House of Sampoerna

House of Sampoerna yang bergaya kolonial.
House of Sampoerna yang bergaya kolonial.

 

Nggak perlu jadi perokok untuk berkunjung ke House of Sampoerna. Ini adalah museum rokok dari perusaan rokok teranyar yang berada di ibukota Jawa Timur, Surabaya. Rokok memang dapat membunuhmu, tapi ia juga memberi penghidupan bagi buruh pabrik yang bekerja meracik tembakau. Bagi saya, hal-hal yang kontradiksi bukan menjadi alasan untuk antipati terhadapnya. Karena akan selalu ada dua sisi untuk melihat segala sesuatu.

Berbicara mengenai Surabaya, saya semacam kehabiskan ide untuk mencari destinasi wisata di sini. Orang-orang merekomendasikan kuliner sajalah, di sini nggak ada apa-apa. Tapi bagi saya pasti ada sesuatu yang terselip, ya seperti House of Sampoerna ini. Kunjungan ke sini sebenarnya reaksi akibat transit beberapa jam di Surabaya sebelum melanjutkan penerbangan ke Lombok. Karena saya dan teman tidak ingin mati gaya menunggu di Juanda International Airport, kami merancangkan kunjungan singkat di kota ini.

Ada dua misi yang kami emban. Pertama, mau makan rawon depan hotel JW Marriot yang katanya kondang itu. Menurut saya sih rasanya biasa saja, maaf kawan, selera saya sering berbeda dari kebanyakan orang. Bagi saya lebih enak Rawon Nguling yang dicicipi dekat Probolinggo, saat mengarah ke Desa Cemoro Lawang dekat Bromo. Kemudian misi kedua yaitu mengunjungi House of Sampoerna yang menjadi museum rokok yang namanya sudah menggema ke mana-mana.

Label museum selalu menjadi daya tarik bagi saya. Makin menarik ketika yang disajikan adalah sesuatu yang tak biasa dari yang lazimnya saya saksikan ketika mengunjungi museum. House of Sampoerna tidak perkara memaparkan rokok tapi lebih kepada bagaimana perusahaan Sampoerna bisa berdiri cukup sempurna hingga saat ini. Menjadi salah satu produsen rokok terbesar di nusantara. Bagaimana perkembangannya bisa menjangkau banyak wilayah dan banyak pihak.

House of Sampoerna sendiri terletak di kawasan Kota Tua Surabaya, masih satu bangunan dengan pabrikannya. Dari pelatarannya saja tidak terlihat aktivitas pabrik pada lazimnya. Tampilannya nyaris menipu dengan pintu berkaca patri dengan warna merah yang cukup menarik mata. Sekitarannya cukup tenang, padahal tak jauh dari situ merupakan jalan raya yang padat kendaraan. Sempat celingak-celinguk mencari di mana ya petunjuk yang menjelaskan, namun insting saya berkata untuk melihat di balik pintu berpatri mosaik tersebut.

Melangkah melewati pintu kayu langsung disambut hawa sejuk dari pendingin ruangan. Aah, wuenak tenan! Mata pun langsung memeriksa sekitar untuk meyakinkan saya berada di ruangan yang tepat. Di bagian muka House of Sampoerna disambut petugas yang mempersilakan pengunjung untuk menikmati atraksi museum, tapi dengan satu syarat. Si mbak mengingatkan agar saya tidak boleh mengabadikan momen dalam bentuk apapun jika berada di lantai 2. Saya penasaran, memangnya ada apa di atas sana? Ini kan cuma museum yang memperkenalkan popularitas sebuah perusahaan rokok, memangnya ada sesuatu yang mesti “ditutupi”? Rasa penasaran saya berlalu sekejab ketika kaki mulai menelusuri sudut demi sudut museum ini.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pintu berkaca patri yang menjadi ciri khas House of Sampoerna.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Penampakan ruangan selepas pintu masuk.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Menuju ruang pamer museum.

Dalam bangunan bergaya kolonial yang dibangun sekitar tahun 1862, awalnya bangunan ini digunakan sebagai panti asuhan yang dikelola oleh Belanda saat itu. Kemudian di tahun 1932 dibeli oleh Liem Seeng Tee, pendiri dari Sampoerna. Ia ingin menjadikan bangunan tersebut sebagai tempat utama untuk memproduksi rokok. Pada awalnya ada beberapa bagian dari bangunan ini. Beberapa masih bisa kita ditemui, walaupun sudah berubah fungsi. Seperti auditorium utama yang kini disulap menjadi museum dan toko suvenir. Sedangkan sisi timur sudah diubah menjadi kafe dan galeri seni. Sedangkan di bagian barat menjadi tempat kediaman keluarga.

Museumnya sendiri menawarkan satu pengalaman yang cukup menarik bagi pengunjungnya. Di sini kita akan menemukan bagaimana keluarga ini merintis dan mempertahanan bisnis rokok turun-temurun hingga beberapa generasi. Di sini terpampang replika warung sederhana yang dulunya dibuat Liem Seeng Tee dan istrinya di awal-awal usaha mereka. Juga barang-barang personal yang dulu digunakan mereka, seperti sepeda ontel, kebaya, hingga mobil Packard 300 V8. Kita juga bisa menyaksikan bagaimana sistem produksi yang berlangsung. Tapi yang paling mengagumkan sih ada di lantai dua, yang sudah diwanti-wanti untuk tidak diabadikan oleh kamera.

Jadi selepas mengitari berbagai pajangan museum yang kebanyakan berisi foto dan beberapa penjelasan mengenai bisnis yang dimiliki keluarga Sampoerna ini, saya menuju lantai dua yang mempertunjukkan sedikit rahasia dari pabrik rokok ini. Ada satu ruangan kaca di satu sisi. Di dalamnya terdapat beberapa pekerja wanita, tidak lebih dari sepuluh orang. Mereka duduk tanpa sandaran, dengan meja di depannya. Kejadian selanjutnya bikin saya terpana, lebih tepatnya terkagum-kagum. Karena di situ para pekerja wanitanya sibuk melinting tembakau dalam waktu belasan detik saja. Begitu cepat.

Saya tak bergeser sedikit pun. Saking kagumnya dengan kemampuan mereka yang bisa menyiapkan sebungkus rokok dalam hitungan menit, kurang dari 5 menit. Kalau ingin yang lebih masif, bisa geser ke sisi lain. Ada kaca besar yang menjadi pembatas antara saya dengan 400 pekerja wanita yang duduk di bawah sana. Dari kejauhan bisa melihat pekerja-pekerja ini sibuk melinting rokok. Diketahui mereka bisa melinting sebanyak 325 rokok dalam waktu satu jam saja. Kalau dihitung secara matematika. 1 jam = 3.600 detik. Berarti satu rokok berhasil dilinting dalam kurun waktu 3.600:325 = 11.0770 detik. Saya bulatkan jadi 12 detik. Wow! Ya mereka memang sudah terbiasa sih, tapi tetap saja. Sebagai orang awam ini adalah hal yang cukup menakjubkan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kebanyakan pajangan-pajangan foto yang dipamerkan di ruang museum.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Museum ditata cukup apik sehingga memberi visualisasi baik bagi pengunjung.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Plakat desain untuk bungkus rokok.

Selain wahana museum, House of Sampoerna juga memiliki Art Gallery. Di sini ada beberapa karya seni yang dipajang secara rotasi. Galeri seni ini juga kerap menjadi media untuk memperkenalkan seniman bertalenta dengan cara memajang hasil karyanya. Di lantai dua museum juga terdapat toko suvenir. Bisa sekalian mencari oleh-oleh seperti batik, buku, kerajinan tangan, kaos yang bertema Surabaya. Seusai menikmati semua itu, bisa mampir untuk duduk-duduk santai di kafetaria milik House of Sampoerna. Hidangan ala Western juga Asia bisa kalian nikmati, sembari mengagumi penataan dan desain ruangan yang cantik dengan detail-detail menarik. Homey banget sih!

Jadi kalau masih bingung dengan pilihan destinasi di Kota Pahlawan, monggo bisa mampir di House of Sampoerna. Sedikit kunjungan yang menambah wawasan dan membuka wacana mengenai industri rokok bukanlah ide yang buruk.

 

Notes:

House of Sampoerna dibuka untuk umum kecuali 25-26 Juni dan tidak dikenakan biaya masuk.

Jam buka: 27 Mei-24 Juni

Senin-Jumat

Museum, shop dan gallery 09:00-17:00, Café 12:00-20:00

Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional

Museum, shop dan gallery 09:00-18:00, Café 10:00-18:00

 

House of Sampoerna

Taman Sampoerna 6

Surabaya – Indonesia

Tel: 031-353 9000

http://houseofsampoerna.museum

 

-PJLP-

Advertisements

2 thoughts on “House of Sampoerna

  1. saya pun bukan seorang perokok, tapi jika ada kesempatan mengunjungi tempat ini tentu akan senang sekali, bagaimanapun juga ada sejarah panjang mengenai rokok terutama tembakau di Indonesia

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s