ada hiburan lain selain seks. Oopst. Selain listrik yang belum memadai kebutuhan sepanjang hari, untuk airnya masih payau. Tipikal daerah pulau ya.

Setelah check-in (sok banget bahasanya), saya memulai perjalanan untuk mengitari Kaledupa. Saya request pantai, makanya diantarkan ke kawasan Sombano. Jalanan yang ditempuh benar-benar off-track banget. Masuk keluar hutan. Jarang menemukan keramaian. Jalanan juga cuma dari pasir dan kerikil. Di tengah jalan malah sempat papasan sama biawak yang mau menyeberang. Belum lagi binatang-binatang liar lainnya yang tidak terpantau mata. Ya seperti itulah perjalanan di Kaledupa.

Mendekati Sombano mulai terlihat kehidupan. Rumah-rumah warga dengan kumpulan bocah yang asyik bermain sore itu. Melewati jalan setapak yang ditumbuhi rumput dengan jajaran pulau kelapa, kami memarkirkan motor dan menjejakkan kaki di pasir Pantai Sombano.

Daerah Sombano.
Photo by Zara.
Pantai Sombano yang ternyata daerah endemik malaria kala itu.

Pantainya tidak yang istimewa banget sih. Memanjang tapi tidak lebar area pasirnya. Cukup putih dan cukup lembut pasirnya. Tak ada ombak yang bergejolak hebat. Tenang saja. Ada beberapa nelayan di ujung sana yang sedang menyebar jala. Duduk-duduk santai beralas batang pohon memang paling nikmat dilakoni saat itu.

Dari situ kami sempat ke tempat pemandian yang tak begitu jauh dari situ. Treknya makin parah, motor bebek kami semakin kepayahan untuk menjajalnya. Sampai di tujuan, ternyata begitu aja. Kotor, tidak terawat dan banyak nyamuk. Tambah sial, teman saya terinjak paku berkarat. Duh, ada-ada aja sih. Takut kenapa-kenapa kami segera kembali ke pusat pulau dan melipir ke puskesmas untuk cek kaki yang luka.

Sampai puskesmas, lukanya diobatin trus dibalut plester, trus ditanya-tanyalah habis dari mana kami. Begitu menyebut dari Sombano, langsung pekerja-pekerja di puskesma bilang itu daerah endemik malaria. Nggak dikasih tahu ya sebelumnya? Jedaaarrrr! Kami bertiga langsung lihat-lihatan. Memang benar-benar clueless  sama daerah ini. Setelahnya kami bertiga dikasih obat Kina untuk antisipasi. Obatnya mesti diminum setiap minggu selama sebulan ke depan. What a day.

Esok paginya kami melanjutkan petualangan menuju Pulau Hoga yang posisinya berseberangan dengan Kaledupa. Hoga lebih favorit ketimbang Kaledupa karena sekitaran pulau merupakan ladang subur bagi para diver. Di samping itu banyak peneliti asing yang kerap datang ke sini untuk melakukan penelitian. Pas ke sana juga lagi ramai banget sama pendatang asing, makanya agak kerepotan juga untuk menyewa kapal dan perlengkapan diving. 

Pantai di Pulau Hoga.
Photo by Zara.
Pemandangan di Pulau Hoga.

Pulau Hoga cantik juga di atas lautan. Walau mungil, tapi areal pantainya dramatis ketika disaksikan dengan mata kepala. Lahan pasir putihnya membentang luas dan makin luas karena air laut sedang surut. Gradasi air lautnya, aah… kece bangetlah! Di situ ada sebatang pohon tidur di atas pasir. Dan sesi pemotretan dengan duduk di atas batang dengan latar pemandangan Hoga yang fantastis pun dimulai. 😅😅😅

Selain pantai epik ini tidak ada lagi yang bisa dilakukan di Hoga. Palingan kalau mau mengitari pulau bisa saja sih. Cukup aman kok pulaunya dikitari dengan berjalan kaki. Ada penginapan juga di sini yang bisa disewa.

Wangi-wangi checked. Kaledupa checked. Hoga checked. Now we’re leaving to Tomia. 

Notes:

Penginapan di Kaledupa

Penginapan Madya Siru

Jl. Kaubangu, Ambeua

Tel: 0857 96926788

Penginapan di Hoga

Opwall (Operation Wallacea) Hoga

Tel: 0857 56807429

www.opwall.com

PJLP-

Advertisements

3 thoughts on “Wakatobi Tanpa Diving – Kaledupa & Hoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s