Jalan Kaki ke War Remnants Museum

Salah satu museum yang wajib dikunjungi di Ho Chi Minh City (HCMC).

Walaupun titelnya bukan sebagai ibukota Vietnam, Ho Chi Minh City (HCMC) kerap menjadi sasaran wisata utama para pelancong. Dengan situasi ala perkotaan pada umumnya yang riweh dengan kendaraan bermotor khususnya roda dua, namun citra Saigon yang lawas dan eksotis membuat kaki ingin berpijak di sana.

HCMC menjadi titik mula perjalanan saya mengitari Vietnam selama seminggu. Teman saya bilang lebih baik memulai langkah dari selatan Vietnam lantas naik ke utara. Katanya ritme dan dinamika perjalanan lebih menyenangkan bila dilakoni dari HCMC hingga berujung di Hanoi. Saya pun mengikuti saran teman and I  must agree with him. 

Tiba di mantan ibukota Saigon sudah lewat tengah hari. Setelah check-in hostel, sejenak berbaring, beres-beres lalu siap beraksi. Let’s hit the road! Tujuan utama adalah War Remnants Museum. Sesungguhnya banyak yang bisa dilihat-lihat di kota ini. Kebanyakan sih bertema sejarah. Sebut saja Chu Chi Tunnel yang begitu tersohor di masa Perang Vietnam dengan Amerika. Lalu ada Reunification Palace yang menjadi tonggak sejarah penyatuan Vietnam utara dan selatan. Central Post Office, Notre Dame Cathedral dan lain-lain.

Saya memilih ke War Remnants Museum terlebih dulu karena hari sudah mau sore. Nggak punya waktu lagi untuk ke Chu Chi Tunnel yang jarak tempuhnya mencapai 90 menit bahkan lebih kalau macet. Waktu terbaik ke Chu Chi Tunnel adalah saat pagi hari. Di samping itu lebih karena alasan museum ini disebut sebagai tempat yang wajib didatangi jika ke HCMC dengan catatan sejarah kelam Vietnam yang menjadi horor pada masa itu.

Dari lokasi inap saya (Yen Hostel) yang berada di Pham Ngu Lao – Distric 1 (ini adalah lokasi menginap paling populer di kalangan backpakcers) saya memilih jalan kaki. Kalau lagi traveling, terutama keluar negeri saya lebih suka jalan kaki. Selain gratis, bisa sekalian sight-seeing plus biar lebih gampang mengenal area sekitar tempat menginap dan objek wisatanya.

Karena ke mana-mana modal peta, jadi lebih baik jalan kaki, biar lebih hapal jalan. Serunya jalan kaki jadi bisa ketemu hidden spot yang nggak masuk di list. Biasanya ketemu tempat makan yang seru. Nah sekalian hunting kuliner kan. Sambil makan bisa sekalian istirahat kalau capai jalan kaki. Tapi percayalah, kalau udah eksplor nggak bakalan terasa sih capainya. Serius!

Reunification Palace.
Alih profesi di Saigon. Photo  by Eka Eldina.
Situasi lalu lintas di HCMC ternyata lebih riweh dibanding Jakarta.

Lihat di Google Maps jarak dari Yen Hostel ke War Remnants Museum sekitar 2 km. Lumayan memang jaraknya tapi cuma butuh jalan kaki 30 menit, nggak terasa sih. Makin menyenangkan karena Kota Ho Chi Minh cukup nyaman dan rindang untuk dikitari dengan berjalan kaki. Kota ini memiliki jalur pedestrian yang manusiawi bagi pejalan kaki. Sepanjang jalan kami sempat melewati beberapa taman kota yang apik banget.

Ruang publik ini kerap dikunjungi penduduk lokal untuk latihan tai chi di pagi dan sore hari ada juga yang malam-malam. Di lain sisi ada yang latihan alat musik di sini, saya sempat duduk sejenak untuk menikmati suasana adem-ayem sambil diiringi alunan merdu biola. Sebagian juga datang untuk olahraga. Taman-taman di sini dilengkapi alat-alat fitnes. Asyik ya! Beberapa ya cuma duduk-duduk santai sambil bercoleteh.

Tapi yang paling juara adalah lalu lintasnya. Sering merasa motor-motor di Jakarta jalannya awut-awutan? Sini main-main ke HCMC. Lebih menggila deh motor-motor di sini. Dari segi jumlah, duh banyak banget. Persis seperti Jakarta. Tapi dari segi manner, Ya Tuhan, saya menyerah. Sebagian besar pengendara senang banget pencet klakson, anywhere, anytime. Kayaknya nggak seru kalau nggak pencet klakson. Pengedara sana juga tipikal kurang patuh sama lampu merah. Jalan ya seenak jidat aja. Mau nyebrang di Ho Chi Minh tuh antara hidup dan mati. Saya yang biasa sok jagoan kalau nyebrang jadi kicep di sini.

Perjalanan ke museum saya juga melintasi Reunification Palace yang sempat bikin dilema. Antara mau masuk tapi waktunya serba mepet. Akhirnya cuma mengintip dari luar pagar. Selepas itu di tengah jalan berpapasan dengan tukang es kelapa muda. Karena mulai haus, saya dan Eka beli tuh. Sebuah harganya Rp20.000 (November 2014). Trus ujug-ujug di abang bolehin kami gendong bakul jualannya yang lumayan berat itu. Katanya buat foto. Ya sudah dong kami berpose sambil bawa pikulan. Eh tahu-tahunya si abang ada maksud minta bayaran lebih karena numpang bawa pikulannya. Tapi abangnya salah pilih target. Nggak mempan bang mau tipu-tipu sama saya. Akhirnya dia ngalah dan pergi dengan VND 10.000 sesuai kesepakatan awal.

Bagian depan museum dihuni berbagai kendaraan militer.
Ruang pamer senjata.
Salah satu koleksi di War Remnants Museum.

Setelah balada es kelapa muda nggak lama sampai juga di museum yang terletak di pinggir jalan raya. Ramai banget sore itu. Di bagian luar terlihat halamannya cukup luas tapi sebagian besar area di isi dengan kendaraan militer seperti tank dan helikopter. Saya memilih masuk dulu baru melihat jajaran kendaran militer ini. Sekilas mengenai museum, War Remnants Museum dioperasikan oleh pemerintah Vietnam. Dibuka pertama kali pada 4 September 1975 yang awalnya sebagai Exhibition House for US and Puppet Crimes.

Bangunan museum terdiri dari beberapa tingkat dengan ruang pamer yang sudah diberi tema sesuai dengan periode. Untuk perlengkapan militer bisa dilihat di area depan yang memamerkan beberapa kendaraan taktis seperti helikopter UH-1 “Huey”, M48 Patton Tank dan A-1 Skyraider. Bagi orang awam ya kita cukup menyebutnya heli dan tank. Di bagian dalam terdapat satu ruangan yang memamerkan aneka senjata dengan segala jenis dan seri. Semua nampak sama sih, ya karena saya nggak paham banget sama model-model senjata.

Di bagian lain menawarkan foto-foto, selebaran dan propaganda mengenai Perang Vietnam yang mendapat simpati dari bangsa-bangsa di dunia. Tapi ada satu bagian yang paling menyita perhatian. Di sinilah kita mengenal dan mengetahui lebih lanjut mengenai peristiwa kelam yang menimpa bangsa Vietnam pada masa Perang Vietnam.

Melalui foto-foto diperlihatkan efek buruk akibat Agent Orange yang digunakan Amerika sewaktu menggempur Vietnam kala itu. Agent Orange adalah julukan untuk herbisida dan defolian  yang digunakan militer Amerika Serikat selama Perang Vietnam. Penggunaan bahan-bahan bermuatan kimiawi ini untuk menghancurkan produksi pangan dan pepohonan yang menjadi tempat bersembunyi musuh. Namun faktanya Agent Orange menyebabkan petaka dan meruntuhkan mental dan fisik generasi warga Vietnam masa itu dan sesudahnya.

Masker yang digunakan tentara US selama penyebaran Agent Orange.
Gambaran masyarakat Vietnam yang terkena paparan Agent Orange.
Barang-barang sisa perang bisa ditemukan di museum ini.

Terpapar Agent Orange dan bahan kimia lainnya ternyata tidak hanya merusak ekosistem tapi juga merambah ke manusia. Siapa pun yang terpapar Agent Orange dan sejenis biasanya akan mengalami cacat genetis hingga kanker. Banyak yang meninggal karenanya. Di satu ruangan bisa terlihat jelas mereka-mereka yang menjadi korban dari Agent Orange. Saya sampai tak bisa berkata-kata melihat bentuk cacat yang sungguh tak lazim diderita oleh siapa saja, tua-muda, laki-laki atau pun perempuan.

Kisah sendu orang-orang Vietnam ini berhasil didokumentasikan fotografer Perang Vietnam Bunyo Ishikawa, di mana ia menyumbangkan hasil dokumentasinya itu pada tahun 1998. Foto-foto yang dipajang memang nampak tidak cantik dilihat tapi ini menjadi bukti nyata begitu parah efek Agent Orange bagi masyarakat Vietnam saat itu. Menyaksikan gambaran kelam Vietnam di masa lalu begitu memilukan hati. Memang reaksi saya tidak sesendu waktu mengunjungi Killing Fields of Choeung Ek dan Tuol Sleng Genocide Museum di Phnom Penh, Kamboja, tapi tetap saja ini meredupkan hati.

Saya sedikit kecewa karena tidak bisa lebih lama meluangkan waktu untuk melihat koleksi museum lainnya, ya karena sudah mau tutup. Walau sudah disuruh keluar oleh petugas, saya dan banyak pengunjung lainnya masih bebal untuk terus mengeksplorasi area-area selama kami bisa. Sampai akhirnya pintu-pintu ruangan pamer mulai dikunci, kami terpaksa menyerah. Belum sepenuhnya menyerah, saya masih melihat-lihat kendaraan militer yang dipamerkan di halaman museum. Saking seriusnya melihat rupa dan detail tank, sampai lupa untuk selfie di depannya. Ya elah, penting banget yak..hahaha.

Seusai keliling-keliling di museum kami jalan kaki ke arah Ben Thanh Market buat nyobain Pho 2000 yang terkenal karena pernah didatangi mantan presiden US, Bill Clinton. Rasanya, tentu saja enak. Well, thank you udah baca cerita di War Remnants Museum, sampai bertemu di perjalanan berikutnya.

War Remnants Museum 

26 Vo Van Tan, 6 Quan 3

Ho Chi Minh City – Vietnam

Tel: +84 8 3930 6325

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s