Semasa di Kota Tua

Nostalgia bersama Semasa di Kota Tua.

Nostalgia Kota Tua Jakarta kini makin enak dilakoni. Walau masih diliputi lalu lintas sekitar yang tetap tak beraturan juga polusi udara dari knalpot yang terkadang bikin sesak napas, tapi wujud masa lalu dengan sentuhan modern bangunan-bangunannya kini menjadi incaran para pembidik kamera.

Akhirnya kawasan Kota Tua dan sekitarnya mulai ramah untuk didatangi. Menipisnya aura mistis serta pemandangan awut-awutan yang mulai berkurang tentunya diikuti dengan jumlah pengunjung yang ramai-ramai mendatangi salah satu objek wisata unggulan milik ibukota ini. Sentralisasi kunjungan tentu saja berpusar di Fatahillah Square atau lebih tepatnya di depan Museum Sejarah Jakarta yang kerap disebut Museum Fatahillah. Tapi tahukah kalau ada satu bangunan yang juga menyimpan sejarah panjang tak jauh dari situ?

Namanya Gedung Olveh atau kepanjangan dari Onderlinge Verzekeringsmaatschappij Eigen Hulp. Lokasinya persis berseberangan dengan Stasiun Jakarta Kota. Bangunan bergaya artdeco ini merupakan bekas kantor perusahaan asuransi zaman Hindia Belanda yang dibangun tahun 1921 kemudian diresmikan pada 1922. Pada saat itu memang banyak berdiri perusahaan asuransi di Batavia untuk menjamin kelangsungan usaha dan perekonomian warga Belanda yang menetap.

Singkat cerita Gedung Olveh yang bersejarah ini mendapat sentuhan revitalisasi. Cerita seputar revitalisasi bangunan ini bisa dibaca di sini. Nah, setelah mendapat perbaikan sana-sini, makin terlihat eksistensinya. Kini tak hanya sebagai bangunan yang sudah berwajah cantik, di sini juga bisa duduk-duduk santai sambil menyeruput minuman dan nostalgia di bangunan berusia hampir seabad itu.

Nomor Gedung Olveh.
Semasa berada di lantai 3.

Namanya Semasa di Kota Tua. Kafe mungil di dalam bangunan Olveh yang berada di lantai 3. Bangunannya terlihat lebih rendah dari trotoar. Begitu masuk langsung belok kanan dan naiki tangga. Suasana sepi, hening membuat saya jadi ragu untuk melanjutkan perjalanan. Habis tidak terlihat seperti memasuki sebuah kafe. Di lantai dua ada toilet, tersedia untuk pria dan wanita. Ada pintu yang terletak di antara tangga ke bawah dan ke atas, entah ada apa di dalam sana. Di atasnya terpajang lukisan abstrak dalam ukuran cukup besar. Dinding berbatu bata menjadi interior kasar yang dimiliki gedung ini. Beberapa bagian dicat putih.

Saya kembali menaiki tangga berlantai marmer yang membawa ke lantai tiga yang lebih luas penampakannya. Lajukan kaki ke arah kiri dan akan disambut pintu kayu berwarna putih dengan meja penyambut setelahnya. Di atasnya bertahtakan aneka pernak-pernik yang dijual. Saya tak sempat untuk melihat lebih lama karena otak saya sedang mencerna seisi ruangan yang memang tidak terlalu besar. Sebelah kiri ada meja yang juga diisi aneka barang-barang perintilan. Di meja itulah kita bisa memesan minuman. Yak, inilah kafe Semasa di Kota. Berada di antara garis masa lalu dan modernisasi.

Front desk untuk memesan beverages.
Tidak terlalu banyak perabot yang menghiasi Semasa.
Ice Matcha Tea with Cheese Cake.

Saya langsung jatuh hati dengan Semasa di Kota. Homey, cozy, tak begitu besar dan tentu saja membangkitkan nosltalgia yang tak dimiliki kafe-kafe di Jakarta pada umumnya. Simple aja sih penataan ruangannya. Hanya tersedia dua meja kecil dengan dua atau tiga kursi tanpa sandaran, letaknya persis di samping jendela. Dari sini kita bisa memandang keramaian dari Museum Mandiri, Halte Trans Jakarta hingga Stasiun Jakarta Kota.

Lalu di ujung sana terdapat meja komunal dari kayu dengan beberapa kursi, cocok bagi mereka yang datang dalam jumlah besar. Palingan bisa menampung hingga enam orang. Di meja tersedia beberapa buku menarik yang bisa dipinjam selama di sana. Untuk WiFi, kemarin nggak cek ada koneksi internet atau nggak. Tapi jaringan Indosat di sana lancar jaya kok. Ruangan juga sudah ber-AC. Pembayaran bisa menggunakan Debit BCA. 

Untuk sajian minuman ada kopi juga teh. Tadinya mau memesan kopi, tapi kok siang-sore yang panas dan riweh itu saya butuh teh ya untuk cooling down, jadilah pesan Ice Matcha Tea (Rp35.000) dengan Cheese Cake (Rp20.000). Menu matcha memang jadi yang favorit di sini. Sebagai bukan penikmati matcha, saya cukup menikmati minuman ini. Pas aja rasanya. Sedangkan untuk Cheese Cake-nya biasa aja sih. Bolunya sedikit agak kering. Justru kue kering yang disajikan bersama Ice Matcha Tea yang justru enak.

Untuk menu lain seperti kopi juga tersedia kok di sini! Nah yang bikin menarik itu ya jualan pernak-pernik yang tergeletak di meja pamer. Lucu-lucu deh. Seperti cup tea dan pocinya. Ada juga lilin aromaterapi juga pin-pin menarik. Untuk harganya saya nggak terlalu cek. Oh ya, sekalian di sana, coba lirik-lirik bagian lain dari Gedung Olveh. Kalau ke balkon di belakang bisa melihat satu bangunan khas berdesain ala Chinese. Cantik kalau dipotret.

Beberapa pernak-pernik yang dijajakan.
Berbagai pilihan yang dijual, dari biji kopi hingga lilin aromaterapi.
Pemandangan di balkon belakang.

Semasa di Kota Tua

Gedung Olveh

Jl. Jembatan Batu No. 50, Pinangsia, Kota Tua

Jakarta – Indonesia

Instagram: @semasadikotatua

Jam buka: 11:00-17:30

 

 

-PJLP-

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Semasa di Kota Tua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s