From Cycling, Burmese Massage to Wine Tasting

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Nyaungshwe dan pesona sunset-nya.

Saya mau cerita mengenai Myanmar, lagi. Spesifiknya Inle Lake atau Danau Inle. Inle Lake merupakan salah satu wilayah di Myanmar yang berada dalam naungan Nyaungshwe. Inle Lake bisa banget ditempuh menggunakan bus dari beberapa kota besar di Myanmar, seperti dari Yangon dan Bagan. Waktu itu saya bertolak dari Bagan menggunakan bus malam dan tiba subuh di Nyaungshwe. Kira-kira butuh tujuh jam perjalanan.

Inle Lake tidak seperti kota-kota destinasi lainnya yang menjagokan wisata pagodanya, tapi lebih menawarkan panorama alam pedesaannya, tentu saja dengan Danau Inle yang spektakuler di pagi dan sore hari. Favorit para turis adalah melakukan boat tour di pagi hari sembari menikmati sunrise cantik. Salah satu pengalaman yang menceriakan mata. Beberapa memilih untuk menelusuri danau saat petang untuk melihat si bundar jingga menutup hari. Itu juga sama cantiknya.

Aktivitas boat tour tidak saja melibatkan matahari dengan semburat jingganya, tapi juga bisa mengajak pendatang untuk melihat lebih dekat kehidupan masyarakat di sekitar danau. Menyaksikan sendiri nelayan-nelayan one leg paddling (ini paling terkenal se-Nyaungshwe), melihat floating garden (kebun pangan terapung), mengunjungi kampung-kampung adat Suku Kayan, itu lho yang para wanitanya memakai kalung emas yang banyak di lehernya. Termasuk juga melihat usaha kerajinan tembikar, tenun lotus, seni pahat, kerajinan perak, cheroot (cerutu lokal), termasuk singgah ke pagoda di tengah danau. Nampak seru ya, tapi detail kisahnya akan saya posting di lain waktu.

Selain boat tour, Nyaungshwe juga punya aktivitas menarik seperti bersepeda keliling kota hingga wine tasting di kebun anggur sembari menikmati sunset. Yes Nyaungshwe benar-benar mengejutkan saya. Awalnya saya meremehkan daerah ini. Kayaknya biasa aja deh. Malah sempat ragu mau disinggahi atau tidak. Tapi kemudian mesti menarik omongan sendiri karena daerah ini bikin betah dan memiliki daya magnet yang tak biasa.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jangan sampai terlewatkan menyusuri Danau Inle dan melihat nelayan mengayuh sampan dengan kaki.
20160506_075044
Pemandangan di tengah Kota Nyaungshwe yang ramai dengan long boat seliweran.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Nyaungshwe cantik dengan pemandangan sawah dan kebun.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jalanan yang sepi bikin asyik buat mengayuh sepeda.

Setelah menghabiskan seharian keliling Danau Inle, di hari kedua yang merupakan hari terakhir di Inlay (julukan Inle Lake) saya memilih untuk menyewa sepeda dan mengitari kawasan sekitaran kota. Di sini nggak ada ebike seperti Bagan. Nggak bisa juga sewa motor. Mobil, bisa aja sih, tapi lebih mahal dan kurang dapat aja sensasinya kalau duduk nyaman di mobil. Bisa juga sewa tuk-tuk, sama serunya seperti naik sepeda, tapi butuh bujet ekstra untuk sewa seharian. Jadi pilihan yang aman dan nyaman adalah naik sepeda. Cukup bayar sekitar $2 (Mei 2016) sudah bisa sewa seharian. Bisa nego juga kok kalau nggak dipakai sehari penuh.

Dari tempat saya menginap, persis depan sungai yang ada jembatannya itu, saya mengayuh sepeda ke arah pematang sawah. Sebelumnya ambil map dulu dari hotel. Oh ya, jangan sampai salah ya, untuk berkendara di seluruh penjuru Myanmar posisi kendaraan di sebelah kanan. Akan sedikit disorientasi arah bagi yang nggak terbiasa, tapi lama-lama pasti bisa juga kok.

Siang itu niatannya mau ke hot spring. Lumayan bisa main-main air panas dulu. Rute yang dilewati jalanan datar saja dengan dua jalur yang tidak ramai kendaraan. Paling-paling hanya sedikit truk, tuk-tuk, traktor-traktor untuk perkebunan. Sisanya mobil, motor dan sepeda. Tapi benar-benar lengang banget. Makin nyaman lagi karena di sisi kiri dan kanan jalan ditumbuhi pepohonan rindang. Adem banget buat sepedaan di Nyaungshwe yang beda-beda tipis temperaturnya dengan sesama kota lain di Myanmar, yaitu berada di kisaran 40°-an C. Jadi jangan lupa beli air minum supaya nggak dehidrasi di jalan.

Pemandangan yang ditawarkan adalah pematang sawah yang asri dan tanpa batas. Sama banget seperti di Indonesia. Jadi serasa lagi main ke kampung aja. Ada beberapa jalan setapak yang bisa dilewati supaya lebih mendekat dengan sawah. Setelah mengayuh beberapa kilo, kok nggak sampai-sampai ya. Hahaha. Lalu di depan sana ada belokan dan tanjakan. Makin malas kan buat melanjutkan perjalanan. Alhasil balik jalan dan memutuskan untuk mencari tempat Burmese Massage. Memang perkara pijat-memijat ini tak bisa ditolak. Sudah jadi kebiasaan kalau jalan-jalan pasti pengen pijat. Bukan karena jompo, tapi memang sudah jadi ritual untuk mencoba aneka pijat tradisional khas suatu daerah.

Setelah mencicipi Thai massage, Vietnamese massage juga Khmer massage, saatnya merasakan pijat khas Myanmar. Sebelumnya sudah tanya hotel di mana tempatnya. Katanya Win Massage. Untung ada Google Maps, jadi bisa ketemu tempatnya tanpa nyasar yang berlebihan. Untung lagi karena naik sepeda, karena jaraknya lumayan juga dari hotel.

Win Massage tuh rupanya rumahan gitu. Sempat ragu juga tapi jadi yakin karena saat itu mesti antri sejam untuk dipijat. Pelanggannya tentu saja wisatawan. Saya diberitahu tarifnya 7.000 Kyats (Mei 2016) untuk 60 menit. Mau ditawar tapi harganya tidak dapat digoyah lagi. Ya sudah, pasrah saja. Daripada duduk sejam dan tidak produktif, saya memilih untuk makan siang dulu. Tanya si pemilik panti pijat, dia menyarankan restoran sederhana yang biasa didatangi orang lokal. Memang ada banyak kafe dan restauran dekat situ. Tapi terlalu “aman” untuk pejalan seperti saya. Inginnya mencoba yang khas, yang autentik dari Nyaungshwe.

DSCN9201
Sepedaan keliling Nyaungshwe  menyenangkan juga lho. Photo by Eka Eldina.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Suasana sekitaran kota. Sederhana tanpa modernisasi berlebihan.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Makan siang ala Nyaungshwe.
img1462530813450
Burmese massage, check! Photo by Eka Eldina.

Jaraknya cuma 500 meter dari Win Massage. Sempat terlewati karena tidak ada penampakan signifikan dari luar. Saya lupa nama restorannya. Bentuknya semacam garasi rada bagusan sedikit yang diberi meja dan kursi. Di dalamnya dihuni 100% penduduk setempat. Begitu saya dan teman masuk, sontak mata-mata tertuju. Mungkin nggak biasa kali lihat turis makan di situ. Menu makannya berupa nasi dengan lauk-pauk. Ada model paketan gitu. Yang saya makan nasi dengan ikan asin. Suprisingly, enak juga. Harganya juga cukup bersahabat. Ya semacam makan di warteg aja sih.

Setelah kenyang kembali ke Win Massage untuk dpijat. Dari pintu masuk, saya dibimbing memasuki satu area yang sederhana banget. Berdinding anyaman bambu semacam saung-saung khas Sunda. Semi terbuka dengan dua dipan sederhana dan meja kayu kecil. Lantainya semen. Kelihatan kurang meyakinkan. Tapi saya intip jendela sebelah ada tiga bule sedang asyik dipijat. Fully-booked sepertinya.

Saya kemudian disuruh melepas celana, ganti dengan memakai sarung, lalu tidur tengkurap. Basically Burmese Massage lumayan juga. Beberapa teknik hampir mirip dengan sepupunya, tapi ada juga yang berbeda. Tapi pijatnya pakai minyak, tidak seperti Thai massage dan Khmer massage pada umumnya. Walau pada akhirnya mesti sepakat bahwa Khmer massage di Siem Reap, Kamboja adalah yang terbaik dan termurah. Masa $2 sejam udah enak banget pijatannya. Seusai dipijat dihidangkan teh Myanmar yang enak itu. Asli, teh dan teh susu Myanmar tuh enak-enak. Trus disediakan juga cookies yang rasanya juga enak.

Sepedaan sudah. Kulineran sudah. Burmese massage sudah. Selanjutnya wine tasting. Dari awal saya sudah wanti-wanti untuk wine tasting di Inlay. Penasaran bok ke vineyard dan winery. Masa mesti tunggu ke Eropa dulu. Kalau ada yang dekat, kenapa nggak. Namanya Red Mountain Estate Vineyards & Winery. Lokasinya sekitar 15 menit dari hotel, itu kalau naik kendaraan pribadi.

Karena nggak sanggup genjot sepeda ke Red Mountain (ada nanjak-nanjaknya juga), akhirnya memutuskan buat sewa tuk-tuk sekalian minta ditunggu buat antar pulang. Biaya sewanya sekitar 11.000 Kyats. Sewanya dari tempat meminjam sepeda. Awalnya mau naik taksi, tapi terlalu mahal. Ya sebenarnya nggak semahal itu, tapi kalau kalian melakukan long trip dan masih menyisakan banyak hari di jalan, mesti berpikir seekonomis mungkin, supaya nggak susah di akhir perjalanan. Karena kami masih menyisakan perjalanan ke Mandalay dan sekitarnya, makanya mesti irit-irit pengeluaran.

20160506_152931
Teh Myanmar memang juara deh! Ini kudapan yang dikasih selepas Burmese massage.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Tuk-tuk model Nyaungshwe kayak gini nih penampakannya.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Wine tasting di Red Mountain Estate cuma $3-an aja saudara-saudara.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Look at the sunset! Too beautiful.

Perjalanan ke Red Mountain Estate cukup menyenangkan, walaupun duduk di tuk-tuk terkena efek bumping sesekali. Tuk-tuk model Nyaungshwe berupa motor yang memiliki cart di belakangnya. Perjalanannya melewati pemukiman dan lahan kebun. Sore di Nyaungshwe hawanya cukup sejuk, mendekati Red Mountain Estate makin terasa menyenangkan. Belok kiri ke lokasi yang dituju, kemudian jalanan pun mulai menanjak. Bule-bule memang jagoan, mereka prefer sepedaan ke situ. Tapi nggak perlu nanjak, karena sepeda mesti diparkir di bawah. Sisa perjalanan mesti ditempuh dengan jalan kaki. Untungnya saya naik tuk-tuk, jadi bisa turun langsung depan pintu masuk.

Sore hari adalah waktu tersibuk bagi Red Mountain Estate. Hal ini karena banyak yang mentabiskan Red Mountain Estate sebagai tempat terbaik di Nyaungshwe untuk menyaksikan sunset, tentu saja sembari menyesap wine. Tempatnya terbagi menjadi dua, indoor dan outdoor. Tentu saja bagian luar lebih menarik minat. Memilih ke area outdoor, saya sempat terdiam sejenak karena saking terpesonanya dengan pemandangan sekitar. Jadi ada beberapa kursi dan meja kayu yang penataannya sedikit tidak rapi, tapi hal itu tidak menjadi masalah. Dari lokasi duduk kita bisa berhadapan langsung dengan pemandangan perkebunan anggur di bawah sana, terpampang luas tanpa batas dan di batas cakrawala ada si bulat jingga sedang berpose dengan sempurna. Wow! Am I in Myanmar or Italy?

Tapi saya harus menghentikan sesaaat euphoria yang mulai bergejolak karena mesti mencari kursi. Sore itu semua bangku terisi. Eh, ada satu di pojokan, tapi sudah diduduki seorang pria. Semoga dia cuma sendiri, jadi bisa sharing meja dengannya. Setelah permisi dan nanya, thank god dia sendiri, jadi kami bisa join. Tujuan utama ke sini adalah wine tasting. Red Mountain Estate bisa berdiri hasil penanaman 400.000 anggur yang diimpor langsung dari Prancis dan Spanyol. Ada beberapa wine terbaik yang disajikan di sini, antara lain Shiraz, Pinot Noir, Sauvignon, Chardonnay, dan lainnya. Untuk wine tasting ditawarkan empat wine dengan range harga sekitar $3 saja. Kalau tidak minum alkohol, bisa kok pesan beverages lain. Di sini juga ada menu makanan.

Sisa sore itu berjalan begitu menyenangkan. Saya dan teman menyeruput senja sambil berbincang dengan pria yang semeja dengan kami. Dia dari Canada tapi sekolah di Singapore. Pembicaraan kami bukan soal destinasi, traveling dan sejenisnya. Malah membahas politik di Indonesia hingga rezim Soeharto yang kontroversial. Iya, dia cukup tahu mengenai Soeharto dan sempat ragu untuk membuka topik tersebut, takutnya kami masih tabu untuk membahas mantan orang nomor satu itu.

Nggak pernah saya duga sebelumnya, di negara antah berantah seperti Myanmar bisa ada vineyards dan winery dengan pemandangannya ala Tuscany. Lalu hadir matahari terbenam yang saya nobatkan sebagai salah satu yang terbaik sepanjang Myanmar trip. Plus pembicaraan mengenai rezim Soeharto. What a surreal situation. hahaha. Dan itulah yang menjadi akhir petualangan saya di Nyaungshwe. Negeri cantik yang menjadi penyegar di kala mulai “lelah” dengan wisata pagoda di kota-kota Myanmar.

See you when I see you, Nyaungshwe!

 

Notes:

Informasi bus di Myanmar

http://myanmarbusticket.com/

Hotel di Inle Lake:

http://www.inlestarhotel.com/

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s