Wakatobi Tanpa Diving – Tomia

 

Tomia yang memesona.

Babak akhir perjalanan mengitari Kepulauan Wakatobi berujung di Pulau Tomia. Satu pulau yang menjadi favorit karena penilaian subjektif. Dua malam menginap di sini rasanya kurang.

Setelah menyapa Pulau Kaledupa dan Hoga sebelumnya, saya mesti kembali ke Wangi-wangi lagi karena satu dan lain hal. Menginap semalam baru kemudian meluncur bebas menuju Pulau Tomia menggunakan speedboat. Yeehaaww! Akhirnya bisa leha-leha serasa kapal milik sendiri, cepat pula. Saya sempat melihat flying fish yang menemani sepanjang jalan. Ah, senangnya ketemu laut yang tenang dengan langit biru tanpa batas membentang di atas.

Pulau Tomia sendiri lebih jauh lagi jaraknya dari Pulau Wangi-wangi. Dua jam lebih baru tiba di daratan. Apa kabar kalau pakai kapal reguler ya? Bisa-bisa 3 atau 4 jam perjalanan. Penampakan Pulau Tomia nampak lebih hijau dari pulau sebelumnya, Kaledupa. Lebih ramah dilihat. Dermaganya sih biasa aja. Banyak kapal-kapal nelayan memarkirkan. Dari dermaga saya sewa ojek untuk diantarkan ke penginapan sederhana yang cukup homey ditinggali. Sekalian juga ojek saya sewa untuk keliling-keliling pulau. Memang pulau-pulau di Wakatobi ini enaknya dieksplor menggunakan motor. Lebih seru dan beberapa trek lebih mudah jika dilewati kendaraan beroda dua. Biaya sewa ojek seharian cuma Rp75.000 saja (Juli 2011).

Perjalanan menuju Benteng Patua.
Kini rupa Benteng Patua hanya berupa reruntuhan saja.
Pohon-pohon tumbuh menutupi tanah berkarang sepanjang areal benteng.

Tomia memang juara dengan atraksi bawah laut selain Pulau Hoga. Tapi nggak selamanya destinasi ada di bawah sana. Yang nampak di permukaan juga sama menariknya kok! Dari tempat bersejarah, wisata alam hingga kearifan lokal. Petualangan hari pertama di Tomia saya lakoni dengan mengunjungi salah satu peninggalan Kesultanan Buton. 

Benteng Patua menjadi simbol kekuatan Buton, dilihat dari posisinya yang tegak berdiri di atas tumpukan karang di satu sudut Pulau Tomia. Sesungguhnya bentuk asli benteng ini sudah tak terlihat lagi. Yang tersisa adalah sisa-sisa fondasi masjid, areal pertemuan dan beberapa makam dari imam dan pelayan kesultanan. Dulunya di dalam areal benteng juga dibangun beberapa rumah panggung sebagai tempat tinggal para petinggi kesultanan. Dari pintu masuk di pinggir jalan raya kita mesti trekking sekitar 10 menit untuk mencapai kawasan reruntuhan. Treknya cukup kasar dengan jalur berupa bebatuan dan rerumputan. Saran saya kenakan alas kaki yang memadai dengan kontur tanah.

Mas Indra yang menjadi pengantar sekaligus pemandu saya menjelaskan banyak hal mengenai Benteng Patua ini. Diketahui Patua memiliki dua level pertahanan. Tiap level dikawal oleh penjaga yang bertugas mengawasi siapa saja yang masuk dan keluar benteng. Kononnya, ketika seseorang ingin memasuki areal benteng tetapi tidak memiliki surat identitas yang lengkap, katanya mereka akan ditangkap, lalu dibunuh oleh penjaga benteng. Mayatnya hanya digeletakkan begitu saja di dalam gua.

Sebelum memasuki kawasan pertahanan dari Kesultanan Buton ini, kalian akan menemukan pintu penjagaan yang terdiri dari dua pintu. Di masing-masing pintu terdapat papan yang bertuliskan nama seseorang. Menurut cerita nama yang terpampang adalah nama penjaga yang bertugas masa itu. Lafa Liku Umbua dan Laga Ngkiao adalah dua pria pengawal gerbang pertahanan Buton di tanah Tomia.

Makam salah satu petinggi kesultanan.
Posisi meriam menghadap lautan Tomia.
Photo by Zara.

Salah satu keunikan Benteng Patua adalah posisinya yang strategis dan menjulang tinggi menghadap lautan Tomia. Jadi pada masa itu penghuni benteng dapat melihat siapa saja yang akan memasuki kawasan Tomia dari kejauhan. Lengkap dengan meriam yang terbujur kaku di titik strategis dari benteng ini, seakan siap menghantam pasukan musuh yang datang menghadang.

Setelah napak tilas sejenak mengintip bekas kekuasaan monarki miliki Kesultanan Buton, saya melanjutkan perjalanan mengitari sisi lain Pulau Tomia. Tepat rasanya memilih sewa ojek untuk keliling-keliling karena ternyata lebih seru. Saya diajak mampir ke Dusun Kahiangan dengan Puncak Kahiangan-nya. Bukan sembarang puncak, Kahiangan ini sebuah padang rumput berbukit yang luas. Hanya ada rumput dengan gradasi warna hijau yang meriah sepanjang mata memandang. Cantik banget!

Tanah lapang itu tidak hanya ditumbuhi rumput yang segar, tapi juga dilapisi batu-batu karang. Ada yang bentuknya semacam kerang mutiara yang berukuran besar. Katanya sih daerah ini pernah ditutupi air laut, makanya kontur tanahnya sebagian besar ditutupi karang-karang segala jenis dan bentuk.

Exploring Puncak Kahiangan.
Greatest views from here.
Photo by Zara.

Satu spot yang paling saya suka adalah sebuah pohon kering yang hanya menyisakan batang dan cabang-cabang tanpa sehelai daun. Rupanya sedikit mengingatkan poster film Big Fish milik Ewan McGregor. Spot lain yang menyejukkan mata adalah pemandangan padang berumput yang di ujung sana akan berakhir dengan lautan biru dengan warna-warni biru, lengkap dengan jajaran Pulau Lentea, Pulau Binongko serta Pula Tolandono.

Speechless lihat semua itu bersamaan. Saya cuma duduk membisu tanpa habis pikir pulau yang listriknya hanya menyala setengah hari saja ini bisa tak terkira cantiknya. Saat itu tidak ada siapa-siapa selain kami. Tentu saja makin terasa nikmatnya. Dari Kahiangan kami coba turun, mengarah ke lautan biru-turqoise yang tadi dilihat. Kami melipir dekat tempat pelelangan ikan yang sudah nihil penghuni. Duduk santai dengan kaki menggantung di tepian. Angin sepoi-sepoi tanpa kebisingan lalu lintas luar biasa sedap sebagai sajian menjelang sore itu.

Sunrise dari dermaga Tomia.
Pasar di Tomia tidak buka setiap hari.
Pengrajin tenun ikat didominasi kaum wanita.

Tomia juga cantik di pagi hari. Satu hari saya bangun lebih pagi karena ingin melihat sunrise. Mereka bilang matahari terbit di dermaga selalu jadi incaran para pendatang. Makanya saya niat tuh pagi-pagi sendirian ke dermaga. Jam 6 pagi sudah agak terang di pulau, jalanan memang agak sepi, tapi sangat aman kok keliling sendirian sekitaran pusat pulau. Dari penginapan ke dermaga cuma jalan kaki lima menit saja. Sunrise bisa dilihat dari dermaga, memang tidak ada tempat duduk yang pantas. Tapi sambil berdiri juga sudah terlihat keelokannya.

Kelar melihat pentas matahari terbit, suasana pulau mulai ramai di satu bagian. Ada pasar bahan makanan sepanjang jalan utama. Di sini pasarnya dibuka pada hari-hari tertentu saja. Model dan tatanan bahan makanan yang dijual mengingatkan situasi pasar di daerah-daerah Indonesia timur. Tipikalnya hampir sama, cara mereka menata barang dagangan yang dijual bukan per kilogram, tapi sudah ditumpuk sekian buah atau biji.

Di Tomia juga saya menemukan tenun ikat khas Wakatobi. Para pengrajinnya merupakan kelompik ibu-ibu yang sudah berusia lumayan juga. Setiap hari mereka menenun dengan alat tenun tanpa mesin di salah satu rumah sederhana yang letaknya tak jauh dari pusat pulau. Ibu Amnaeni, salah satu pengrajin mengaku, ia bisa menenun 2-4 minggu untuk menghasilkan satu kain. Kebanyakan tenun dibuat dalam rupa sarung dengan motif garis-garis. Warna-warnanya terang yang dipadu benang metalik. Untuk harga sarungnya dinilai Rp200.000-Rp400.000. Untuk selendang dihargai Ro100.000-Rp150.000. Tapi harga-harga ini berlaku waktu tahun 2011 lho.

Nggak berasa juga sudah diajak keliling-keliling Wakatobi walaupun nggak sempat mampir ke Binongko. Mungkin lain kali ya. Semoga bermanfaat ya tulisan saya. Next time ada cerita seru dari kota dan negara lainnya. Adios, happy weekend!

Notes:

Penginapan Abdi Jaya

Waha – Tomia

Rp100.ooo-Rp175.000 (tahun 2011)

Sewa motor/ ojek

Indra 0857 56557943

-PJLP-

Advertisements

2 thoughts on “Wakatobi Tanpa Diving – Tomia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s