Train Trip to Nam Tok

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Salah satu train trip menyenangkan di Thailand.

Yuhuuu,

Saya menghilang terlalu lama ya, maafkan atas hidup yang memberi banyak kejutan hanya dalam kedipan mata. Excuse my curcol! Sesungguhnya saya punya banyak cerita perjalanan dan tempat wisata yang ingin dibagi, tapi ada satu yang saya pikirkan untuk segera ditulis di lembar maya ini, bahkan ketika saya sedang mengunjunginya.

Namanya Hellfire Pass, terletak di Kota Nam Tok di Thailand. Mungkin sebagian lebih familiar dengan Bangkok, Pattaya, Phuket, Chiang Mai, makanya saya ingin memperkenalkan Nam Tok, satu destinasi di Thailand bagian barat daya yang punya kisah sejarah kelam di era Perang Dunia. Maaf kalau kisah kali ini bukanlah sesuatu yang membawa perasaan sukacita. Berbicara sejarah, khususnya kejadian seputar Perang Dunia bukanlah topik menarik untuk dikupas panjang dan lebar. Tapi sejarah hadir untuk kelangsungan masa sekarang dan depan. Untuk itu kita perlu menghargai dengan menghayatinya, walau barang sesaat.

Saya awali cerita ini dengan perjalanan menuju Nam Tok. Jauh sebelum menaiki kereta pagi dari Bangkok. Jadi sebenarnya tidak ada niatan untuk mengunjungi Nam Tok. Tapi waktu tahu saya akan menghabiskan sekitar 10 hari di Thailand, mulailah mencari-cari kota-kota terdekat yang bisa dikunjungi. Bangkok sudah pasti. Ayutthaya masuk dalam rencana, walau akhirnya batal ke sana karena terlanjur jatuh cinta dengan kota lain. Kota itu adalah Kanchanaburi.

Setelah masuk-keluar blog orang, saya penasaran dengan Kanchanaburi. Highlight destinations di sana ada Erawan National Park dengan air terjunnya yang cantik dan bertingkat tujuh. Ada pula beberapa wat dan museum yang wajib untuk dikunjungi juga. Eh, akibat terlalu eksplor mengenai Kanchanaburi, saya menemukan Nam Tok, kota dekat Kanchanaburi yang jaraknya hanya dua jam naik kereta api atau sejam menggunakan kendaraan bermotor.

Dari internet saya mengetahui Hellfire Pass yang menjadi salah satu petaka terbesar zaman perang dahulu kala. Saya tidak mengetahui secuil fakta apapun mengenai Hellfire Pass sampai menonton film The Railway Man yang diperankan Colin Firth dan Nicole Kidman. Tanpa pikir panjang saya dan Kristi (partner jalan saya untuk Thailand trip kali ini) memutuskan untuk melakukan day trip ke Nam Tok sebelum stay di Kanchanaburi.

20170409_063455
Suasana Bangkok dengan Chao Phraya River di pagi hari.
20170409_071511
Thon Buri Station.
20170409_072527
Lebih banyak penumpang dari penduduk lokal.
20170409_070826
Tiket Bangkok-Namtok seharga 100 Baht.

Jadi tibalah hari yang dinanti. Jam enam pagi sudah siap di Tha Sathorn Pier menanti Chao Phraya Express Boat yang orange flag menuju Wang Lang (Pier N10). Cukup bayar 35 Baht saja sudah tiba di pier yang dituju. Suasana Chao Phraya River pagi-pagi betul-betul menyenangkan dan damai. Nggak riweh seperti di siang hari. Dari Pier N10 saya naik tuk-tuk menuju Stasiun Thon Buri dengan bayaran 100 Baht saja. Jauh lebih murah ketimbang naik Grab Car dari Saphan Taksin menuju stasiun. Terus ada yang tanya, kok bukan dari Stasiun Hua Lamphong? Karena Hua Lamphong dikhususkan untuk keberangkatan rute-rute ke selatan Thailand.

Penampakan Thon Buri kecil saja, semacam stasiun di kota-kota kecil di Pulau Jawa. Peron yang tersedia cuma dua. Para penumpang dominan merupakan warga lokal. Saya hanya menemukan sepasang turis asing yang juga sedang menunggu kereta dengan rute sama. Untuk pembelian tiket langsung di loket di hari keberangkatan. Harga tiket cuma 100 Baht aja, kalau dikalkulasikan dalam Rupiah, harganya sekitar Rp40.000 saja. Murah banget. Ada beberapa waktu keberangkatan yang tersedia, saya memilih yang paling pagi, yaitu pukul 07:50.

Bentuk dan rupa keretanya persis seperti yang pernah saya naiki waktu dari Bangkok menuju Arranyaprathet, kota di perbatasan Thailand-Kamboja. Tidak ada nomor kursi, siapa cepat bisa dapat duduk di kursi terbaik. Ada dua jenis, kursi menggunakan busa dan kursi kayu. Tidak ada AC tapi ada kipas angin, semua gerbong kelas tiga. Semua jendela terbuka, sehingga kalian tidak perlu mengkhawatirkan perihal sirkulasi udara.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Suasana di dalam kereta api.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Salah satu stasiun kecil yang disinggahi.
20170409_102113
Camilan roti tawar dengan susu kental manis. Belinya di 7/11.
20170409_104609
Kanchanaburi Station.

Sepanjang jalan ada beberapa penjaja makanan yang berdagang. Kebanyakan camilan. Tapi saya tidak tertarik untuk beli karena sudah sarapan paket nasi instan yang dibeli semalam sebelumnya di 7/11. Di kereta pun sudah menyiapkan roti sebagai snack kalau lapar di tengah jalan. Anaknya prepare banget kalau soal makanan. Pokoknya jangan sampai perut kosong! Padahal nggak ada riwayat penyakit maag. Emang nggak pengen kelaparan aja.

Perjalanannya Bangkok – Nam Tok termasuk menyenangkan. Walaupun hawa panas matahari jam 9 pagi sama seperti matahari bersinar di tengah hari, tapi pemandangan sepanjang jalan begitu sayang untuk dilewatkan tanpa membidiknya dengan kamera. Rute Bangkok-Namtok dengan jarak sekitar 135 km punya pemandangan hampir serupa kalau kita naik kereta ke kota-kota di Jawa. Wajah Thailand ditawarkan melalui perkebunan hijau, rimbunnya pepohonan, sawah di kiri-kanan, plus warna langit yang membiru menjadi lukisan alam yang tersaji sepanjang lima jam perjalanan. Terbilang lama karena kereta banyak berhenti di stasiun-stasiun kecil.

Oh ya, pastikan kalian duduk di sebelah kiri kalau bertolak dari Bangkok. Karena di sisi ini akan lebih banyak menyajikan pemandangan khas yang menjadi daya tarik dari rute ini. Khususnya begitu mendekati Kota Kanchanaburi. Mendekati Kanchanaburi sisi kiri kereta akan melewati aliran sungai yang nantinya akan memperlihatkan bangunan Wampo Viaduct yang menjadi bagian dari sejarah Kanchanaburi. Ini adalah satu bangunan sejarah yang turut dibangun oleh para tahanan Jepang saat itu. Ya ini masih terkait dengan Hellfire Pass. Beberapa saat setelahnya kita akan disuguhi momen melintasi River Kwai Bridge, ini menjadi jembatan dengan sejarah kelam karena banyak korban jiwa yang dibutuhkan ketika membangunnya.

Sembari melewati Sungai Kwai (River Kwai), kita bisa melihat jembatan besi yang sudah mengalami revitalisasi sehingga nampak apik. Kereta sengaja dijalankan dalam kecepatan sangat rendah, dengan maksud agar para penumpang bisa leluasa menikmati pemandangan dan kurang goncangan ketika ingin memotret. Alasan lain karena jalur kereta sepanjang jembatan bisa dilewati pejalan kaki. Makanya mau tak mau kereta sengaja dijalankan lambat. Jadi banyak turis yang sengaja napak tilas sejarah dengan berjalan kaki sepanjang jembatan yang masih menjadi bagian dari jalur kereta api.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pemandangan sepanjang jalan yang menyajikan perkebunan rakyat.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Mendekati River Kwai Bridge.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
River Kwai.
20170409_124125
Finally arrived in Nam Tok.

Setelah sibuk foto sana-sini, saya habiskan satu setengah jam terakhir dengan duduk sambil mendengarkan musik saja. Terlalu enggan untuk sibuk melihat dari viewfinder kamera. Akhirnya kereta tiba juga di Nam Tok. Stasiunnya sendiri lebih kecil dari Thon Buri. Hanya ada satu peron. Kereta yang saya naiki akan kembali lagi ke arah Bangkok. Saya dan Kristi tak punya informasi banyak mengenai transportasi yang akan kami gunakan untuk mencapai Hellfire. Di depan stasiun memang ada beberapa tuk-tuk serupa angkot yang dinaiki orang-orang lokal. Tapi karena panas, karena lapar, karena kebelet kencing, kami semacam mati gaya. Tidak beranjak untuk tanya-tanya. Sedikit blank.

Bagi saya perut mesti diisi dulu sebelum bergerak, sebelum memutuskan sesuatu. Thank God ada beberapa rumah makan yang tidak terlalu sederhana, tapi tak mewah juga berjajar depan stasiun. Semua terlihat sama, makanya kami pilih yang paling kelihatan nyaman dan ada kipas anginnya. Panas banget deh! Untuk menunya sendiri standar aja, nasi goreng, mie goreng, ada juga makanan Thailand. Harganya tidak murah tapi masih standarlah. Nggak lebih dari 100 Baht.

Untungnya kami makan dulu. Karena dari tempat kami makan bisa sewa mobil untuk minta diantarkan ke Hellfire kemudian mampir di air terjun dan diantarkan ke hostel di Kanchanaburi. Setelah tawar-menawar yang alot, kami mesti membayar 1.500 Baht untuk semua servis. Yang lumayan memang, tapi saat itu sudah tidak ada opsi lain. Tak ada kereta yang bisa mengantarkan kami ke Kanchanaburi. Lagian, lebih praktis kalau sudah sewa all-in hingga hostel. Setelah sepakat di angka 1.500, setelah selesai makan dan membayar tagihan, setelah menyelesaikan urusan “pembuangan” di kamar kecil, let’s hit the road! Nam Tok, kami datang!

The story still continued…

 

 

-PJLP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s